Orangtua Siswa SDN Tanggirejo Ikut Kerja Bakti Perbaiki Sekolah, Ingin Anak Kembali Belajar di Kelas

kompas.id
7 jam lalu
Cover Berita

Setelah foto SD Negeri Tanggirejo, Kecamatan Tanggirejo, Kecamatan Tegowanu, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, yang ambruk viral, bantuan perbaikan yang telah ditunggu berbulan-bulan akhirnya tiba. Hal itu pun membuat para orangtua dan wali murid di sekolah tersebut tergerak untuk ”gugur gunung”, ambil bagian dalam perbaikan sekolah. Mereka berharap mimpi anak-anaknya kembali belajar di ruang kelas yang aman dan nyaman segera terwujud.

Hari masih pagi ketika belasan pria berjajar membentuk dua rantai manusia, menurunkan genteng-genteng dari atap salah satu ruang kelas menuju halaman di SDN Tanggirejo, Senin (27/7/2026). Satu per satu genteng-genteng itu berpindah dari telapak tangan satu ke telapak tangan yang lain, kemudian disusun melingkar di bawah pohon. 

Debu-debu yang beterbangan dari pucuk atap sesekali mengenai mata para orangtua atau wali murid SDN Tanggirejo itu. Sebagian yang masuk ke hidung juga menyebabkan mereka bersin-bersin. Namun, kondisi itu tampaknya tak menyurutkan semangat mereka. Seusai mengucek mata atau menggosok hidung, mereka langsung kembali melanjutkan pekerjaan.

Baca JugaSepiring Gizi dan Kelas yang Roboh

Keputusan para orangtua dan wali murid untuk membantu perbaikan sekolah anak mereka disebut datang dari obrolan di grup percakapan wali murid pada Sabtu (25/7/2026). Mereka sepakat untuk datang pada Senin, membantu penurunan genteng. Hal itu karena proses konstruksi ditangani langsung oleh kontraktor yang ditunjuk pemerintah.

Hartono (63), orangtua dari siswa kelas IV yang menjadi salah satu inisiator dalam kegiatan gotong royong itu mengatakan, para orangtua antusias dengan rencana perbaikan sekolah. Sebab, sudah enam bulan terakhir, anak-anak mereka memimpikan kembali belajar di ruang kelas yang nyaman.

”Dari tadi malam, saya sudah mengingatkan di grup, jangan lupa besok kerja bakti, kasihan anak-anak kita pada keleleran di emper-emper (teras). Terus tadi pagi saya kirim pesan lagi, ayo cepat berangkat supaya perbaikan sekolahnya cepat rampung dan anak-anak bisa kembali belajar dengan tenang,” kata Hartono, saat ditemui Senin.

Hartono tiba di sekolah pada pukul 07.30 WIB. Pria yang sehari-hari menjalankan usaha biro perjalanan itu sengaja meliburkan usahanya pada Senin demi ikut gotong royong.

Selama ini, anak Hartono sering mengeluh karena ia dan teman-temannya di kelas IV harus berbagi ruang dengan murid-murid kelas III. Mereka belajar di ruang yang sama dengan sekat berupa kayu dan tripleks. Situasi itu membuat suara guru ataupun murid dari kelas lain bercampur hingga memecah konsentrasi.

Setidaknya dalam tiga bulan terakhir, Hartono sudah dua kali bertanya kepada pihak sekolah mengenai kapan perbaikan bakal dilakukan. Namun, pihak sekolah menyebut bahwa mereka juga masih menunggu jawaban pemerintah setempat atas permohonan perbaikan yang mereka ajukan sejak Januari 2026 itu.

Pekan lalu, sebuah foto yang menunjukkan aktivitas anak-anak SDN Tanggirejo menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di depan ruang kelas yang roboh viral. Pemandangan seperti yang ada di foto itu disebut Hartono bukan hal baru. Para wali murid dan mayarakat yang melintas di depan sekolah itu bisa dipastikan pernah melihat pemandangan seperti itu selama beberapa bulan terakhir.

”Dari jalan raya sudah kelihatan, kok, kalau sekolahnya rusak. Walau saya cuma wali murid, saya juga ikut berpikir, kok tidak segera diperbaiki itu karena apa,” ucap Hartono.

Suparno (55), orangtua dari murid kelas VI, juga ikut dalam gotong royong pada Senin. Sama dengan Hartono dan para wali murid lainnya, Suparno prihatin dengan kondisi sekolah anaknya selama beberapa bulan terakhir. Adanya rencana perbaikan sekolah membuat dirinya merasa terpanggil untuk ikut ambil bagian.

”Sebenarnya ini tidak wajib, kalau tidak ikut tidak masalah. Kebetulan saya sedang longgar, ya sudah ikut membantu menurunkan genteng sama bersih-bersih di sini,” ujar Suparno yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani tersebut.

Suparno berharap upaya kecil yang dilakukan oleh para wali murid pada Senin tersebut bisa membantu mempercepat perbaikan sekolah. Dengan demikian, perbaikan bisa segera diselesaikan dan para murid bisa kembali belajar di ruang kelas masing-masing dengan aman dan nyaman.

Lapuk

Kepala SDN Tanggirejo Juwariyah mengatakan, atap yang pertama kali roboh adalah atap ruang kelas VI. Peristiwa itu terjadi pada Januari 2026. Penyebabnya adalah atap yang lapuk dimakan rayap. Pada April, atap ruang guru dan kepala sekolah yang berada di sebelah ruang kelas VI menyusul ambruk karena dimakan rayap.

Seiring berjalannya waktu, kerusakan merembet ke atap ruang kelas V dan kelas IV. Meski tidak sampai ambruk, kondisi atap di dua ruang kelas itu sudah mulai melengkung. Jika tetap digunakan untuk proses belajar mengajar, Juwariyah khawatir atap ambruk sewaktu-waktu.

Ambruknya atap kelas VI itu telah dilaporkan Juwariyah pada Januari 2026. Kemudian, robohnya atap ruang guru dan kepala sekolah serta melengkungnya atap ruang kelas V dan kelas IV juga sudah dilaporkan pada April 2026. Namun, perbaikan tak kunjung dilakukan.

Sembari menunggu bantuan perbaikan, pihak sekolah bersiasat. Mereka mengatur ulang tempat kegiatan belajar mengajar di sekolah itu. Kelas I dan kelas II diatur masuk bergantian mulai pukul 07.00-09.30 WIB untuk kelas I dan mulai pukul 09.30-12.00 WIB untuk kelas II.

”Untuk kelas VI kami pindah belajarnya di ruang khusus satu kelas menggunakan ruang kelas II karena akan menghadapi ujian. Kemudian, ruang kelas III itu disekat menggunakan tripleks, ditempati kelas III dan kelas IV. Lalu, karena sudah tidak ada tempat lagi, kelas V saya masukkan ke mushala supaya proses belajar tetap berjalan,” kata Juwariyah.

Juwariyah mengakui, proses belajar mengajar di lokasi yang tidak ideal membuat para siswa ataupun guru terkendala. Di satu sisi, ia tak bisa berbuat banyak karena bantuan perbaikan tak kunjung datang.

Setelah kondisi sekolahnya viral, tawaran bantuan baru berdatangan, baik dari pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat. Selain itu, sejumlah lembaga filantropi juga ikut menawarkan bantuan.

Menurut Juwariyah, pada Jumat (24/7/2026), tim dari Sekretariat Presiden dan Sekretariat Kabinet mendatangi SDN Tanggirejo. Mereka menjanjikan bantuan perbaikan. Janji itu pun mulai direalisasikan sehari setelahnya.

Menurut rencana, bantuan perbaikan itu tidak hanya pada kelas-kelas yang atapnya ambruk atau melengkung, tetapi juga pada seluruh ruang kelas, ruang guru dan kepala sekolah, perpuskataan, mushala, gudang, toilet, hingga bak sampah. Paving pada halaman sekolah juga dikatakan bakal diganti dengan yang baru.

Juwariyah bersyukur karena sekolah dengan jumlah murid 131 anak itu akhirnya mendapatkan bantuan perbaikan. Ia berharap sekolah-sekolah lain di Grobogan ataupun di berbagai wilayah lain yang kondisinya rusak juga bisa segera mendapatkan bantuan perbaikan.

”Saya berharap, kerusakan-kerusakan seperti ini tidak terjadi pada sekolah-sekolah yang lain. Dan, semoga jika ada laporan kerusakan bisa secepatnya direalisasikan perbaikannya,” ucapnya.

Demi kenyamanan, selama perbaikan sekolah, proses belajar mengajar di SDN Tanggirejo bakal dipindahkan ke gedung madrasah milik pemerintah desa yang berjarak sekitar 500 meter dari sekolah itu. Hal tersebut karena dari pagi hingga siang tidak ada kegiatan di madrasah tersebut. Kegiatan di madrasah itu dimulai pada sore hingga jelang maghrib.

Antusias

Rasa syukur juga diungkapkan para siswa SDN Tanggirejo. Mereka antusias menyambut perbaikan yang dilakukan di sekolah tersebut. Ana Nur, siswi kelas V, misalnya, tak sabar ingin segera kembali belajar di ruang kelas.

 

”Belajar di mushala tidak begitu nyaman karena sempit. Selain itu juga berisik karena posisinya pas di pinggir jalan, banyak kendaraan lewat,” ujar Ana.

Ana senang sekolahnya viral. Sebab, dengan begitu, banyak pihak yang akhirnya menaruh perhatian kepada sekolahnya.

Pada Senin, orangtua Ana tidak bisa ikut gotong royong di sekolah karena harus bekerja. Untuk itu, kakeknya yang datang mewakili.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Grobogan Purnyomo mengatakan, laporan terkait kondisi SDN Tanggirejo yang atapnya ambruk pernah diterima pada Januari. Setelah itu, sekolah tersebut dimasukkan pada daftar sekolah yang bakal direvitalisasi.

Kemudian, menurut Purnyomo, laporan atap ambruk pada April awalnya tidak diketahui oleh pihaknya. Dinas pendidikan baru tahu kondisi sebenarnya sekolah itu setelah viral.

Baca JugaDari Grobogan hingga Jakarta, Alarm Darurat Sekolah Rusak

”Ketika viral, kami juga lapor kepada pimpinan dan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) agar segera ditindaklanjuti. Kebetulan waktu itu kami dapat respons dari TAPD akan dianggarkan di anggaran perubahan. Ketika itu tidak ada, baru dianggarkan di data tak terduga. Namun, ketika tidak memungkinkan kami akan mengalihkan salah satu anggaran yang ada di dinas untuk perbaikan di sini,” kata Purnyomo.

Sebelum akhirnya rencana Pemerintah Kabupaten Grobogan itu direalisasikan, bantuan perbaikan sudah dilakukan pemerintah pusat. Purnyomo bersyukur. Baginya, yang terpenting adalah perbaikan bisa segera dilakukan sehingga proses belajar mengajar di sekokah itu bisa kembali berjalan dengan aman dan nyaman.

Menurut Purnyomo, tahun ini ada hampir 100 sekolah rusak yang mengajukan bantuan revitalisasi ke dinas pendidikan. Di tingkat taman kanak-kanak, jumlah yang mengajukan bantuan revitalisasi sebanyak 29 sekolah. Adapun untuk tingkat SD dan SMP masing-masing 55 sekolah dan 15 sekolah.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Harga Minyak Mentah Ambles 8 Persen Usai Trump Hentikan Serangan ke Iran
• 6 jam lalu
0
thumb
Agustiar Sabran Resmi Pimpin PB Percasi, Siapkan Program Catur Masuk Sekolah
• 14 jam lalu
0
thumb
Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp9.000, Jadi Rp2.613.000 per Gram
• 3 jam lalu
0
thumb
Usut Kasus Gratifikasi Batu Bara, KPK Periksa Suami Mantan Bupati Kukar Rita Widyasari
• 19 jam lalu
0
thumb
Benarkah Jika Ban Kendaraan Gundul Bakal Didenda Rp250 Ribu?
• 23 jam lalu
0
Berhasil disimpan.