CIAMIS, KOMPAS.com - Sore belum sepenuhnya turun ketika panggung bambu di Kampung Adat Kuta, Ciamis, Jawa Barat mulai dipenuhi tas kamera, lensa telefoto, tripod, kamera video, perekam suara, hingga tas perlengkapan wartawan.
Biasanya alat-alat itu menjadi simbol kecepatan kerja jurnalistik. Namun, di Kampung Kuta, semuanya mendadak diam.
Tak ada satu pun kamera yang langsung diarahkan ke objek. Tak ada tombol rekam yang ditekan.
Baca juga: Rusun Klender, Hunian Vertikal Pertama Jakarta yang Kini Berpacu dengan Usia
Di hadapan Kepala Adat Kampung Kuta, seluruh peralatan liputan terlebih dahulu "beristirahat", menunggu doa dipanjatkan.
Jarum jam menunjukkan pukul 16.54 WIB, Minggu (26/7/2026). Prosesi adat itu menjadi pembuka rangkaian Kunjungan Jurnalistik Tahun 2026 bertema "Suarakan Kisah Hutan Adat, Membawa Cerita dari Hutan".
Di atas karpet merah, kamera-kamera profesional yang biasanya sibuk memburu momen justru disusun rapi menghadap sang kepala adat.
Tak ada aba-aba "action". Yang terdengar hanya suara alam.
Semilir angin menggesek rumpun bambu hingga menimbulkan desir lembut. Burung-burung sesekali bersahutan dari balik pepohonan yang mengelilingi kampung adat.
Di sela keheningan itu, suara napas para jurnalis terdengar lebih jelas dari biasanya. Kemudian asap kemenyan mulai mengepul.
Aromanya perlahan memenuhi ruang terbuka.
Wangi khas yang pekat, bercampur dengan bau bambu tua, anyaman dinding rumah adat, tanah yang mulai lembap menjelang petang, dan dedaunan yang mengering di halaman.
Baca juga: Usai Bentrokan Maut di Menteng, Jalan Tambak Jakpus Masih Dijaga Aparat
Suasananya terasa hening, namun bukan sunyi. Semua orang memilih menundukkan kepala.
Bahkan mereka yang sedari tadi menggenggam telepon seluler ikut menyimpannya sejenak.
Prosesi berlangsung sederhana selama kurang lebih lima menit, tetapi menghadirkan rasa hormat yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Komentar (0)