Malang (beritajatim.com) – Destinasi wisata Pantai Goa Cina yang terletak di Dusun Tumpak Awu, Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, kini tak segeliat dulu. Pantai yang berjarak sekitar 76 kilometer dari pusat Kota Malang tersebut dulunya menjadi salah satu tujuan utama para wisatawan yang memburu keindahan bahari pesisir selatan Jawa Timur.
Di masa keemasannya, objek wisata pantai berpasir putih ini hampir tak pernah sepi dari lalu lalang pengunjung. Selain menawarkan pesona lanskap alam dengan hamparan pantai yang memukau, Goa Cina juga menyimpan daya tarik sejarah yang cukup kuat.
Syaifuddin, salah seorang pemilik toko yang telah mengadu nasib di Pantai Goa Cina selama lebih dari 15 tahun, mengenang manisnya kejayaan masa lalu. Pria paruh baya ini mengungkapkan betapa ramainya kawasan tersebut pada masa-masa awal perkembangannya. Bahkan, dalam kondisi puncak kunjungan, deretan toko pedagang bisa mendulang pendapatan yang sangat fantastis.
“Dulu Goa Cina ini sangat ramai pengunjung, kondisi pantainya pun terlihat jauh lebih bersih ketimbang yang sekarang. Sekarang sudah kalah saing sama Pantai Tanjung Penyu, kalah juga sama Pantai Teluk Asmara. Padahal Goa Cina ini selain menawarkan keindahan pantai, juga ada unsur sejarahnya, salah satunya keberadaan gua itu dan lokasinya juga dekat dengan Masjid Cheng Ho,” ungkap Syaifuddin saat ditemui di lapaknya.
Syaifuddin menceritakan, pada masa jayanya puluhan tahun lalu, omzet para pedagang dalam semalam bisa mencapai angka Rp40 juta. Namun, seiring berjalannya waktu dan bermunculannya destinasi wisata baru di Jalur Lintas Selatan (JLS) Malang, pesona Goa Cina perlahan mulai tergeser.
Guna mengembalikan daya tarik kawasan tersebut, sebenarnya sempat muncul tawaran kerja sama renovasi dari pihak ketiga. Sebuah perusahaan swasta melayangkan usulan untuk merestrukturisasi dan memodernisasi area berdagang di pesisir pantai tersebut.
“Beberapa waktu lalu sebenarnya sempat ada tawaran dari salah satu PT untuk merenovasi tempat berjualan. Dengan anggaran sekitar Rp100 juta per toko, rencananya kawasan ini akan dijadikan area pujasera yang tertata, lengkap dengan perbaikan akses jalan. Tapi sayangnya tidak semua pemilik toko menyetujui tawaran tersebut,” tuturnya.
Secara teknis geografis dan historis, Pantai Goa Cina menyuguhkan karakteristik yang relatif unik jika dibandingkan dengan pantai-pantai tetangganya. Namanya sendiri diambil dari peristiwa sejarah lokal yang terukir sejak era sebelum kemerdekaan.
Berdasarkan prasasti papan informasi yang terpasang resmi dari pengelola wisata setempat, penamaan “Guwa China” mulai dikenal sekitar tahun 1930. Nama tersebut terinspirasi dari seorang pertapa berkebangsaan Tionghoa bernama Hing Hook.
Kala itu, Hing Hook memilih sebuah gua karang di tepi pantai sebagai tempat bersemedi. Ia bertapa di dalam lokasi tersebut selama bertahun-tahun hingga akhirnya dinyatakan hilang secara misterius atau muksa. Sebelum menghilang, pertapa tersebut meninggalkan sebuah surat wasiat yang mencantumkan identitas namanya. Sejak peristiwa itulah, masyarakat setempat sepakat menamai lokasi tersebut sebagai Guwa China atau Pantai Goa Cina.
Selain aspek sejarah, daya tarik utama destinasi wisata bernilai tiket masuk Rp15.000 ini terletak pada panorama alamnya. Di tengah lautannya berdiri megah tiga pulau karang besar, yakni Pulau Goa Cina, Pulau Bantengan, dan Pulau Nyonya. Uniknya lagi, kawasan pesisir ini memiliki karakter ombak kuat yang berasal dari benturan arus tiga arah sekaligus, yakni dari arah selatan, timur, dan barat. Karena pusaran gelombangnya yang sangat kencang dan berbahaya, para wisatawan dilarang keras untuk berenang di area pesisir ini.
Penurunan intensitas pengunjung di Goa Cina turut dirasakan oleh para wisatawan setia pantai selatan Malang. Banyak wisatawan yang kini memanfaatkan Pantai Goa Cina sekadar untuk aktivitas hobi alternatif seperti memancing atau menikmati suasana akhir pekan yang relatif tenang.
Muksit, seorang pengunjung asal Dinoyo, Kota Malang, mengaku secara rutin berkunjung ke kawasan pantai selatan setiap hari Minggu demi menemani sang putra menyalurkan hobi memancing ikan.
“Saya kalau ke pantai biasanya berganti-ganti lokasi. Kalau yang enak untuk aktivitas camping atau glamping selain di sini (Goa Cina), Pantai Kondang Merak juga sangat enak. Sementara Pantai Banyu Meneng itu cocok buat anak-anak kecil bermain karena ombaknya relatif tidak sebesar di Goa Cina,” terang Muksit.
Menurut Muksit, perubahan preferensi wisatawan kini memang bergeser ke objek-objek wisata anyar yang menawarkan fasilitas baru atau karakter ombak yang lebih bersahabat.
“Kalau mau cari suasana yang ramai ya di Pantai Balekambang, atau di Tanjung Penyu yang sekarang lagi jadi favorit. Kalau dulu Goa Cina ini favorit utama, tapi sekarang memang sudah kalah bersaing dengan Teluk Asmara dan Tanjung Penyu,” tambahnya.
Muksit menceritakan pengalamannya dalam mengeksplorasi berbagai titik pantai di Malang Selatan untuk memancing. Berdasarkan pengalamannya, Pantai Sendang Biru masih menjadi lokasi paling potensial untuk mendapatkan hasil tangkapan ikan yang banyak, meski harus rela berdesakan dengan pemancing lain.
“Jadi saya dan anak saya mencoba eksplorasi cari-cari pantai lain. Tapi sejauh ini rata-rata semua ikan yang diperoleh ukurannya sama. Saya lupa nama jenis ikannya, yang jelas ukurannya seukuran telapak tangan orang dewasa,” kelakarnya sembari tersenyum mendampingi putranya melempar kail. (dan/kun)





Komentar (0)