Anak yang Kehilangan Bapak, Bangsa yang Kehilangan Martabat

kompas.com
1 jam lalu
Cover Berita

PEDIH rasanya melihat tangisan menyayat dari seorang anak perempuan yang menyambut kedatangan jenazah bapaknya yang tewas akibat pengeroyokan massa.

Ada yang salah dari bangsa ini yang kerap mengagung-agungkan keberadaban, tetapi pada saat yang sama tetap gemar melakukan tindak kebiadaban.

Kisah pilu yang terjadi di wilayah pedesaan di Tabanan, Bali, adalah potret kecil dari gambar besar wajah negeri ini.

Kemiskinan mudah membuat orang marah akibat hilangnya kepemilikan kecil. Namun, kebodohan membiarkan para elite tetap berkuasa dan merampok kekayaan negeri.

Peristiwa tersebut bukan sekadar tragedi kriminal. Tangisan seorang anak yang kehilangan bapaknya seharusnya mengguncang kesadaran kolektif bahwa ada sesuatu yang retak dalam fondasi kehidupan sosial kita.

Ketika sekelompok orang merasa berhak menentukan hidup dan matinya orang lain tanpa proses hukum, sesungguhnya yang sedang mati bukan hanya korban, melainkan juga prinsip-prinsip kemanusiaan dan negara hukum.

Ironisnya, tindakan semacam ini hampir selalu dibungkus dengan alasan moral. Tuduhan pencurian, dugaan pelaku kejahatan, atau kemarahan akibat kerugian sering dianggap cukup untuk membenarkan penghakiman di tempat.

Baca juga: Seekor Ayam, Wibawa Hukum, dan Peradaban

Massa berubah menjadi hakim sekaligus algojo. Dalam hitungan menit, seseorang kehilangan hak paling mendasar sebagai manusia: hak untuk diadili secara adil dan hak untuk tetap hidup.

Padahal, sejarah menunjukkan bahwa peradaban dibangun justru untuk menghentikan balas dendam pribadi.

Negara modern lahir melalui penyerahan sebagian hak individu kepada institusi hukum agar konflik tidak diselesaikan dengan kekuatan, melainkan melalui keadilan.

Ketika massa mengambil alih fungsi tersebut, sesungguhnya masyarakat sedang bergerak mundur menuju hukum rimba.

Dari Amarah Menjadi Kebiadaban

Sigmund Freud, dalam Civilization and Its Discontents (1930), menjelaskan bahwa di dalam diri manusia terdapat dua dorongan yang saling bertarung: Eros, dorongan untuk mencipta dan mempertahankan kehidupan, serta Thanatos, dorongan destruktif yang mengarah pada agresi dan kematian.

Peradaban dibangun untuk mengendalikan naluri agresif tersebut melalui norma, hukum, agama, dan pendidikan.

Namun, Freud juga mengingatkan bahwa pengendalian itu tidak pernah sempurna. Ketika kontrol sosial melemah, frustrasi ekonomi meningkat, dan emosi kolektif memperoleh pembenaran, dorongan destruktif yang semula ditekan dapat muncul secara eksplosif.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Dalam situasi kerumunan, individu kehilangan sebagian kemampuan berpikir rasional. Rasa bersalah menjadi kabur karena tanggung jawab tersebar kepada banyak orang. Kekerasan berubah menjadi tindakan yang terasa wajar hanya karena dilakukan bersama-sama.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Indonesia Raih Apresiasi Norwegia atas Keberhasilan Menurunkan Deforestasi Sejak 2015
• 15 jam lalu
0
thumb
WGSH Serah Terima Unit Rumah di Valley City
• 23 jam lalu
0
thumb
Komitmen Dukung Pemerintahan Prabowo-Gibran, Partai Berkarya Nusantara Berubah Nama Jadi Partai Berkarya Nasional
• 44 menit lalu
0
thumb
Trump Perintahkan Militer AS Hentikan Serangan Udara ke Iran
• 21 jam lalu
0
thumb
Ciri-Ciri Skincare Sudah Tidak Layak Pakai Meski Belum Kedaluwarsa
• 34 menit lalu
0
Berhasil disimpan.