BRIN Siapkan AI dan Superkomputer Dukung Transformasi Kesehatan Nasional

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendukung transformasi sistem kesehatan nasional melalui penguatan riset berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), komputasi berkinerja tinggi (High Performance Computing/HPC), hingga pengembangan precision medicine. Langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat layanan kesehatan primer yang menjadi fokus reformasi Kementerian Kesehatan.

Kepala BRIN Arif Satria mengatakan, transformasi kesehatan tidak dapat dilepaskan dari peran riset dan inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat. Menurutnya, BRIN terus berkolaborasi dengan Kementerian Kesehatan agar hasil penelitian dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan kesehatan yang lebih efektif.

“Kami tahu juga BRIN punya peran-peran yang saya kira diharapkan dalam rangka untuk mengisi public policy dengan riset dan inovasi yang kita hasilkan. Arah dari riset dan inovasi di BRIN adalah lebih daripada impact, pada bagaimana riset itu bisa berdampak," kata Arif dalam sambutannya pada acara Leimena Conference 2026 di Gedung Widya Graha Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Jakarta Pusat, Senin (27/7).

Ia menjelaskan, tantangan kesehatan saat ini semakin kompleks. Perubahan iklim, transisi, demografi, urbanisasi, hingga perkembangan teknologi digital memunculkan berbagai persoalan baru yang harus direspons melalui pendekatan ilmiah.

Selain itu, Indonesia juga harus mulai mengantisipasi meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia seiring bonus demografi yang diperkirakan terjadi dalam beberapa tahun ke depan.

“Kita juga dihadapkan pada isu transisi demografi. Kita menghadapi bonus demografi 2030. Indonesia saat ini belum memasuki aging society, namun demikian kita harus sudah mulai mengantisipasi bagaimana penyakit-penyakit untuk lansia yang semakin lama jumlahnya semakin bertambah," ujarnya.

Ia menilai, pelayanan kesehatan tak lagi cukup mengandalkan pendekatan kuratif semata. Menurutnya, sistem kesehatan harus dibangun secara lebih holistik dengan melibatkan berbagai sektor, dari pendidikan, riset, industri,lingkungan hingga masyarakat.

Karena itu, ia mengapresiasi transformasi pelayanan kesehatan primer yang dijalankan Kementerian Kesehatan melalui penguatan Puskesmas dan Posyandu.

“Saya sering bertemu dengan Pak Menteri dan Pak Menteri menekankan pentingnya primary healthcare. Saya kira ini adalah sebuah arah yang tepat karena persoalan terbesar masyarakat itu ada di grassroot. Sehingga pendekatan primary healthcare melalui Puskesmas ini menurut saya pendekatan yang sangat tepat untuk mentransformasi masyarakat kita," katanya.

Arif juga menilai modernisasi fasilitas pelayanan kesehatan primer telah menunjukkan kemajuan signifikan, mulai dari distribusi alat ultrasonografi (USG), penguatan platform SatuSehat, hingga pengembangan layanan telemedicine.

Menurutnya, transformasi digital akan menjadi fondasi penting bagi sistem kesehatan Indonesia ke depan, terutama dengan berkembangnya teknologi kecerdasan buatan.

“Saat ini kita di era transformasi digital. Digital transformation ini sudah menjadi keniscayaan. Saya mengapresiasi adanya SatuSehat sebagai platform yang sangat bagus. Telemedicine sudah ada di mana-mana dan electronic medical record juga sekarang sudah mulai diaplikasikan," ujarnya.

Lebih lanjut, BRIN memiliki laboratorium genomic Cryo-Electron Microscopy (Cryci-EM) yang diklaim sebagai salah satu fasilitas terbaik di Asia Tenggara. Selain itu, BRIN juga baru meluncurkan High Performance Computing (HPC) atau superkomputer yang masuk jajaran 500 superkomputer terbaik dunia.

“Di BRIN ada alat genomik, Cryo-EM, yang merupakan laboratorium genomik terbaik di Asia Tenggara. Baru tiga minggu lalu kita juga me-launching High Performance Computing (HPC). Itu adalah yang tercanggih di Asia Tenggara dan masuk Top 500 superkomputer di dunia. Ini penting untuk mendukung pengembangan AI," kata Arif.

Ke depannya, Arif menyebut sejumlah fokus riset yang akan terus dikembangkan BRIN antara lain AI untuk kesehatan, Learning Health System, Precision Public Health, serta Climate Resilient Primary Healthcare gua perkuat ketahanan sistem kesehatan Indonesia menghadapi berbagai tantangan global.

“Ketahanan kesehatan Indonesia sangat tergantung pada ketahanan masyarakatnya. Ketahanan masyarakat sangat tergantung pada fasilitas dan institusi kesehatan di level masyarakat. Oleh karena itu memperkuat grassroot, menyehatkan masyarakat grassroot, modernisasi grassroot menjadi keniscayaan. Dan di sinilah kolaborasi semua pihak harus terus diperkuat," pungkasnya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Febri Diansyah Bocorkan Pembicaraan dengan Eks Jampidsus Febrie Adriansyah, Ini Lengkapnya!
• 8 jam lalu
0
thumb
Trans TV Festival Vol. 5 Hadirkan Hiburan Gratis Seharian di BSD
• 19 jam lalu
0
thumb
Pemkot Buka Opsi Semarang Zoo Dikelola Pihak Ketiga Setelah Harimau Putih Mati
• 7 jam lalu
0
thumb
Kang Song-hwi Ungkap Keberhasilan Timnas Voli Korea Selatan Sapu Bersih Laga Kontra Skuad Srikandi: Tidur Cukup
• 23 jam lalu
0
thumb
Terima Tim Asesor UNESCO, Gubernur Sulsel Tekankan Pengembangan Geopark Maros-Pangkep Berkelas Dunia
• 5 jam lalu
0
Berhasil disimpan.