Abdurrohman WahidKader Muda NU
"Organisasi besar belum tentu melahirkan pengaruh besar. Pengaruh lahir ketika organisasi mampu mengubah pengalaman sejarahnya menjadi gagasan yang dibutuhkan zamannya."
SULIT membayangkan Indonesia tanpa Nahdlatul Ulama (NU). Sulit pula membayangkan percakapan tentang Islam moderat dunia tanpa menyebut NU di dalamnya. Selama hampir satu abad, NU bukan hanya berhasil membangun dirinya sebagai organisasi Islam terbesar di dunia, tetapi juga menjelma menjadi salah satu modal sosial (social capital) terbesar yang dimiliki bangsa Indonesia.
Namun, sejarah selalu menyimpan pertanyaan yang sama kepada setiap generasi: apakah kebesaran hari ini akan tetap relevan bagi masa depan? Pertanyaan itulah yang menurut saya menjadi tantangan terbesar NU memasuki abad keduanya.
Baca Juga:Licin! Markas Judi Online di Hayam Wuruk Kelola 145 Website untuk Hindari PemblokiranSebab sejarah tidak pernah memberikan jaminan bahwa organisasi yang besar akan secara otomatis menjadi organisasi yang berpengaruh. Sebaliknya, tidak sedikit organisasi besar yang pada akhirnya hanya menjadi monumen sejarah karena gagal membaca perubahan zaman.NU tidak boleh menjadi organisasi yang hanya besar dalam statistik. NU harus menjadi organisasi yang besar dalam gagasan, besar dalam pengaruh moral, dan besar dalam manfaat yang dirasakan umat manusia.
Mungkin karena itulah, saya semakin meyakini bahwa memasuki abad kedua, Nahdlatul Ulama tidak lagi memadai dipahami sekadar sebagai organisasi kemasyarakatan Islam dengan struktur yang besar dan anggota yang sangat banyak. NU telah tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih kompleks daripada itu. Ia adalah sebuah complex society — ekosistem sosial yang hidup, terus belajar, dan senantiasa beradaptasi terhadap perubahan zaman.
Baca Juga:Kecelakaan Maut Dump Truk Tabrak Gran Max di Tuban, 1 Tewas 3 Luka-LukaYang menarik, para muassis NU sesungguhnya telah mewariskan kepada kita sebuah filsafat organisasi yang jauh melampaui zamannya. Kaidah yang sangat populer di kalangan Nahdliyin, al-muhafazhah 'ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah, jika dibaca melalui perspektif ilmu sosial kontemporer, sesungguhnya merupakan prinsip adaptive leadership. Tradisi dipelihara bukan untuk membekukan perubahan, tetapi justru menjadi fondasi moral yang memungkinkan organisasi melakukan transformasi tanpa kehilangan identitasnya.
Barangkali di situlah letak kejeniusan para muassis NU. Mereka tidak mewariskan kepada kita sebuah organisasi yang selesai dibangun. Mereka mewariskan sebuah cara berpikir untuk terus membangun organisasi sesuai kebutuhan zaman.
Dalam kerangka perenungan seperti itulah saya mencoba membaca arah pemikiran Gus Hery Haryanto Azumi. Yang menarik dari berbagai gagasan yang ia tawarkan bukanlah semata-mata mengenai transformasi organisasi, melainkan cara pandangnya dalam menempatkan NU sebagai produsen gagasan dan pelaku peradaban. NU tidak lagi dipandang sekadar sebagai organisasi besar yang mengelola jutaan warga Nahdliyin, tetapi sebagai institusi moral dan intelektual yang memiliki tanggung jawab untuk ikut membentuk percakapan global tentang Islam, kemanusiaan, dan masa depan dunia.
Baca Juga:Polisi Sita Ratusan Perangkat Elektronik di Markas Judi Online Hayam Wuruk, Ini DaftarnyaAda kegelisahan intelektual yang saya tangkap dari cara pandang tersebut. Bahwa kebesaran NU tidak boleh berhenti menjadi kebanggaan sejarah, melainkan harus diterjemahkan menjadi pengaruh moral, pengaruh intelektual, dan pengaruh diplomatik yang memberi manfaat lebih luas bagi umat manusia.
Pada akhirnya, saya percaya bahwa tantangan terbesar NU pada abad keduanya bukanlah bagaimana mempertahankan kebesarannya, melainkan bagaimana memastikan bahwa kebesaran tersebut tetap relevan bagi masa depan.
Seratus tahun yang lalu, para muassis NU mewariskan kepada kita sebuah rumah besar bernama Nahdlatul Ulama. Hari ini, rumah itu telah tumbuh menjadi salah satu organisasi Islam terbesar di dunia. Tetapi sejarah belum selesai ditulis.
Seratus tahun berikutnya sedang menunggu untuk ditentukan oleh generasi kita sendiri. Akankah NU hanya dikenang sebagai organisasi Islam terbesar yang pernah dimiliki Indonesia? Ataukah NU akan tumbuh menjadi salah satu mercusuar peradaban dunia yang berhasil menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh umat manusia?
Jawaban atas pertanyaan itu tidak terletak pada besarnya organisasi yang kita miliki hari ini, melainkan pada keberanian kita untuk terus belajar, melakukan regenerasi, dan menghadirkan gagasan yang dibutuhkan zaman. Sebab pada akhirnya, dunia tidak pernah bertanya seberapa besar sebuah organisasi.
Baca Juga:Asah Kepekaan Sosial, Peserta PKN LAN Bagikan 100 Liter Minyak Goreng ke Warga MojokertoDunia hanya akan mengingat satu hal: seberapa besar manfaat yang berhasil diberikan kepada umat manusia. Dan mungkin, di situlah sesungguhnya makna terdalam dari khidmah NU pada abad keduanya.
#nasional





Komentar (0)