JAKARTA, KOMPAS.com - Hari ini, 30 tahun lalu, peristiwa kerusuhan besar terjadi yang kini dikenang dengan nama Kudatuli.
Kudatuli adalah akronim dari Kerusuhan 27 Juli 1996 yang menyebabkan lima nyawa melayang, 149 luka-luka, dan 23 lainnya hilang.
Peristiwa ini menyeret nama besar, seperti aktivis sekaligus penyair Wiji Thukul, dan juga aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang kini menduduki Kepala Badan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko.
Baca juga: Kasus Febrie Adriansyah, Abraham Samad Singgung Peran SBY Turun Tangan dalam Kasus Cicak vs Buaya
Apa yang terjadi dalam peristiwa tersebut dan apa yang menjadi penyebabnya?
Berikut sejumlah fakta dan kronologi peristiwa Kudatuli.
Awal konflik
Dilansir dari Kompas.com, peristiwa ini erat kaitannya dengan konflik internal partai saat Kongres IV PDI.
Kongres itu menetapkan Soerjadi sebagai Ketua Umum PDI.
Baca juga: Tanpa Rompi Tahanan, Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah Resmi Ditahan di Rutan KPK
Diberitakan Harian Kompas, 22 Juli 1993, hari pertama Kongres IV PDI di Medan, Sumatera Utara diwarnai kericuhan.
Ada pengambilalihan pimpinan sidang oleh Yacob Nuwa Wea yang mengaku sebagai fungsionaris dari DPP PDI Peralihan, bersama 400 rekannya yang menerobos ruang kongres.
Saat itu ada dua kubu dalam internal PDI.Kubu pertama mendukung Soerjadi dan satu lagi ada di kubu Megawati Soekarnoputri.
Baca juga: Refleksi Kudatuli PDIP 2026
Akibat suara yang tidak bulat, kericuhan ini berbuntut keputusan Menkopolkam Soesilo Sudarman yang mengatakan Kongres Medan tidak sah dan akan digelar kongres luar biasa (KLB) di Surabaya. Namun, KLB di Surabaya gagal.
Megawati menyatakan diri sebagai Ketua Umum PDI secara de facto dan dikukuhkan melalui Musyawarah Nasional (Munas) PDI pada 22 Desember 1993 di Kemang, Jakarta Selatan.
Komentar (0)