Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara atau Danantara Indonesia tengah menggencarkan konsolidasi maskapai BUMN PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) dengan maskapai PT Pertamina, Pelita Air.
Sejalan dengan rencana konsolidasi, pada Kamis (23/7), Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, menggelar pertemuan bersama jajaran direksi Pelita untuk membahas arah penguatan holding maskapai nasional. Dony menjelaskan Garuda Indonesia nantinya akan menjadi holding maskapai BUMN, sementara Pelita akan bergabung sebagai bagian dari Garuda Group.
“Dengan konsolidasi ini, perusahaan-perusahaan tersebut akan memiliki kemampuan yang lebih kuat untuk bersaing dan menguasai pasar,” ujar Dony dalam keterangannya, dikutip Selasa (28/7).
Selain memperkuat struktur korporasi, Dony menilai industri penerbangan menuntut ketelitian tinggi dan pengambilan keputusan yang cepat dalam setiap aspek operasional agar kinerja perusahaan tetap optimal.
BP BUMN dan Danantara juga mendorong peningkatan standar layanan di seluruh ekosistem Garuda Group. Di antaranya pembenahan layanan sejak sebelum penerbangan (pre-flight), selama penerbangan (in-flight), hingga setelah penerbangan (post-flight).
Garuda Grup juga akan mengintegrasikan sistem penjualan tiket, meningkatkan kualitas lounge, pengalaman di dalam kabin, standar pelayanan awak pesawat, layanan katering, program loyalitas pelanggan, dan pengembangan sumber daya manusia (SDM).
“Industri yang membutuhkan ketelitian, harus dikelola day by day, minute by minute, adalah industri penerbangan. Begitu pesawat terbang, kita sudah bisa mengukur untung atau ruginya satu penerbangan, penting melakukan analisis terhadap setiap rute dan konektivitas,” ujar Dony.
Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata mengatakan masuknya Pelita Air ke dalam holding maskapai yang dipimpin Garuda merupakan katalis strategis positif. Aksi itu dinilai dapat memperbesar skala armada, jaringan rute, hingga efisiensi operasional. Namun, menurut Liza, aksi itu belum otomatis membuat Garuda menguasai pasar penerbangan nasional.
“Struktur yang direncanakan saat ini adalah holding, bukan merger langsung, dengan integrasi antara lain pada sistem tiket, layanan, dan program loyalitas,” kata Liza kepada Katadata.co.id, Senin (27/7).
Liza mengatakan fundamental Garuda mulai menunjukkan perbaikan. Pada kuartal I 2026, perseroan membukukan pendapatan sebesar US$ 762,35 juta, naik 5,36% secara tahunan (yoy). Di saat yang sama, rugi bersih menyusut 46,22% menjadi US$47,72 juta, meski Garuda masih belum mencatatkan laba.
Menurut Liza, suntikan modal dari Danantara mendukung perawatan dan reaktivasi armada pesawat. Meski begitu investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko yang masih membayangi GIAA, seperti kenaikan biaya avtur, fluktuasi nilai tukar rupiah, besarnya beban utang, dan kondisi arus kas perusahaan.
Liza merekomendasikan hold atau speculative buy untuk saham GIAA. Menurutnya, GIAA merupakan saham turnaround yang sedang memasuki fase bottoming dengan pola triangle. Ia juga melihat saham BUMN itu lebih tepat dikategorikan sebagai saham turnaround berisiko tinggi dibandingkan saham defensif.
“Make sure GIAA bisa break out ke Rp 56 dulu baru boleh buy atau average up, dengan target trading awal Rp 65–70,” kata Liza.
Lebih lanjut, Liza menilai prospek jangka panjang GIAA berpotensi membaik jika integrasi dengan Pelita Air mampu menciptakan sinergi dan perseroan berhasil mencetak laba dan arus kas positif secara konsisten. Meski katalisnya menarik, menurutnya eksekusi dan profitabilitas masih menjadi faktor utama.





Komentar (0)