NEGERI ini lucu, penuh kisah-kisah menarik. Jika penulis boleh bertanya, apa persamaan antara Presiden Soeharto dan Presiden Prabowo? Maka jawabannya; banyak.
Mulai dari sama-sama tentara, hingga akhirnya sama-sama presiden. Tapi ada satu hal yang mungkin luput dari pemberitaan media massa dan perhatian para pengamat; keduanya suka mengeluarkan istilah-istilah unik nan menggelitik.
Jika pada satu masa ketika berkuasa sepanjang 1966-1998, Pak Harto—singkatan dan karib panggilan dari Presiden Soeharto—pernah mengeluarkan istilah setan gundul, maka baru-baru ini Presiden Prabowo mengeluarkan istilah eksentrik dan menggelitik ketika didengar oleh telinga publik; londo ireng.
Publik tentu penasaran apa yang dimaksud dengan istilah londo ireng.
Yang lebih membuat penasaran lagi adalah pertanyaan di benak warga republik yang pernah hidup di zaman Orde Baru ketika Pak Harto memimpin;
Siapa yang lebih menyeramkan antara setan gundul dan londo ireng?
Pertanyaan ini memang terkesan konyol dan serupa candaan, tapi; memiliki unsur satir dan ajakan kontemplasi yang mendalam.
“Londo-londo ireng ini sampai sekarang masih ada. Hanya dia sekarang pakai baju lain. Wartawan, jurnalis, apa itu, pengamat, LSM”, demikian pernyataan Presiden Prabowo dalam perhelatan harlah sebuah partai politik.
Pernyataan ini menarik untuk disimak. Ia menjadi refleksi kebatinan presiden—kegusaran, dan mungkin kemarahan—sekaligus pencermatan politik presiden selama ini secara tidak langsung terpantik dan terlempar melalui sebuah pernyataan.
Publik akhirnya menangkap dengan bergemuruh dan memberikan banyak interpretasi dari berbagai sudut pandang.
Baca juga: Kelas Menengah Menyusut dan Ancaman Konsumsi Domestik
Tapi jika hendak menarik simpul besar, pernyataan tersebut jelas merupakan sebuah kiasan politik menyebut orang-orang Indonesia yang lebih mengutamakan kepentingan asing ketimbang kepentingan nasional negara sendiri.
Sejarah Indonesia di masa kolonialisme Belanda dan Jepang menyebutkan secara tertulis dan tidak tertulis bahwa kelompok ini benar-benar ada; mereka eksis.
Jika kita menarik garis waktu lebih ke belakang, tampaknya Presiden Prabowo berpikir sangat keras mencari istilah lain untuk tidak menyebut istilah antek asing yang selama ini masif ia gunakan. Bukankah sama maknanya antara antek asing dan londo ireng?
Jangan Bungkam Suara KritisKita, sebagai publik yang melihat, mendengar, dan menyimak pernyataan Presiden boleh saja menyikapinya dengan pikiran positif.
Pernyataan tersebut boleh jadi sebagai cermin komitmen gigih Presiden dalam menegakkan kemandirian sekaligus kedaulatan nasional.






Komentar (0)