REPUBLIKA.CO.ID, NEW DELHI – Gerakan akbar anak-anak muda di India yang menamai diri mereka “Cockroach Janta Party” alias “Partai Rakyat Kecoak” berhasil memaksa menteri pendidikan India mundur. Kursi Perdana Menteri Narendra Modi dan rezim nasionalis Hindunya jadi sasaran berikutnya.
Bahkan pada malam sebelum Narendra Modi menerima pengunduran diri menteri pendidikannya, ia tampak yakin bahwa gerakan massa terbesar yang terjadi selama 12 tahun masa kekuasaannya tidak akan banyak menggoyahkan pemerintahannya.
Baca Juga
Prabowo ke Modi: Prambanan Pengingat Hubungan Indonesia-India 1.000 Tahun
Indonesia dan India Percepat Pembahasan Pembayaran QR Lintas Batas
Dalam sebuah video swafoto Instagram yang diunggah larut malam pada Jumat dan ditujukan kepada "teman-teman muda"-nya, ia menyampaikan terima kasih kepada masyarakat—yang telah bergerak secara massal di seluruh negeri sambil meneriakkan slogan-slogan anti-pemerintah—atas "saran-saran mereka yang penuh pertimbangan".
Kurang dari 24 jam kemudian, Modi—yang selama bertahun-tahun dengan gigih membangun citra sebagai pemimpin yang tangguh dan tak tergoyahkan—akhirnya tunduk pada tekanan publik dan menerima pengunduran diri Dharmendra Pradhan. Menurut para analis, peristiwa ini merupakan momen yang menunjukkan betapa pemerintah—yang sejak 2014 berkuasa dengan kekebalan hukum yang nyaris tak tersentuh—akhirnya harus mengakui kekalahan dan bersikap rendah hati.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Dilansir the Guardian, selama sepekan terakhir, sebuah gerakan Generasi Z yang menamakan diri mereka Cockroach Janta Party (CJP) menggalang aksi protes besar-besaran demi menuntut keadilan bagi jutaan anak muda. Aksi ini dipicu oleh kebocoran naskah ujian penting yang memaksa 2 juta siswa untuk mengikuti ujian ulang, serta dikaitkan dengan lebih dari selusin kasus bunuh diri.
Pengunduran diri Pradhan, sekutu politik setia Modi, tetap menjadi tuntutan utama mereka sebagai bentuk pertanggungjawaban, bahkan ketika aksi protes tersebut meluas menjadi perjuangan yang lebih besar demi demokrasi. Namun, nama Pradhan sama sekali tidak disebut oleh Modi dalam pesannya di Instagram tersebut.
Pengunjuk rasa memegang papan tanda saat para pendukung gerakan politik Cockroach Janta Party (CJP), merayakan pengunduran diri Menteri Pendidikan India Dharmendra Pradhan di Mumbai, India, pada 26 Juli 2026. - (EPA/DIVYAKANT SOLANKI)
Pada Sabtu pagi, jumlah orang yang memadati situs bersejarah Jantar Mantar di Delhi—pusat aksi protes—mencapai rekor tertinggi, sementara gelombang keresahan dengan cepat meluas ke kota-kota lain, termasuk di wilayah yang dipimpin oleh Partai Bharatiya Janata (BJP) pimpinan Modi.
Bukan hanya ruang fisik yang berhasil dikuasai oleh gerakan "kecoa" ini. Sejak berkuasa, BJP terbukti sangat piawai dalam menguasai narasi di dunia maya; mereka mengerahkan tim IT yang tangguh dan terorganisasi dengan baik untuk memobilisasi dukungan sekaligus menyerang segala bentuk kritik terhadap pemerintah, baik yang datang dari warga biasa, politisi, maupun jurnalis.
Namun, upaya tersebut tak mampu membendung jutaan meme dan video pendek karya Generasi Z yang membanjiri Instagram sepanjang pekan lalu. Konten-konten tersebut tanpa rasa takut mengejek Modi dan mencemooh pemerintah, dengan kreativitas dan daya provokasi yang terus meningkat. Upaya terakhir Modi untuk berkomunikasi langsung dengan kaum muda melalui Instagram justru hanya menuai lebih banyak ejekan serta memicu munculnya berbagai meme turunan lainnya.
Modi juga kehilangan sarana lain yang krusial bagi dominasi BJP atas narasi nasional—yakni saluran berita TV arus utama yang secara luas diakui telah dikooptasi oleh pemerintah BJP selama 12 tahun terakhir dan diubah menjadi corong bagi ideologi nasionalis Hindu sayap kanannya.
Awalnya, saluran-saluran tersebut mengabaikan aksi protes itu, dan ketika mereka meliputnya, pemberitaan itu justru menyiratkan bahwa para pengunjuk rasa didanai oleh kekuatan asing yang berniat jahat serta kelompok teroris Pakistan. Sebagai tanggapan, para pengunjuk rasa berbalik menyerang saluran-saluran tersebut, menggunakan media sosial untuk membongkar "kebohongan" mereka. Saat aksi protes kian memanas, Modi justru sama sekali tidak muncul di layar kaca.
Komentar (0)