Cantik ala TikTok: Tren Douyin Makeup atau Tekanan Standar Kecantikan?

kumparan.com
6 jam lalu
Cover Berita

“Mengapa wajah-wajah di TikTok terasa semakin mirip?”

Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi menarik untuk direnungkan. Beberapa tahun terakhir, linimasa TikTok dipenuhi video bertajuk "Douyin Makeup Tutorial, Get Ready With Me (GRWM)", hingga berbagai konten transformasi wajah yang menjanjikan tampilan lebih halus, segar, dan menyerupai gaya rias perempuan Tiongkok.

Dalam hitungan menit, pengguna dapat mengubah tampilan wajah melalui teknik contouring, penggunaan highlighter, hingga pemilihan warna riasan tertentu yang sedang populer. Di balik kreativitas tersebut, muncul fenomena yang lebih luas, yakni semakin banyak konten yang menampilkan karakteristik wajah yang serupa.

Douyin Makeup merupakan gaya rias yang berkembang melalui platform Douyin, yaitu aplikasi media sosial yang berada di bawah perusahaan yang sama dengan TikTok, tetapi ditujukan untuk pasar Tiongkok.

Berbeda dengan tren makeup Barat yang cenderung menonjolkan riasan tegas (bold makeup), Douyin Makeup lebih mengedepankan kesan kulit yang bercahaya, mata yang tampak lebih besar, hidung yang ramping, serta riasan yang memberi efek wajah muda dan lembut. Perkembangan tren ini tidak lagi terbatas di Tiongkok, melainkan telah menyebar ke berbagai negara dan menjadi salah satu referensi gaya rias yang banyak digunakan oleh kreator kecantikan, termasuk di Indonesia.

Penyebaran tren tersebut memperlihatkan bahwa media sosial kini berperan sebagai ruang pertukaran budaya yang berlangsung sangat cepat. Teknik rias yang awalnya berkembang dalam konteks budaya Tiongkok dapat dipelajari, dimodifikasi, lalu dipraktikkan oleh kreator Indonesia hanya melalui video berdurasi kurang dari satu menit.

Fenomena ini menunjukkan bahwa arus budaya tidak lagi bergantung pada media konvensional, tetapi bergerak melalui platform digital yang memungkinkan pengguna dari berbagai negara saling memengaruhi dalam waktu yang relatif singkat. Namun, perpindahan tren kecantikan tidak hanya membawa teknik merias wajah.

Di balik setiap tutorial, tersimpan pesan mengenai karakteristik fisik yang dianggap menarik, seperti kulit cerah, wajah berbentuk V-shape, mata besar, dan hidung ramping menjadi elemen yang terus muncul dalam berbagai konten kecantikan. Ketika visual dengan karakteristik serupa terus memenuhi linimasa pengguna, batas antara inspirasi dan standar kecantikan menjadi semakin tipis. Tanpa disadari, audiens dapat mulai menganggap bahwa ciri-ciri tersebut merupakan gambaran perempuan yang ideal.

Fenomena tersebut sejalan dengan temuan Zhang (2024) yang menunjukkan bahwa paparan konten kecantikan di Douyin tidak hanya memengaruhi preferensi estetika perempuan muda di Tiongkok, tetapi juga membentuk tekanan psikologis untuk menyesuaikan penampilan dengan standar yang dominan di media sosial.

Sebagian partisipan dalam penelitian tersebut mengaku lebih sering membandingkan dirinya dengan figur yang mereka lihat di layar, sehingga muncul rasa tidak puas terhadap penampilan sendiri. Temuan ini mengindikasikan bahwa konten kecantikan bukan sekadar hiburan, melainkan juga dapat membentuk cara seseorang memandang dirinya sendiri.

Dalam kajian komunikasi antarbudaya, fenomena tersebut menarik karena memperlihatkan bagaimana sebuah produk budaya dapat berpindah lintas negara sekaligus mengalami penyesuaian ketika diterima oleh masyarakat dengan latar budaya yang berbeda.

Di Indonesia, Douyin Makeup tidak selalu ditiru secara utuh. Banyak beauty creator mulai mengadaptasi teknik rias tersebut dengan menyesuaikan warna kulit, bentuk wajah, maupun preferensi audiens lokal. Di sinilah proses komunikasi antarbudaya berlangsung, yaitu ketika budaya asing tidak hanya diterima, tetapi juga dimaknai ulang sesuai dengan konteks sosial masyarakat penerima (Jandt, 2020).

Artikel ini berangkat dari pertanyaan sederhana, apakah Douyin Makeup hanya sekadar tren kecantikan, atau justru ikut membentuk stereotip baru mengenai standar kecantikan perempuan di ruang digital?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, artikel ini menggunakan perspektif Stereotip Digital yang dikemukakan oleh Baldwin et al. (2023). Melalui perspektif tersebut, pembahasan akan difokuskan pada bagaimana konten beauty creator TikTok Indonesia merepresentasikan standar kecantikan, serta bagaimana representasi tersebut berpotensi memengaruhi cara masyarakat memaknai kecantikan di tengah derasnya arus komunikasi antarbudaya.

Popularitas Douyin Makeup tidak bisa dilepaskan dari cara TikTok bekerja. Berbeda dengan media sosial yang menampilkan konten berdasarkan siapa yang diikuti pengguna, TikTok mengandalkan algoritma For You Page (FYP) yang merekomendasikan video sesuai pola interaksi pengguna. Semakin sering seseorang menonton video bertema kecantikan, semakin banyak pula konten serupa yang muncul di berandanya.

Akibatnya, pengguna dapat melihat puluhan video dengan gaya rias, teknik, bahkan karakter wajah yang hampir sama hanya dalam waktu singkat. Sekilas, kondisi tersebut tampak sebagai konsekuensi wajar dari sistem rekomendasi algoritma. Namun, jika diamati lebih jauh, pola ini memiliki dampak yang lebih luas. Konten yang terus berulang secara perlahan membangun persepsi mengenai seperti apa wajah yang dianggap menarik. Tanpa disadari, pengguna mulai menghubungkan kecantikan dengan karakteristik yang paling sering muncul di layar mereka.

Sejalan dengan konsep Stereotip Digital yang dijelaskan oleh Baldwin et al. (2023). Mereka berpendapat bahwa ruang digital bukan hanya dimanfaatkan untuk berbagi informasi, melainkan juga menjadi ruang yang membentuk cara masyarakat memahami kelompok sosial, identitas, maupun simbol budaya.

Representasi yang terus diulang dalam media digital berpotensi menciptakan gambaran yang dianggap sebagai sesuatu yang normal atau ideal, meskipun kenyataannya tidak selalu mencerminkan keberagaman yang ada di masyarakat.

Dalam kasus Douyin Makeup, stereotip tidak muncul karena ada pihak yang secara eksplisit menyatakan bahwa perempuan cantik harus memiliki karakteristik fisik tertentu.

Stereotip justru terbentuk melalui representasi visual yang terus berulang di media sosial. Ketika pengguna berkali-kali melihat wajah dengan karakteristik yang serupa, persepsi mengenai kecantikan perlahan terbentuk melalui pengalaman mengonsumsi konten, bukan melalui pesan yang disampaikan secara langsung.

Fenomena tersebut sejalan dengan temuan Lang et al. (2024) yang mengindikasikan bahwa paparan konten media sosial turut membentuk persepsi perempuan muda terhadap standar kecantikan.

Melalui penelitian kualitatif di Tiongkok, para peneliti menemukan bahwa sebagian besar partisipan menyadari adanya standar kecantikan yang dominan di media sosial dan merasakan tekanan untuk menyesuaikan penampilannya dengan citra yang terus ditampilkan.

Meskipun gerakan body positivity mulai berkembang sebagai alternatif yang mendorong penerimaan terhadap keberagaman tubuh, para partisipan menilai bahwa representasi standar kecantikan ideal masih jauh lebih mendominasi ruang digital sehingga tetap memengaruhi cara mereka memandang diri sendiri.

Temuan tersebut memberikan gambaran bahwa pengaruh media sosial terhadap persepsi kecantikan tidak hanya terjadi di Tiongkok. Ketika tren Douyin Makeup diadopsi oleh beauty creator Indonesia, karakteristik visual yang sama ikut diperkenalkan kepada audiens lokal. Walaupun banyak kreator menyesuaikan teknik rias dengan warna kulit dan bentuk wajah masyarakat Indonesia, elemen-elemen utama seperti kulit yang tampak cerah, wajah yang lebih kecil, serta riasan yang memberikan kesan muda tetap dipertahankan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa yang berpindah bukan hanya teknik makeup, tetapi juga nilai-nilai estetika yang menyertainya. Dalam perspektif komunikasi antarbudaya, proses tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah praktik budaya dapat diterima dan dimaknai kembali di lingkungan budaya yang berbeda tanpa sepenuhnya melepaskan karakteristik asalnya.

Di sinilah komunikasi antarbudaya bekerja secara nyata. Seperti yang dijelaskan oleh Jandt (2020), komunikasi antarbudaya bukan hanya pertukaran bahasa atau informasi, tetapi juga pertukaran makna, nilai, dan cara pandang. Douyin Makeup menjadi contoh bagaimana sebuah tren yang lahir dari konteks budaya Tiongkok dapat diterima oleh masyarakat Indonesia, kemudian diadaptasi sesuai dengan kebutuhan dan preferensi lokal.

Proses ini memperlihatkan bahwa budaya bersifat dinamis, tidak sekadar disalin, tetapi juga ditafsirkan ulang oleh masyarakat yang menerimanya. Namun, adaptasi budaya tersebut juga menghadirkan tantangan. Ketika representasi wajah tertentu lebih sering memperoleh perhatian dibandingkan karakteristik fisik lainnya, ruang digital berpotensi menghadirkan standar kecantikan yang semakin homogen.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengurangi apresiasi terhadap keberagaman wajah dan warna kulit yang justru menjadi bagian dari identitas masyarakat Indonesia. Tren kecantikan sebaiknya dipahami sebagai bentuk ekspresi kreatif, bukan sebagai ukuran tunggal untuk menentukan siapa yang layak disebut cantik.

Beauty Creator Indonesia: Antara Kreativitas, Tren, dan Tanggung Jawab Sosial

Penyebaran Douyin Makeup di Indonesia tidak terjadi begitu saja. Di balik popularitas tren tersebut, terdapat peran beauty creator yang menjadi penghubung antara tren kecantikan global dan audiens lokal.

Melalui tutorial, ulasan produk, maupun konten Get Ready With Me (GRWM), para kreator tidak hanya memperkenalkan teknik rias wajah baru, tetapi juga membantu menerjemahkan tren yang berasal dari Tiongkok agar lebih mudah dipahami oleh pengguna di Indonesia. Dalam proses inilah beauty creator berperan sebagai jembatan komunikasi antarbudaya yang mempertemukan nilai estetika dari budaya lain dengan preferensi masyarakat Indonesia.

Menariknya, sebagian besar beauty creator Indonesia tidak mengadopsi Douyin Makeup secara utuh. Banyak di antaranya melakukan berbagai penyesuaian agar tren tersebut terasa lebih dekat dengan karakteristik wajah dan warna kulit perempuan Indonesia.

Misalnya, pemilihan warna foundation yang lebih sesuai dengan kulit sawo matang, penggunaan warna blush yang tidak terlalu mencolok, warna eyeshadow yang lebih netral atau teknik rias yang lebih sederhana agar mudah diterapkan dalam aktivitas sehari-hari. Adaptasi tersebut menunjukkan bahwa proses komunikasi antarbudaya tidak berhenti pada peniruan, melainkan melibatkan interpretasi ulang sesuai dengan konteks budaya lokal.

Di balik proses adaptasi tersebut, terdapat dinamika lain yang perlu diperhatikan. Demi mengikuti preferensi algoritma TikTok, banyak konten kecantikan cenderung menampilkan visual yang dianggap menarik perhatian pengguna. Wajah yang simetris, pencahayaan yang terang, penggunaan filter, hingga hasil akhir yang terlihat sempurna sering kali menjadi elemen yang memperoleh tingkat interaksi lebih tinggi. Situasi ini secara tidak langsung mendorong kreator untuk terus memproduksi konten dengan pola visual yang serupa agar tetap relevan.

Di sinilah peran beauty creator menjadi kompleks. Di satu sisi, mereka merupakan individu kreatif yang berbagi inspirasi dan pengetahuan mengenai dunia kecantikan. Di sisi lain, mereka juga menjadi aktor yang ikut membentuk representasi mengenai perempuan ideal di ruang digital.

Representasi tersebut tidak selalu disampaikan melalui narasi verbal, melainkan melalui visual yang ditampilkan secara konsisten dalam setiap unggahan. Ketika bentuk wajah tertentu, warna kulit tertentu, atau hasil rias tertentu lebih sering memperoleh eksposur dibandingkan representasi lainnya, audiens berpotensi menganggap karakteristik tersebut sebagai standar yang lebih diinginkan.

Kondisi tersebut sejalan dengan penelitian Lang et al. (2024) yang menjelaskan bahwa media sosial masih didominasi oleh konten yang menampilkan karakteristik fisik tertentu sebagai representasi kecantikan. Meskipun gerakan body positivity dan kampanye keberagaman mulai berkembang, tetap saja paparan terhadap konten yang menampilkan standar kecantikan seragam masih jauh lebih besar.

Akibatnya, pengguna media sosial tetap lebih sering berhadapan dengan citra perempuan yang memiliki karakteristik visual yang relatif sama. Meski demikian, tidak sedikit beauty creator Indonesia yang mulai mengambil posisi berbeda. Beberapa kreator secara terbuka mengajak audiens untuk memilih teknik makeup sesuai bentuk wajah masing-masing, bukan sekadar mengikuti tren yang sedang viral.

Ada pula yang menampilkan wajah tanpa filter, membahas tekstur dan kondisi kulit secara jujur, hingga mengulas produk yang lebih cocok untuk berbagai warna kulit. Konten semacam ini memperlihatkan bahwa beauty creator tidak selalu menjadi pihak yang memperkuat stereotip digital, tetapi juga dapat berperan dalam menghadirkan representasi yang lebih beragam dan inklusif.

Dari perspektif komunikasi antarbudaya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa arus budaya global tidak selalu menghasilkan keseragaman. Tren yang berasal dari luar negeri dapat diterima, dimodifikasi, bahkan dikritisi sesuai dengan nilai dan pengalaman masyarakat lokal. Dengan kata lain, beauty creator Indonesia tidak hanya menjadi penerima tren global, tetapi juga aktor yang memiliki ruang untuk menentukan bagaimana tren tersebut diperkenalkan dan akhirnya dimaknai oleh audiens Indonesia.

Perlukah Kita Mengkritisi Standar Kecantikan di Era Algoritma?

Pada dasarnya, tidak ada yang salah dengan mengikuti tren kecantikan. Makeup merupakan salah satu bentuk ekspresi diri yang terus berkembang seiring perubahan budaya dan teknologi.

Setiap tren, termasuk Douyin Makeup, lahir dari kreativitas dan menjadi bagian dari dinamika industri kecantikan global. Persoalannya muncul ketika tren tersebut tidak lagi dipandang sebagai pilihan, melainkan berubah menjadi ukuran yang dianggap mewakili kecantikan itu sendiri.

Di era algoritma, proses tersebut berlangsung secara halus dan sering kali tidak disadari. Pengguna tidak dipaksa untuk menyukai satu jenis konten tertentu, tetapi terus-menerus diperlihatkan konten dengan karakteristik yang serupa.

Semakin lama seseorang berinteraksi dengan video bertema kecantikan, semakin besar kemungkinan algoritma menyajikan representasi visual yang hampir sama. Akibatnya, pengguna lebih sering berhadapan dengan wajah yang dianggap "ideal" dibandingkan dengan wajah yang mencerminkan keberagaman masyarakat. Kondisi ini menunjukkan bahwa algoritma bukan sekadar teknologi yang mengatur distribusi konten, tetapi juga memiliki peran dalam membentuk preferensi pengguna. Baldwin et al. (2023) menjelaskan bahwa ruang digital dapat memperkuat stereotip melalui pengulangan representasi yang terus-menerus.

Dalam konteks TikTok, stereotip tersebut tidak muncul melalui pernyataan eksplisit mengenai siapa yang cantik atau tidak cantik, melainkan melalui pola visual yang terus memperoleh ruang lebih besar dibandingkan representasi lainnya.

Di sisi lain, pengguna media sosial juga bukan pihak yang sepenuhnya pasif. Audiens memiliki kemampuan untuk memilih konten yang dikonsumsi, mengikuti kreator dengan perspektif yang beragam, serta bersikap lebih kritis terhadap standar kecantikan yang berkembang di media sosial.

Kemampuan literasi digital diperlukan agar pengguna mampu membedakan antara konten yang bersifat inspiratif dengan representasi yang berpotensi membatasi cara pandang terhadap kecantikan. Peran beauty creator juga tidak kalah penting. Sebagai figur yang memiliki pengaruh terhadap jutaan pengguna, mereka memiliki kesempatan untuk memperluas representasi kecantikan dengan menampilkan berbagai karakteristik wajah, warna kulit, dan latar belakang yang lebih beragam.

Upaya tersebut tidak berarti menolak tren global seperti Douyin Makeup, melainkan menghadirkan sudut pandang bahwa kecantikan tidak hanya memiliki satu definisi. Ketika keberagaman memperoleh ruang yang sama besar dengan tren yang sedang populer, media sosial dapat menjadi tempat yang tidak hanya menghibur, tetapi juga lebih inklusif.

Pada akhirnya, tantangan terbesar di era media digital bukanlah menghentikan arus budaya global, melainkan memastikan bahwa setiap budaya yang masuk dapat dipahami secara kritis tanpa menghilangkan penghargaan terhadap identitas lokal. Douyin Makeup dapat tetap menjadi inspirasi dalam dunia kecantikan, selama pengguna menyadari bahwa tren tersebut merupakan salah satu bentuk ekspresi budaya, bukan satu-satunya tolok ukur untuk menilai kecantikan perempuan.

Ketika Tren Global Bertemu Identitas Lokal

Salah satu hal yang menarik dari perkembangan media sosial adalah kemampuannya mempertemukan berbagai budaya dalam ruang yang sama. Melalui TikTok, pengguna Indonesia dapat mengakses tren kecantikan dari Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, hingga Amerika Serikat hanya dalam hitungan detik. Situasi ini memperlihatkan bahwa proses komunikasi antarbudaya pada era digital tidak lagi bergantung pada perpindahan manusia secara fisik, melainkan berlangsung melalui pertukaran simbol, gaya hidup, dan praktik budaya yang beredar di media sosial.

Douyin Makeup menjadi salah satu contoh bagaimana sebuah tren lokal dapat berkembang menjadi fenomena global. Awalnya, gaya rias ini merefleksikan preferensi estetika yang berkembang di Tiongkok.

Namun, ketika tren tersebut diadopsi oleh beauty creator Indonesia, maknanya tidak lagi sepenuhnya sama. Beberapa teknik rias tetap dipertahankan, tetapi sebagian lainnya mengalami penyesuaian agar lebih sesuai dengan karakteristik wajah, serta selera pengguna di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa budaya tidak berpindah secara utuh, melainkan mengalami proses adaptasi ketika memasuki lingkungan budaya yang baru.

Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa komunikasi antarbudaya bukan sekadar proses menerima budaya asing, tetapi juga proses menafsirkan kembali budaya tersebut sesuai dengan pengalaman lokal.

Seperti dijelaskan oleh Jandt (2020), komunikasi antarbudaya selalu melibatkan negosiasi makna. Setiap individu membawa nilai, pengalaman, dan latar budaya yang berbeda ketika menerima suatu pesan. Oleh karena itu, tren yang sama dapat menghasilkan pemaknaan yang berbeda di setiap negara.

Dalam konteks Indonesia, proses adaptasi tersebut terlihat ketika beauty creator mulai menyesuaikan Douyin Makeup dengan karakteristik perempuan Indonesia. Misalnya, pemilihan warna complexion yang lebih sesuai dengan kulit sawo matang atau penggunaan teknik rias yang lebih sederhana agar mudah diterapkan dalam aktivitas sehari-hari.

Adaptasi ini menunjukkan bahwa tren global tidak selalu menghapus identitas lokal, tetapi justru dapat melahirkan bentuk baru yang lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia. Meski demikian, proses pertukaran budaya juga membawa tantangan, ketika satu representasi kecantikan lebih sering muncul dibandingkan representasi lainnya, ruang digital berpotensi menciptakan kesan bahwa standar tersebut berlaku secara universal. Padahal, konsep kecantikan selalu dipengaruhi oleh latar budaya, sejarah, dan nilai yang berbeda-beda.

Apa yang dianggap ideal di satu negara belum tentu memiliki makna yang sama di negara lain. Oleh karena itu, memahami tren kecantikan melalui perspektif komunikasi antarbudaya menjadi penting agar masyarakat tidak melihat standar kecantikan sebagai sesuatu yang mutlak, melainkan sebagai hasil dari proses budaya yang terus berubah.

Dengan demikian, fenomena Douyin Makeup tidak hanya menunjukkan bagaimana budaya menyebar melalui media digital, tetapi juga memperlihatkan bagaimana masyarakat lokal memiliki peran aktif dalam memilih, mengadaptasi, bahkan mengubah makna dari budaya yang mereka terima. Di sinilah komunikasi antarbudaya bekerja sebagai proses dua arah, bukan sekadar perpindahan budaya dari satu negara ke negara lain.

Penutup

Douyin Makeup memperlihatkan bahwa tren kecantikan di era digital tidak lagi bergerak dalam batas-batas geografis. Melalui TikTok, praktik rias wajah yang berkembang di Tiongkok dapat dengan mudah diakses, dipelajari, dan diadaptasi oleh beauty creator Indonesia. Proses ini memperlihatkan bahwa media sosial kini menjadi ruang komunikasi antarbudaya yang mempercepat pertukaran nilai, simbol, dan preferensi estetika antarnegara.

Perpindahan budaya tersebut juga membawa konsekuensi yang tidak selalu terlihat. Ketika representasi wajah dengan karakteristik tertentu terus mendominasi ruang digital, standar kecantikan perlahan terbentuk melalui pengulangan visual yang diterima pengguna setiap hari. Dalam perspektif Stereotip Digital yang dikemukakan Baldwin et al. (2023), kondisi ini memperlihatkan bahwa media digital tidak hanya menyebarkan tren, tetapi juga berpotensi membentuk persepsi kolektif mengenai siapa yang dianggap cantik dan ideal. Temuan Lang et al. (2024) menunjukkan bahwa dominasi konten yang menampilkan standar kecantikan tertentu di media sosial berkontribusi dalam membentuk persepsi perempuan muda terhadap penampilan dan citra dirinya.

Meski demikian, komunikasi antarbudaya tidak selalu berakhir pada penyeragaman budaya. Adaptasi yang dilakukan oleh beauty creator Indonesia menunjukkan bahwa tren global dapat diterima tanpa harus menghilangkan identitas lokal.

Penyesuaian terhadap warna kulit, karakteristik wajah, hingga gaya rias yang lebih sesuai dengan konteks Indonesia menjadi bukti bahwa masyarakat tidak sekadar menerima budaya global, melainkan juga aktor yang aktif menafsirkan dan mengembangkannya kembali. Oleh karena itu, yang perlu dikritisi bukanlah keberadaan Douyin Makeup sebagai tren kecantikan, melainkan cara media digital membentuk persepsi mengenai kecantikan melalui representasi yang terus diulang.

Ketika algoritma lebih banyak menampilkan wajah dengan karakteristik tertentu, ruang digital berisiko mempersempit makna cantik menjadi satu definisi yang seragam. Padahal, kecantikan selalu lahir dari keberagaman budaya, pengalaman, dan identitas yang dimiliki setiap individu.

Di tengah derasnya arus budaya global, tantangan terbesar bukanlah menolak hadirnya tren dari berbagai negara, melainkan membangun kesadaran bahwa setiap tren merupakan produk budaya yang dapat diapresiasi tanpa harus dijadikan ukuran tunggal dalam menilai diri sendiri maupun orang lain. Dengan cara itulah media digital dapat berfungsi sebagai ruang komunikasi antarbudaya yang tidak hanya mempertemukan berbagai budaya, tetapi juga menghargai keberagaman yang menjadi kekayaan masyarakat Indonesia.

Daftar Pustaka

Baldwin, J. R., Coleman, R. R. M., González, A., & Shenoy-Packer, S. (2023). Intercultural communication for everyday life (2nd ed.). Wiley.

Jandt, F. E. (2020). An Introduction to Intercultural Communication: Identities in a Global Community (10th ed.). SAGE Publications.

Sorrells, K. (2022). Intercultural Communication: Globalization and Social Justice (3rd ed.). SAGE Publications.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Gubernur Kaltara harap LCC MPR lahirkan pemimpin masa depan
• 2 jam lalu
0
thumb
Hasil Final China Open 2026: Fajar/Fikri Juara, Ini Daftar Pemenangnya
• 16 jam lalu
0
thumb
Moonshot AI Rilis Kimi K3 untuk Publik usai Guncang Silicon Valley
• 32 menit lalu
0
thumb
Basarnas Evakuasi Sopir Truk dari Kabin Usai Tabrak Enam Rumah di Gempol
• 4 jam lalu
0
thumb
Dewa 19 Buka Polling 1.000 Fans untuk Tentukan Lagu di Konser Surabaya Bareng Padi Reborn
• 19 jam lalu
0
Berhasil disimpan.