Sama seperti pemeriksaan kesehatan yang dilakukan secara berkala, kondisi keuangan juga memerlukan evaluasi rutin. Langkah ini penting untuk mengetahui apakah tabungan, investasi, dana darurat, hingga perlindungan finansial masih memadai dalam menghadapi berbagai risiko di masa mendatang.
Baca juga: Masih Sering Bingung Uang Habis ke Mana? Coba Terapkan Cara Ini
Urgensi melakukan financial check-up juga tercermin dari meningkatnya biaya kesehatan. Allianz Indonesia mencatat pembayaran klaim sebesar Rp1,8 triliun sepanjang Januari-Juni 2026 atau naik 4,17 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Klaim terbesar berasal dari kasus kanker payudara, diare, infeksi saluran pernapasan atas, penebalan dinding arteri jantung, serta infeksi bakteri.
Chief Investment Officer Allianz Life Indonesia, Ni Made Daryanti, mengatakan risiko kesehatan tidak hanya berdampak pada kondisi fisik, tetapi juga dapat mengganggu stabilitas keuangan apabila seseorang belum memiliki perencanaan yang matang.
"Perencanaan keuangan bukan hanya soal mengembangkan aset melalui tabungan atau investasi, tetapi juga memastikan aset tersebut tetap terlindungi ketika risiko datang. Financial check-up membantu kita menilai kembali apakah dana darurat, perlindungan kesehatan, dan target keuangan masih sesuai dengan kondisi saat ini," ujar Ni Made.
Menurutnya, evaluasi keuangan tidak cukup hanya melihat perkembangan investasi atau besarnya tabungan. Rasio utang, kesiapan dana darurat, hingga kecukupan perlindungan kesehatan juga perlu diperiksa agar tujuan keuangan jangka panjang tetap dapat dicapai.
Allianz Indonesia membagikan lima langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengecek kesehatan finansial di pertengahan tahun.
Pertama, pastikan dana darurat masih memadai. Idealnya dana darurat setara tiga hingga enam kali pengeluaran bulanan. Jika sempat digunakan, segera susun rencana untuk mengisinya kembali agar tetap siap menghadapi kondisi yang tidak terduga.
Kedua, identifikasi pengeluaran yang tidak diperlukan. Periksa mutasi rekening atau transaksi kartu kredit selama beberapa bulan terakhir. Langkah ini membantu menemukan kebiasaan belanja yang kurang produktif, seperti langganan digital yang tidak lagi digunakan atau pengeluaran konsumtif yang berlebihan.
Ketiga, evaluasi beban cicilan. Total angsuran bulanan sebaiknya tidak melebihi sekitar 30 persen dari pendapatan bersih agar masih tersedia ruang untuk menabung, berinvestasi, dan memenuhi kebutuhan mendadak.
Keempat, tinjau kembali perlindungan kesehatan. Pastikan manfaat asuransi yang dimiliki masih sesuai dengan kebutuhan. Perlindungan yang memadai dapat mencegah dana darurat maupun investasi terkuras ketika biaya pengobatan meningkat.
Kelima, sesuaikan target keuangan jika diperlukan. Kondisi ekonomi maupun prioritas keluarga dapat berubah sepanjang tahun. Karena itu, target menabung dan berinvestasi perlu dievaluasi agar tetap realistis tanpa mengabaikan tujuan keuangan jangka panjang.
Ni Made menegaskan, financial check-up sebaiknya menjadi kebiasaan yang dilakukan secara berkala. Dengan fondasi keuangan yang kuat dan perlindungan yang memadai, masyarakat akan lebih siap menghadapi berbagai risiko tanpa harus mengorbankan rencana finansial yang telah disusun.
"Seperti halnya kita tidak menunggu sakit untuk mulai menjaga kesehatan, kita juga tidak perlu menunggu masalah keuangan datang untuk mulai mengevaluasi kondisi finansial. Pemeriksaan keuangan secara rutin akan membantu menjaga ketahanan finansial dalam jangka panjang," tutup Ni Made.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(SAW)






Komentar (0)