BRI Jazz Gunung Bromo 2026 menghadirkan beragam warna musik jazz melalui penampilan musisi Indonesia dan internasional di Amfiteater Jiwa Jawa Resort Bromo, Kabupaten Probolinggo, Jumat dan Sabtu (24-25/7/2026).
Festival selama dua hari itu menampilkan musisi lintas generasi dan genre jazz, mulai dari Bilal Indrajaya, Isyana Sarasvati, Batavia Collective, ALI, Littlefingers, hingga Indra Lesmana. Penonton juga disuguhi kolaborasi musisi Indonesia, Taiwan, dan Prancis di tengah suasana pegunungan Bromo yang dingin.
Hari pertama diawali Bromo Jazz Camp, program yang menjadi ruang bagi musisi muda untuk belajar sekaligus menunjukkan kemampuan mereka di atas panggung.
Pertunjukan kemudian dilanjutkan Plutato bersama Cait Lin Musisi asal Taiwan. Mereka menyajikan jazz modern melalui sejumlah komposisi, antara lain “Woman Crosses the Street”, “Syzygy”, “Innocentia”, “Nardis”, dan “Colours in the Sky”.
Bilal Indrajaya menjadi salah satu penampil yang menarik perhatian menjelang matahari terbenam. Dalam penampilan perdananya di Jazz Gunung Bromo, Bilal membawakan lagu “NPT”, “Dara”, “Kaos Kaki Merah”, “Saujana”, “Biar”, dan “Niscaya”.
Lagu “Niscaya” mengajak penonton bernyanyi bersama meski suhu di kawasan Bromo mulai turun semakin dingin. Bilal juga menyajikan lagu-lagunya dengan aransemen yang disesuaikan dengan karakter panggung Jazz Gunung.
Batavia Collective kemudian membawa perpaduan jazz, funk, dan musik elektronik. Kelompok tersebut tampil dengan pendekatan improvisasi tanpa terpaku pada susunan lagu yang kaku.
Nuansa musik tradisional hadir melalui Ring of Fire Project bersama Sri Hanuraga dan Simone Prattico. Kolaborasi tersebut memadukan jazz dengan unsur musik Nusantara serta eksplorasi ritme dari para musisi lintas negara.
Isyana Sarasvati menutup pertunjukan hari pertama dengan permainan piano dan eksplorasi musik yang megah. Penampilannya tetap energik meski suhu Bromo turun hingga di bawah 10 derajat Celsius.
Memasuki hari kedua, Littlefingers membuka pertunjukan dengan warna electronic jazz. Perpaduan instrumen jazz dan unsur elektronik menghangatkan suasana panggung sejak sore hari.
Kevin Yosua Big 6 bersama Nesia Ardi kemudian menghadirkan format ansambel dengan aransemen sejumlah lagu Indonesia. Penampilan tersebut menonjolkan permainan instrumen tiup, ritme, dan vokal dalam komposisi jazz yang dinamis.
ALI membawa warna berbeda melalui gaya habibi funk yang menggabungkan groove funk, musik psikedelik, dan melodi bernuansa Timur Tengah. Penampilan mereka semakin memperkaya genre yang hadir sepanjang festival.
Absar Lebeh gitaris Band ALI saat tampil di BRI Jazz Gunung Bromo 2026 hari kedua, Minggu (26/7/2026). Foto: Jazz BromoKolaborasi lintas negara kembali ditampilkan Simone Prattico Java Collective bersama Sri Hanuraga dan Kevin Yosua. Pertunjukan itu menghadirkan dialog musikal antara ritme, piano, dan instrumen lainnya dalam pendekatan jazz kontemporer.
Watchdog Duo jazz asal Prancis turut menyuguhkan pertunjukan eksperimental menggunakan piano dan klarinet. Formasi minimalis tersebut menghasilkan permainan yang intim sekaligus memberikan pengalaman musikal berbeda bagi penonton.
Puncak hari kedua sekaligus penutup BRI Jazz Gunung Bromo 2026 dibawakan Indra Lesmana LLW bersama Eva Celia dan Teza Sumendra.
Mereka membawakan sejumlah lagu, seperti “Dirimu Kasih”, “Nostalgia”, “Aku Ingin”, “Sedalam Cintamu”, dan “Ekspresi”. Penonton ikut berdiri, bernyanyi, dan berjoget meski suhu malam berada di kisaran 12 derajat Celsius.
Kolaborasi tersebut mempertemukan musisi lintas generasi dalam repertoar karya Indra Lesmana dan Krakatau. Permainan musik LLW, vokal Eva Celia, serta karakter suara Teza Sumendra menjadi penutup dua hari pertunjukan di kawasan Bromo.
Selain pertunjukan musik, penyelenggara menghadirkan pameran seni rupa Bromopedia. Pameran tersebut menampilkan karya instalasi, fotografi, dan seni visual yang mengangkat lanskap Gunung Bromo, kehidupan masyarakat Tengger, perubahan sosial, serta persoalan lingkungan.
Pelaksanaan BRI Jazz Gunung Bromo 2026 juga melibatkan pelaku usaha dan tenaga kerja dari sekitar Kabupaten Probolinggo. Sejumlah UMKM menyediakan produk kuliner, kerajinan, serta kebutuhan pengunjung selama festival berlangsung.
Penyelenggara menargetkan festival tersebut menghasilkan dampak ekonomi lebih dari Rp60 miliar. Sekitar 85 persen tenaga kerja yang terlibat juga disebut berasal dari Kabupaten Probolinggo.
Melalui pertunjukan musik, pameran seni, dan keterlibatan masyarakat lokal, BRI Jazz Gunung Bromo 2026 tidak hanya menjadi panggung bagi para musisi, tetapi juga turut mendorong pariwisata dan ekonomi kreatif di kawasan Bromo. (fab/bil/ham)





Komentar (0)