Kemajuan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) telah membawa perubahan besar dalam dunia kerja beberapa tahun terakhir. Awalnya, teknologi ini hanya digunakan untuk membantu analisis data, tetapi kini telah berkembang pesat, mulai dari menulis dokumen, membuat gambar, menyusun kode pemograman, menerjemahkan bahasa, hingga membantu pengambilan keputusan.
Namun, di balik perkembangan itu, muncul perubahan yang jauh lebih besar. Bukan hanya pekerjaan baru yang lahir, tetapi juga cara bekerja di hampir semua sektor mulai bergeser. Sebab, kehadiran AI telah menciptakan banyak inovasi penting, seperti konten generatif, asisten virtual pintar, hingga sistem otomatisasi industri.
Laporan Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) memperkirakan, hingga 2030 akan terjadi transformasi besar pada pasar tenaga kerja global. Diperkirakan sekitar 170 juta pekerjaan baru diproyeksikan tercipta, sementara sekitar 92 juta pekerjaan lainnya berpotensi tergeser akibat kombinasi AI, otomatisasi, dan perubahan ekonomi. Meski demikian, hasil akhirnya tetap berupa pertumbuhan bersih sekitar 78 juta pekerjaan baru secara global.
Berbagai penelitian lain juga menunjukkan AI akan lebih banyak mengambil alih tugas-tugas yang bersifat repetitif, administratif, dan mudah diotomatisasi. Pekerjaan administratif, seperti pengolahan data, penyusunan laporan, pengelolaan dokumen, hingga pembuatan ringkasan, semakin banyak dilakukan oleh perangkat lunak cerdas yang mampu bekerja lebih cepat, akurat, dan efisien. Teknologi, seperti AI Office Suite, Microsoft Copilot, dan Google Duet AI telah memperkenalkan fitur otomatisasi yang menggantikan sebagian besar tugas rutin di lingkungan perkantoran.
Bahkan, di berbagai perusahaan, AI juga mulai diposisikan sebagai ”co-pilot” atau pendamping kerja. Pegawai menggunakan AI untuk mencari informasi, membuat presentasi, menyusun e-mail, menganalisis data, hingga membantu pemrograman. Dengan demikian, produktivitas meningkat tanpa harus menghilangkan peran manusia dalam proses pengambilan keputusan.
Fenomena di dunia kerja tersebut semakin menunjukkan pergeseran peran manusia dari sekadar pelaksana teknis menjadi pengelola sistem dan pengambil keputusan strategis. Dengan berkurangnya kebutuhan tenaga kerja administratif manual, perusahaan akan lebih fokus pada peningkatan kreativitas, inovasi, serta analisis berbasis data untuk mendukung pertumbuhan bisnis.
Meskipun sebagian pekerjaan berkurang, kemajuan AI diprediksi akan melahirkan berbagai profesi baru yang sebelumnya belum pernah ada. Salah satu contohnya adalah profesi prompt engineer, yaitu orang yang bertugas menyusun instruksi agar AI menghasilkan jawaban atau karya sesuai kebutuhan pengguna.
Dengan perkembangan tersebut, sejauh mana perkembangan penggunaan AI di Indonesia dan apa dampaknya terhadap pekerja di Indonesia?
Potret penggunaan AI di Tanah Air terekam jelas dalam Survei Penetrasi Internet dan Perilaku Pengguna Internet Indonesia 2026 yang diselenggarakan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). Penggunaan AI kini semakin banyak digunakan masyarakat khususnya di Indonesia untuk berbagai kebutuhan, mulai dari hiburan hingga produktivitas kerja.
Berdasarkan hasil survei tersebut, sebanyak 18,2 persen responden mengaku telah mengakses layanan AI pada 2026. Angka ini menunjukkan, adopsi AI mulai tumbuh di kalangan pengguna internet Indonesia meski mayoritas masyarakat (81,8 persen) masih belum menggunakan teknologi tersebut.
Survei APJII juga mencatat, Generasi Z berusia 13-28 tahun menjadi kelompok yang paling aktif memanfaatkan AI, dengan 29,4 persen responden mengaku menggunakan teknologi tersebut. Disusul generasi milenial (29-44 tahun) sebesar 16,7 persen, Gen X (45-60 tahun) sebesar 7,5 persen, sedangkan baby boomers (61-79 tahun) dan pre boomers (80 tahun ke atas) masing-masing hanya 0,8 persen.
Berdasarkan jender, penggunaan AI lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan perempuan. Sebanyak 19,7 persen responden laki-laki mengaku menggunakan AI, sedangkan perempuan sebesar 16,7 persen. Adapun responden yang belum memanfaatkan AI mencapai 80,3 persen pada laki-laki dan 83,3 persen pada perempuan.
Dari sisi pemanfaatannya, AI paling banyak dimanfaatkan untuk hiburan, seperti membuat video atau gambar generatif seperti dinyatakan oleh 36,5 persen pengguna AI. Sementara penggunaan AI untuk edukasi dan riset, seperti chatbot dan ringkasan akademik, menempati urutan kedua dengan persentase 30,2 persen.
Urutan berikutnya sebanyak 26,9 persen responden menggunakan AI untuk pekerjaan dan produktivitas, seperti penulisan otomatis, copywriting, dan analisis data. Sementara penggunaan AI sebagai asisten digital suara atau perintah, seperti Siri, Google Assistant, dan Bixby, tercatat sebesar 6,4 persen.
Penggunaan AI untuk pekerjaan dan produktivitas tercatat sebesar 27 persen pada perempuan dan 16,7 persen pada laki-laki. Adapun penggunaan AI sebagai asisten digital mencapai 6,4 persen pada perempuan dan 2,1 persen pada laki-laki.
Selain itu, APJII menemukan tingkat literasi masih menjadi tantangan utama dalam implementasi teknologi AI. Alasan terbesar masyarakat belum menggunakan AI, karena tidak mengetahui teknologi tersebut. Persentasenya mencapai 46,6 persen pada 2026, meningkat dibandingkan 35,5 persen pada tahun sebelumnya. Sebanyak 22,7 persen responden mengaku tidak merasa membutuhkan layanan AI. Sebanyak 15,5 persen lainnya menyatakan tidak mengetahui cara menggunakan AI.
Sementara itu, sebagian kecil responden mengaku belum menemukan layanan AI yang menarik, merasa AI sulit digunakan, khawatir terhadap privasi dan keamanan data, atau belum memiliki perangkat dan akses teknologi yang memadai.
Seiring peningkatan penggunaan AI tersebut, Indonesia tercatat pula sebagai salah satu negara dengan tingkat adopsi AI paling tinggi di Asia. Laporan Work Trend Index 2026 yang dirilis Microsoft menyebut, sebanyak 33 persen pekerja di Indonesia telah masuk kategori Frontier Professionals atau pengguna AI tingkat lanjut, lebih dari dua kali lipat dari rata-rata global yang hanya mencapai 16 persen.
Penggunaan AI di kalangan pekerja Indonesia mulai bergeser dari sekadar membantu menyelesaikan tugas administratif menjadi alat untuk meningkatkan kualitas analisis, mempercepat pengembangan ide, hingga menghasilkan pekerjaan yang lebih kompleks.
Laporan tersebut juga mencatat dampak AI terhadap produktivitas mulai dirasakan pekerja. Sebanyak 72 persen responden di Indonesia mengaku mampu menghasilkan pekerjaan yang tidak dapat mereka buat satu tahun lalu, melampaui rata-rata global sebesar 58 persen. Di kalangan frontier professionals, angkanya bahkan mencapai 82 persen. Angka ini menunjukkan pemanfaatan AI berkorelasi dengan kemampuan menghasilkan nilai kerja yang lebih tinggi.
Meski adopsi AI meningkat pesat, laporan tersebut menunjukkan, pekerja Indonesia tetap menempatkan peran manusia sebagai faktor utama dalam pengambilan keputusan. Sebanyak 62 persen responden menilai kemampuan berpikir kritis menjadi keterampilan yang semakin penting di era AI, lebih tinggi dibandingkan rata-rata global sebesar 46 persen. Selain itu, 60 persen responden menilai kendali kualitas terhadap hasil yang dihasilkan AI menjadi prioritas, dibandingkan rata-rata global 50 persen.
Sementara itu, laporan bertajuk Micro-Credentials Impact Report 2026 menyebut sebesar 21,8 persen pekerjaan di Indonesia telah terdampak oleh GenAI. Ini menempatkan Indonesia di posisi kedua di ASEAN. Lebih rinci, 18,5 persen pekerjaan dari total persentase akan berubah, dan hanya membutuhkan peningkatan keterampilan (upskilling). Namun, 3,3 persen sisanya berisiko tinggi digantikan oleh GenAI.
Seiring peningkatan penggunaan AI tersebut, fenomena AI di Tanah Air kini telah menjadi realitas harian di perkantoran, pabrik, hingga sektor jasa kreatif Indonesia. Kondisi ini tentunya bisa berpengaruh pada struktur tenaga kerja ke depan.
Jika mencermati data ketenagakerjaan dari Badan Pusat Statistik atau BPS dalam lima tahun terakhir, ada tren yang menarik yang bisa dicermati. Di satu sisi, tingkat pengangguran terbuka (TPT) secara makro tercatat mengalami penurunan hingga 4,58 persen pada pertengahan 2026. Namun, di sisi lain, persentase pekerja yang tugas utamanya mengalami substitusi atau redefinisi oleh AI justru melonjak dari 1,20 persen (2022) menjadi 7,10 persen (2026).
Peningkatan penggunaan AI tersebut bisa menciptakan pergeseran ganda di pasar kerja. Di satu sisi, muncul tantangan dan ancaman terhadap pekerjaan berbasis rutinitas kognitif, sementara di sisi lain ada kebutuhan keterampilan baru.
Mencermati lebih jauh, gelombang AI tampaknya akan lebih menyasar level pekerja kerah putih, seperti posisi penerjemah, pemogram kode tingkat awal, layanan pelanggan, hingga analis data tingkat dasar. Pekerjaan mereka tampaknya paling cepat tergantikan oleh efisiensi sistem AI. Sementara itu, pekerja yang mampu menguasai rekayasa perintah (prompt engineering), manajemen data, etika AI, serta integrasi sistem justru mengalami lonjakan permintaan.
Fenomena tersebut bisa memunculkan paradoks di tingkat nasional. Pasalnya, ribuan tenaga kerja akan bisa kehilangan posisi formalnya akibat efisiensi AI. Kondisi ini bisa membuat mereka beralih pekerjaan ke sektor informal atau pekerjaan serabutan (gig economy). Hal ini menjelaskan mengapa proporsi pekerja informal di Indonesia masih terhitung tinggi di angka 57,80 persen pada 2026.
Untuk itu, agar gelombang AI tidak menciptakan jurang ketimpangan baru di Indonesia, pemerintah, institusi pendidikan, dan pelaku industri perlu mengambil langkah strategis. Salah satunya, pemerintah bersama asosiasi industri bisa menyediakan insentif bagi para pekerja di sektor terdampak untuk mempelajari keterampilan baru berbasis teknologi IA sebelum mereka telanjur terkena pemutusan hubungan kerja atau PHK.
Sementara di sisi pendidikan, reformasi pendidikan perlu dilakukan dengan cara mengubah kurikulum yang lebih berorientasi ke masa depan. Literasi digital, analisis data, pemrograman, literasi AI, dan kemampuan berpikir kritis, bisa menjadi bagian penting dari sistem pendidikan. Selain itu, ekosistem inovasi di dalam negeri juga perlu diperkuat. Pemerintah perlu mendorong pertumbuhan perusahaan rintisan atau start up AI, pusat riset, serta kolaborasi antara universitas dan dunia usaha.
Akhirnya, kecerdasan buatan bukanlah ancaman yang harus ditakuti, melainkan cermin bagi peradaban manusia untuk terus naik kelas. Masa depan ketenagakerjaan Indonesia akan sangat ditentukan oleh seberapa siap kita mentransformasikan angkatan kerja menjadi manusia unggul yang mampu mengendalikan dan mengarahkan sang peniru cerdas tersebut.






Komentar (0)