Pertumbuhan ekonomi, kecerdasan artifisial (AI), serta pembangunan pusat data membuat kebutuhan energi Indonesia terus meningkat. Namun, tantangannya tidak lagi sekadar menambah pasokan listrik, tetapi memastikan setiap energi yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal.
Di tengah perubahan itu, manajemen energi berbasis teknologi menjadi strategi baru untuk meningkatkan efisiensi, menjaga keandalan operasional, hingga menekan emisi karbon. Urgensi manajemen energi ini, antara lain, dirasakan oleh pengelola gedung dan kawasan industri.
Bagi Roy Renhard, Property Manager Jones Lang LaSalle, perusahaan properti, mengelola konsumsi energi di sebuah gedung bukanlah perkara mudah. Selain area bangunan yang luas dan sistem kelistrikan yang kompleks, biaya yang dikeluarkan untuk operasionalisasi gedung juga tidak sedikit.
”Sebuah gedung dalam kondisi standby (siaga) saja, biayanya Rp 150 juta-Rp 200 juta per bulan,” ujar Roy dalam diskusi bertema ”Smart Energy Solution for Greater Efficiency and Sustainability, Every Watt Counts, Every Saving Matters” di kantor Indosat, Jakarta, Kamis (23/7/2026).
Diskusi yang digelar PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk ini juga menghadirkan sejumlah panelis. Mereka adalah Staf Khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bidang Percepatan Penyelesaian Isu Strategis Sektor ESDM M Pradana Indraputra dan Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Jawa Barat Dhani Gumelar.
Roy menuturkan, biaya operasional sebuah gedung bisa meningkat jika energi yang digunakan tidak terkelola. Biaya itu muncul dari listrik atau air yang terbuang percuma. Apalagi, jika pemantauan pemakaian energi di gedung masih dilakukan secara manual.
”Dulu, saya kadang-kadang meminta tim mengecek penggunaan listrik pukul 9 (malam). Pukul 12 malam dicek lagi. Itu agak merepotkan karena kadang-kadang teman yang jaga atau tim engineering yang bertugas lupa mengeceknya,” ungkap Roy. Akhirnya, penggunaan listrik tidak efisien.
Begitu pula dengan aliran air, yang harus dicek di waktu tertentu. Risiko lainnya adalah flicker atau fluktuasi tegangan listrik yang cukup cepat, sekitar 0,5 detik atau 1 detik. ”Akibatnya, genset mesti menyala otomatis dan genset 500 kVA (kilovolt Ampere) itu bisa menghabiskan 100 liter solar,” ujar Roy.
Berbagai risiko itu, katanya, dapat diantisipasi melalui manajemen energi berbasis teknologi internet of things (IoT) yang memungkinkan perangkat dan obyek fisik terhubung via internet. Dengan IoT cerdas, pemantauan penggunaan energi bisa dilakukan secara langsung (real time).
”Sekarang, saya bisa memantau dan mengendalikan penggunaan energi lewat handphone. Dengan smart IoT, kami dapat melihat mana beban listrik yang tinggi, kualitas daya listriknya, sampai penggunaan listrik per harinya,” ujar Roy yang menggunakan produk smart IoT dari Indosat.
Tidak hanya di gedung, manajemen energi berbasis teknologi juga dibutuhkan pada fasilitas pelayanan publik, seperti penerangan jalan umum (PJU). Kepala Dishub Jabar Dhani Gumelar mengatakan, dengan cakupan 27 kabupaten/kota di Jabar, pengelolaan PJU memerlukan teknologi IoT.
Saat ini, dari total panjang 2.362,83 kilometer jalan provinsi di Jabar, terdapat 37.468 alat penerangan jalan. Dari jumlah tersebut, katanya, baru sekitar 11 persen yang terintegrasi dengan lamp control unit, perangkat yang dapat memantau dan mengatur sistem pencahayaan otomatis atau terpusat.
Artinya, sebagian besar PJU masih membutuhkan pemantauan manual. Selama ini, pihaknya mendapatkan informasi dari masyarakat mengenai PJU yang tidak berfungsi, terutama melalui media sosial. Luasnya wilayah Jabar, terutama bagian selatan, juga membuat pemantauan tidaklah mudah.
”Itu sebabnya, dibutuhkan teknologi untuk mengelola PJU. Kalau tidak ada intervensi teknologi, sekali lagi, kita tidak akan bisa memantau lebih dari 37.000 titik penerangan jalan,” ujar Dhani. Upaya itu, lanjutnya, untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.
Melvin Jeffrey Chan, Senior Vice President Head Business to Business IoT dan Big Data Indosat, menambahkan, saat ini, manajemen energi berbasis IoT dan AI semakin relevan untuk industri hingga pelayanan publik. Sebab, pengguna bisa memantau konsumsi energi secara langsung.
Data dari pemantauan itu lalu diolah menggunakan AI untuk mengenali pola konsumsi energi, mendeteksi anomali, dan memberikan peringatan dini sebelum terjadi gangguan. Pendekatan ini memungkinkan perusahaan menghemat energi hingga meningkatkan keandalan operasionalnya.
Menurut dia, terdapat empat hal yang membuat manajemen energi berbasis teknologi semakin penting saat ini. Pertama, terkait keberlanjutan atau sustainability. Dengan 68 persen listrik Indonesia yang dihasilkan dari batubara, penggunaan listrik berlebihan bakal menambah emisi karbon.
Mengutip sejumlah studi, ia mengatakan, terdapat tambahan 86 juta metrik ton karbon dioksida (CO2) dari penggunaan batubara di sektor energi selama 2013-2023. ”Itu setara dengan 36 miliar liter bensin dan bisa menjalankan 28 juta-30 juta mobil penumpang selama setahun penuh,” katanya.
Kedua, urgensi manajemen energi berbasis teknologi terkait dengan keamanan. Ia mencontohkan, pada 2023 saja, sekitar 66 persen dari 1.000 insiden kebakaran di Jakarta dipicu oleh kegagalan listrik. Penyebabnya umumnya karena kelebihan beban sirkuit atau koneksi yang longgar pada kabel.
”Jika dapat memantau secara real time, kita bisa mendeteksi risiko termal (potensi bahaya akibat suhu tinggi) 30 persen lebih awal dan memperpanjang usia aset peralatan,” ucap Melvin. Urgensi ketiga adalah terkait ketersediaan daya listrik, terutama downtime atau waktu henti perangkat yang tak terduga.
Kondisi ini berdampak besar dalam industri manufaktur bernilai tinggi, seperti semikonduktor atau elektronik. ”Waktu henti itu berarti kerugian investasi jutaan dolar AS. Sektor manufaktur Indonesia berpotensi kehilangan sekitar 415 juta dolar AS (sekitar Rp 7,6 triliun) karena terdampak pemadaman listrik secara tahunan,” kata Melvin.
Apalagi, 8-12 persen biaya operasional industri adalah konsumsi listrik. Dengan manajemen energi berbasis teknologi, perusahaan dapat memantau ketersediaan bahan bakar genset, baterai, dan status trafo secara langsung untuk memastikan operasionalisasi tetap berjalan.
Keempat, urgensi manajemen energi berbasis teknologi selalu terkait dengan efisiensi. ”Berdasarkan studi kami, penerapan solusi ini di area komersial dan industri dapat memberikan penghematan 10 persen hingga 30 persen. Industri itu, seperti tekstil, baja, kertas, petrokimia, dan makanan,” ujarnya.
Manajemen energi kini semakin dibutuhkan seiring meningkatnya kebutuhan akan listrik. Target pemerintah untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2029, misalnya, bakal memerlukan tambahan energi. Dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata 5 persen saja, konsumsi energinya tidak sedikit.
Konsumsi energi final oleh rumah tangga, transportasi, hingga industri pada 2024 saja mencapai 1,276 miliar barel setara minyak (BOE). Angka ini adalah rekor tertinggi dalam satu dekade terakhir. Pertumbuhan konsumsi listrik pun naik lebih dari 5 persen setiap tahunnya.
Director dan Chief Business Officer Indosat Muhammad Buldansyah mengatakan, kebutuhan energi akan semakin naik seiring adopsi AI, cloud (komputasi awan), dan pusat data. ”Teknologi ini haus akan energi. Indonesia diprediksi membutuhkan daya 1,5 gigawatt dua tahun ke depan. Jadi, kebutuhan energinya tidak main-main,” ujarnya.
Di tengah lonjakan kebutuhan listrik itu, lanjutnya, perusahaan dituntut untuk memastikan setiap energi dimanfaatkan secara optimal. ”Bagaimana cara mengukur energi yang digunakan itu efektif? Manajemen energi yang berbasis teknologi dapat melakukan itu semua sehingga tidak ada watt yang sia-sia,” tuturnya.
Itu sebabnya, pihaknya meluncurkan solusi manajemen energi berbasis IoT dan AI. Solusi itu, antara lain, pemantauan daya di gedung perkantoran dan sektor manufaktur, pemantauan genset dan transformator, pemantauan baterai, sistem otomatisasi PJU, hingga pemantauan utilitas air dan gas.
Konservasi energi sering disebut ”the first fuel”. Artinya, energi (bahan bakar) yang berhasil dihemat sama dengan energi yang dihasilkan.
Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Percepatan Penyelesaian Isu Strategis Sektor ESDM M Pradana Indraputra menilai, manajemen energi sebagai langkah konservasi energi sangat penting dilakukan di tengah pengembangan AI dan pusat data. Konservasi energi adalah upaya sistematis, terencana, dan terpadu untuk melestarikan sumber daya energi dalam negeri.
Apalagi, lanjutnya, membangun pembangkit listrik yang baru tidaklah mudah. Pendirian pembangkit listrik baru tidak hanya menelan waktu bertahun-tahun, tetapi juga kerap menghadapi kendala lahan hingga persoalan sosial di lapangan.
”Oleh karena itu, konservasi energi sering disebut the first fuel. Artinya, energi (bahan bakar) yang berhasil dihemat sama dengan energi yang dihasilkan. Kalau kita bisa menghemat 1 megawatt, itu sama dengan memproduksi 1 MW. Jadi, penghematan pada prinsipnya sama dengan produksi listrik,” ucapnya.
Jisman P Hutajulu, Staf Ahli Menteri ESDM Bidang Perencanaan Strategis, Kementerian ESDM, menyampaikan, manajemen energi telah diatur dalam Peraturan Pemerintah RI Nomor 33 Tahun 2023 tentang Konservasi Energi. Aturan ini mendorong industri untuk melakukan pemantauan dan pelaporan pemanfaatan energi.
Regulasi itu mengamanatkan, industri yang menggunakan energi lebih besar atau sama dengan 4.000 ton setara minyak (TOE) per tahun wajib melaksanakan konservasi energi melalui manajemen energi, seperti efisiensi dan audit energi. ”Konservasi energi adalah tanggung jawab bersama pemerintah dan pelaku industri,” ucapnya.
Di era AI, setiap watt kini semakin berharga. Tantangannya tidak lagi membangun pembangkit listrik, tetapi memastikan pemanfaatan energi lebih optimal. Sebab, energi yang paling murah bukanlah yang berhasil diproduksi, melainkan yang tidak pernah terbuang.






Komentar (0)