JAKARTA, KOMPAS – Nilai tukar rupiah dan pasar saham terus bergerak ke zona merah menyusul pengumuman mundurnya Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia. Kondisi ini mengindikasikan pasar telah meningkatkan premi risiko dengan persepsi arah kebijakan moneter yang menyempit.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor), nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin (27/7/2026) ditutup di level Rp 17.995 per dolar AS, melemah 0,12 persen dibandingkan penutupan pasar pada perdagangan sebelumnya.
Di sisi lain, data Bloomberg menunjukkan, posisi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di perdagangan luar negeri masih terus terdepresiasi hingga menembus Rp 18.009, melemah 0,26 persen dibanding penutupan sebelumnya dan sebesar 7,97 persen secara tahun kalender berjalan.
Demikian pula dengan pasar saham domestik. Pada sesi penutupan pasar, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menuju zona merah ke level 6.185,78 atau melemah 0,17 persen. Bahkan, IHSG sempat amblas 1 persen pada sesi pertama perdagangan.
Perkembangan itu terjadi menyusul pernyataan resmi mengenai pengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI). Pengumuman tersebut disampaikan oleh Menteri Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dalam konferensi pers di Kantor BI, Jakarta, sekitar pukul 08.00 WIB.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai, data perdagangan dalam satu hari perdagangan yang sama menunjukkan bahwa tekanan pasar telah meluas dari valuta asing ke saham dan erosi kepercayaan mulai semakin nyata.
“Pengunduran diri Perry Warjiyo telah menaikkan premi risiko Indonesia, meski Destry Damayanti (pejabat Gubernur sementara) menjaga operasi BI tetap berjalan. Pasar membedakan kontinuitas operasional dari kepastian arah kebijakan,” katanya secara tertulis.
Naiknya premi risiko tersebut antara lain tampak dari posisi nilai tukar rupiah yang telah menembus level Rp 18.000 per dolar AS. Kontrak jual-beli rupiah terhadap dolar AS (forward) untuk satu bulan berada di level Rp 18.049 dan untuk jangka tiga bulan di level Rp 18.120.
Situasi saat ini lebih tepat dibaca sebagai proses penilaian ulang risiko yang makin dalam. Pasar belum panik, tetapi mulai menuntut premi lebih tinggi atas ketidakpastian suksesi BI, independensi kebijakan, dan arah stabilisasi rupiah.
Selanjutnya, Credit Default Swap (CDS) Indonesia turut melebar pada seluruh tenor, dengan CDS jangka waktu lima tahun 92,3 basis poin (bps) dan CDS 10 tahun 146,7 bps. Perkembangan ini juga diikuti dengan naiknya imbal hasil (yield) surat berharga negara (SBN) tenor 5 tahun sebesar 6,8 bps.
Menurut Syafruddin, perkembangan tersebut bukanlah kepanikan sistemik, melainkan sebagai penilaian ulang (repricing) risiko dari pelaku pasar. Artinya, investor percaya BI masih mampu beroperasi, tetapi mereka membutuhkan kompensasi lebih besar atas ketidakpastian suksesi, independensi moneter, dan arah fiskal.
“Situasi saat ini lebih tepat dibaca sebagai proses penilaian ulang risiko yang makin dalam. Pasar belum panik, tetapi mulai menuntut premi lebih tinggi atas ketidakpastian suksesi BI, independensi kebijakan, dan arah stabilisasi rupiah,” ujarnya.
Di sisi lain, pelaku pasar di pasar saham pun mulai menghitung dampak dari transisi kepemimpinan di tubuh BI. Kondisi ini antara lain terindikasi dari pergerakan saham-saham sektor infrastruktur yang melemah sekitar 2,5 persen.
Pada saat indeks utama relatif stabil, tekanan yang dihadapi saham-saham sektor infrastuktur dapat menjadi sinyal bahwa pasar sedang membedakan emiten berdasarkan eksposur terhadap suku bunga, utang valuta asing (valas) serta ketergantungan pada proyek berjangka panjang.
Ia menambahkan, pengunduran diri Perry Warjiyo telah mempersempit ruang bagi kebijakan moneter. Dalam hal ini, pasar hanya melihat dua kemungkinan, yakni rezim suku bunga untuk menjaga nilai tukar atau rezim suku bunga rendah demi mendukung pertumbuhan.
Keduanya memiliki implikasi yang berbeda. Dengan suku bunga tinggi, kredit, investasi, dan sektor padat modal akan tertekan. Sebaliknya, penurunan suku bunga justru berisiko dibaca sebagai tekanan politik, selama kredibilitas belum terbentuk.
“Pergantian Gubernur BI pada saat rupiah berada di sekitar Rp 18.000 dan BI-Rate telah mencapai 5,75 persen jelas mempersempit ruang kebijakan moneter. BI menghadapi dilema yang lebih berat karena pasar akan menilai setiap keputusan melalui dua lensa sekaligus, kebutuhan ekonomi dan independensi politik,” tuturnya.
Ia turut mengingatkan, mundurnya seorang Gubernur BI bukan peristiwa biasa karena BI merupakan lembaga independen yang memegang kendali atas kebijakan moneter, stabilitas rupiah, inflasi, sistem pembayaran, dan ketahanan sektor keuangan.
Dihubungi secara terpisah, Guru Besar Ekonomi Universitas Airlangga Rahma Gafmi berpendapat, pengunduran diri mendadak Perry Warjiyo berisiko memberikan dampak psikologis dan volatilitas jangka pendek pada pasar keuangan Indonesia.
Pelaku pasar akan terus mencerminkan reaksi mereka pada efektivitas langkah-langkah stabilisasi lanjutan yang diambil BI pasca-pengumuman ini, terutama dalam menjaga kepercayaan terhadap instrumen rupiah dan pengendalian inflasi di tengah ketidakpastian global.
Menurutnya, pergantian pucuk pimpinan bank sentral di tengah tekanan ekonomi makro dan fluktuasi nilai tukar dapat memicu spekulasi pasar terhadap arah konsistensi bauran kebijakan moneter selanjutnya.
“Pelaku pasar akan terus mencerminkan reaksi mereka pada efektivitas langkah-langkah stabilisasi lanjutan yang diambil BI pasca-pengumuman ini, terutama dalam menjaga kepercayaan terhadap instrumen rupiah dan pengendalian inflasi di tengah ketidakpastian global,” ujar dia.
Di sisi lain, investor global cenderung lebih ketat dalam menilai aspek kredibilitas dan kesinambungan kebijakan makroekonomi. Reaksi global akan sangat bergantung pada seberapa cepat pemerintah dan otoritas moneter mengomunikasikan stabilitas dalam fase transisi ini.






Komentar (0)