Serangan Rudal Houthi Menyasar ke Kilang Minyak Arab Saudi; Blokade Laut Merah Tingkatkan Risiko Energi

erabaru.net
1 jam lalu
Cover Berita

Konflik di Timur Tengah terus berkecamuk. Pada Sabtu (25 Juli), Arab Saudi mencegat dua rudal balistik yang diluncurkan dari Yaman dan menembak jatuh sebuah drone. Kelompok bersenjata Houthi baru-baru ini mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi serta menyerang kapal tanker di Laut Merah, sehingga risiko pelayaran di Selat Mandeb meningkat pesat. Duta Besar Yaman untuk AS menuduh bahwa aksi Houthi belakangan ini merupakan bagian dari strategi keseluruhan Iran untuk memperluas pengaruhnya di kawasan.

EtIndonesia.com Sumber keamanan Yunani menyatakan bahwa sistem pertahanan udara Arab Saudi pada Sabtu (25/7) mencegat dua rudal balistik yang diluncurkan dari Yaman dan ditujukan langsung ke fasilitas kilang minyak Yanbu. Pada Sabtu malam, sistem tersebut juga menembak jatuh sebuah drone yang diluncurkan dari Yaman.

Sistem pertahanan udara Patriot buatan AS yang dioperasikan oleh personel militer Yunani-lah yang bertanggung jawab atas intersepsi tersebut.

Sebelum serangan ini terjadi, kelompok bersenjata Houthi baru saja mengklaim telah menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Selat Mandeb, Laut Merah, dan mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi.

Begitu berita tersebut tersiar, harga minyak internasional sempat melonjak tajam, dengan minyak mentah Brent menembus angka 100 dolar AS per barel untuk pertama kalinya sejak Mei. 

Beberapa kapal tanker terpaksa berbalik arah dan mengambil rute utara melalui Terusan Suez; jika melanjutkan perjalanan ke Asia, mereka mungkin harus memutar melalui Afrika dan Tanjung Harapan, yang akan secara signifikan meningkatkan jarak tempuh, biaya pengiriman, dan premi asuransi.

Duta Besar Yaman untuk Amerika Serikat, Jamila Ali Raja, menyatakan bahwa serangan yang dilakukan kelompok Houthi baru-baru ini merupakan bagian dari strategi keseluruhan Iran untuk memperluas pengaruhnya di kawasan. Ia menuduh kelompok Houthi merusak proses perdamaian, menghalangi ekspor minyak, dan mengancam pelayaran internasional, yang semuanya melayani agenda strategis Teheran, bukan kepentingan nasional Yaman.

Karena Iran telah secara serius mengganggu pelayaran di Selat Hormuz, Arab Saudi saat ini mengalihkan pengiriman jutaan barel minyak mentah setiap hari melalui pipa ke Pelabuhan Yanbu di pesisir Laut Merah, sebelum diekspor ke Eropa dan Asia.

Data menunjukkan bahwa pada Juni lalu, sekitar 7,4 juta barel produk minyak mengalir melalui Selat Mandeb setiap hari, yang mewakili sekitar 7% dari produksi minyak global.

Analisis menunjukkan bahwa jika Selat Mandeb juga diblokade dalam waktu lama, dua jalur ekspor energi utama di Timur Tengah akan terhambat secara bersamaan. Jika blokade berlangsung selama tiga minggu hingga satu bulan, biaya yang harus ditanggung konsumen juga akan meningkat.

Koalisi yang dipimpin Arab Saudi menyatakan telah melancarkan serangan udara terhadap pangkalan militer kelompok Houthi di Provinsi Hodeidah.

Presiden AS Donald Trump juga memperingatkan bahwa jika kelompok Houthi melancarkan serangan lagi, pihak AS akan menuntut pertanggungjawaban Iran, serta menjatuhkan “hukuman militer yang berat” kepada Iran dan kelompok Houthi.

Trump juga menyatakan bahwa AS saat ini sudah “siap siaga”, dan tidak menutup kemungkinan untuk melancarkan serangan berskala lebih besar terhadap Iran, namun ia sekaligus menekankan bahwa kedua belah pihak—AS dan Iran—masih dalam proses negosiasi.

 “Saya rasa mereka serius. Menurut saya, tingkat keseriusan yang mereka tunjukkan saat ini jauh melebihi apa pun yang pernah kami lihat sebelumnya. Namun, ini tidak berarti kami pasti akan mencapai kesepakatan pada akhirnya. Kami akan melihat bagaimana perkembangannya. Namun, saya selalu lebih condong ke opsi negosiasi,” katanya. 

Saat ini, setelah melancarkan serangan terhadap Iran selama 13 malam berturut-turut, militer AS tidak mengumumkan serangan udara baru pada Jumat malam hingga Sabtu dini hari. 

Namun, ketegangan di dua jalur pelayaran energi utama, Laut Merah dan Teluk Persia, terus berlanjut, sehingga memicu kekhawatiran bahwa konflik tersebut dapat meluas lebih jauh dan menimbulkan dampak yang lebih besar terhadap pasokan minyak global serta perekonomian.

Laporan dari Amerika Serikat oleh Jiajia Liu, wartawan New Tang Dynasty Television


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
DPD RI Dorong RUU Daerah Kepulauan Segera Rampung: Sinkronkan Kebijakan Nasional
• 7 jam lalu
0
thumb
Kapal Kargo Vietnam Tenggelam di Laut China Selatan, 17 Orang Hilang
• 22 jam lalu
0
thumb
Ancang-ancang Kaesang Nyaleg di Jateng Direspons Elite Partai Banteng
• 10 jam lalu
0
thumb
Bruuk! Tribun GOR Satria Purwokerto Ambruk, 40 Orang Luka-Luka
• 21 jam lalu
0
thumb
Mengapa LeBron James memilih Philadelphia 76ers?
• 23 jam lalu
0
Berhasil disimpan.