Potret Sekolah Pengungsi di Ujung Tanduk, Intimidasi Memuncak

cnbcindonesia.com
11 jam lalu
Cover Berita
1/5

Para siswa mengikuti kegiatan belajar di sebuah sekolah pengungsi Rohingya di Kuala Lumpur, Malaysia, di tengah meningkatnya ujaran kebencian dan misinformasi yang menyasar komunitas mereka. Gelombang sentimen negatif tersebut memaksa sedikitnya sembilan sekolah pengungsi menghentikan operasionalnya di berbagai wilayah, sehingga banyak anak Rohingya kehilangan akses pendidikan karena khawatir menjadi sasaran intimidasi dan kekerasan. (REUTERS/Hasnoor Hussain)

2/5

Mengutip Reuters, Senin (27/7/2026), salah satu korban adalah Nur (12), seorang pengungsi Muslim Rohingya yang berhenti bersekolah sejak Juni setelah diancam dua pria saat berjalan menuju kelas. Kelompok hak asasi manusia dan para pendidik menyebut Nur hanyalah satu dari banyak anak Rohingya yang mengalami pelecehan dan ancaman hingga sekolah-sekolah pengungsi memutuskan menghentikan kegiatan belajar. (REUTERS/Hasnoor Hussain)

3/5

Aktivis komunitas Rohingya, Sharifah Shakirah, mengatakan anak-anak kini hidup dalam ketakutan akibat meningkatnya intimidasi. "Anak-anak sangat ketakutan hingga mereka takut keluar rumah," ujarnya. Menurutnya, dampak dari ancaman tersebut tidak akan hilang dalam waktu singkat dan berpotensi mengganggu masa depan pendidikan para pengungsi. (REUTERS/Hasnoor Hussain)

4/5

Pemeriksaan Reuters menunjukkan sedikitnya sembilan sekolah Rohingya di seluruh Malaysia telah ditutup setelah kampanye ujaran kebencian dan misinformasi di media sosial memicu pengawasan lebih ketat terhadap komunitas Rohingya. Kondisi ini juga memunculkan kekhawatiran mengenai lemahnya pengawasan terhadap penyebaran konten di platform digital. (REUTERS/Hasnoor Hussain)

5/5

Malaysia tidak mengakui Rohingya sebagai pengungsi resmi dan menganggap mereka imigran ilegal, meski sekitar 120.000 terdaftar di Badan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR). Sentimen publik memburuk sejak pandemi Covid-19 akibat berbagai tuduhan terhadap Rohingya. Pekan lalu, Wakil Menteri Luar Negeri Lukanisman Awang Sauni menyebut masyarakat mulai merasa terbebani. (REUTERS/Hasnoor Hussain)

Add as a preferred
source on Google

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
PSI Serius Buat ‘Kandang Baru’ di Jateng: yang Ada Aura Gajahnya Kita Push
• 16 jam lalu
0
thumb
Kasus Febrie Adriansyah, PBNU: Kejagung Jangan Surutkan Semangat Berantas Korupsi!
• 14 menit lalu
0
thumb
Pengamat Nilai Timnas Indonesia Membutuhkan Formula Baru untuk Menaklukkan Kamboja di Piala AFF 2026
• 15 jam lalu
0
thumb
Serangan Bom Bundir di Pos Pemeriksaan Keamanan Pakistan Menewaskan 27 Orang, Termasuk Anggota Militer, Polisi, dan Pejabat Pemerintah
• 23 jam lalu
0
thumb
Pelabuhan Krueng Geukueh Berangkatkan Ribuan Ton Biomassa ke Jepang
• 18 jam lalu
0
Berhasil disimpan.