Menjadi Manusia di Era Digital

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Setiap manusia memiliki kebutuhan dasar yang serupa: ingin dipahami, diterima, didengar, dan merasa terhubung dengan orang lain. Kebutuhan tersebut bukan sesuatu yang muncul karena internet atau media sosial hadir. Jauh sebelum teknologi berkembang, manusia telah mencari cara untuk membangun hubungan dan memperoleh rasa memiliki. Yang berubah hanyalah cara manusia memenuhi kebutuhan tersebut.

Di era digital, banyak bentuk komunikasi yang dahulu berlangsung secara langsung kini berpindah ke layar. Kita berbagi cerita melalui pesan singkat, mencari dukungan melalui komunitas daring, menggunakan kecerdasan buatan sebagai ruang bercerita, hingga membangun hubungan melalui berbagai platform digital. Teknologi membuat komunikasi menjadi lebih cepat, luas, dan mudah dijangkau.

Namun, perkembangan teknologi membawa satu pertanyaan penting: apakah teknologi benar-benar mengubah manusia, atau hanya mengubah cara manusia mengekspresikan kebutuhan yang sejak dahulu telah ada?

Pertanyaan inilah yang menjadi dasar pembahasan dalam tulisan ini. Berbagai fenomena komunikasi digital yang muncul dalam beberapa artikel sebelumnya mulai dari rasa takut dihakimi, kebiasaan bercerita kepada AI, penggunaan akun kedua, hingga kecenderungan memberi makna pada centang biru, status online, dan notifikasi sebenarnya memiliki satu benang merah yang sama. Di balik perubahan teknologi, terdapat manusia yang tetap memiliki kebutuhan untuk dipahami, diterima, didengar, dan terhubung.

Ketika dilihat lebih dalam, berbagai fenomena komunikasi digital mulai menunjukkan pola yang serupa. Rasa takut menyampaikan pendapat, memilih bercerita kepada AI, membuat akun kedua, membatasi audiens, merasa cemas ketika pesan tidak segera dibalas, hingga dorongan untuk terus memeriksa notifikasi terlihat seperti persoalan yang berbeda. Namun, di balik semua itu terdapat dorongan yang sama: manusia ingin merasa dipahami, diterima, dan tetap terhubung. Perubahan yang dibawa teknologi bukanlah menciptakan kebutuhan baru dalam diri manusia, melainkan menghadirkan cara baru untuk memenuhi kebutuhan yang telah ada.

Ruang bercerita yang dahulu hanya ditemukan melalui percakapan tatap muka kini dapat hadir melalui berbagai bentuk komunikasi digital. Pengakuan sosial yang sebelumnya banyak diperoleh melalui lingkungan sekitar kini juga dapat muncul melalui interaksi di dunia maya. Karena itu, fenomena digital tidak dapat dilihat hanya sebagai perubahan teknologi. Di balik setiap pesan yang dikirim, unggahan yang dibagikan, atau respons yang ditunggu, terdapat manusia yang sedang membangun hubungan dan mencari makna dalam interaksi sosialnya. Teknologi menjadi ruang baru tempat manusia mengekspresikan kebutuhan yang sejak lama melekat dalam kehidupannya.

Untuk memahami mengapa teknologi mampu mengubah cara manusia berkomunikasi tanpa menghilangkan kebutuhan dasarnya, kita dapat melihatnya melalui perspektif komunikasi.

Marshall McLuhan melalui Media Ecology Theory menjelaskan bahwa media bukan hanya alat untuk menyampaikan pesan, tetapi juga lingkungan yang membentuk cara manusia berpikir, berinteraksi, dan memahami dunia. Dalam kajian ekologi media, teknologi dipandang sebagai lingkungan yang turut memengaruhi pola sosial, budaya, dan cara manusia menjalani kehidupannya. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa perubahan media turut memengaruhi cara manusia membangun hubungan sosial. Ketika teknologi berkembang, manusia tidak kehilangan kebutuhan untuk berkomunikasi, melainkan menemukan ruang baru untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Media digital menjadi lingkungan yang memungkinkan manusia mencari hubungan, memperoleh pengakuan, dan mengekspresikan dirinya dengan cara yang berbeda. Hal ini juga sejalan dengan perspektif psikologi komunikasi yang melihat bahwa perilaku manusia dalam berinteraksi tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan sosial dan emosional. Keinginan untuk didengar, diterima, merasa aman, dan terhubung merupakan bagian dari kebutuhan sosial manusia yang tetap ada meskipun lingkungan komunikasinya berubah.

Berbagai penelitian mengenai komunikasi digital juga menunjukkan bahwa ruang daring dapat menjadi salah satu tempat bagi individu untuk membangun rasa memiliki (need to belong) dan mempertahankan hubungan sosial. Dengan demikian, memahami komunikasi digital bukan hanya tentang memahami teknologi yang digunakan manusia, tetapi juga memahami manusia yang hidup di dalam lingkungan teknologi tersebut. Media dapat berubah, tetapi alasan manusia untuk berkomunikasi tetap berakar pada kebutuhan yang sama.

Teknologi akan terus berkembang. Media sosial akan berubah, kecerdasan buatan akan semakin canggih, dan cara manusia berkomunikasi akan terus mengalami penyesuaian. Namun, di balik seluruh perubahan tersebut, manusia tetap memiliki kebutuhan untuk membangun hubungan, memperoleh pemahaman, dan merasa menjadi bagian dari sesuatu. Karena itu, tantangan terbesar di era digital bukan hanya tentang kemampuan mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga tentang bagaimana manusia menjaga nilai-nilai yang membuat komunikasi memiliki makna.

Empati, kepercayaan, dan kemampuan untuk memahami orang lain tetap menjadi dasar dalam membangun hubungan, baik di ruang digital maupun kehidupan nyata. Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan lagi apakah teknologi mengubah manusia, melainkan apakah manusia masih mampu mempertahankan kemanusiaannya di tengah perubahan tersebut. Menjadi manusia di era digital bukan berarti menolak teknologi, tetapi menggunakan teknologi tanpa kehilangan kemampuan untuk mendengar, memahami, dan memperlakukan orang lain sebagai manusia. Sebab pada akhirnya, teknologi akan terus berubah. Namun, alasan manusia untuk berkomunikasi akan selalu sama yaitu, ingin dipahami, diterima, didengar, dan tetap terhubung dengan orang lain.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
11 Kabupaten di Sumsel Siaga Darurat Karhutla
• 5 jam lalu
0
thumb
Mencekam, 1 Orang Terkapar Akibat Bentrokan Antarwarga di Jalan Tambak Menteng
• 10 jam lalu
0
thumb
Lewis Hamilton Kena Penalti Tiga Posisi usai Halangi Oscar Piastri pada Kualifikasi GP Hungaria
• 18 jam lalu
0
thumb
Bersama PNM Mekaar mesin jahit tua mampu hidupi lima keluarga
• 11 jam lalu
0
thumb
Saat Kaesang Pangarep Umumkan Maju Pileg 2029 dari Dapil Puan
• 17 jam lalu
0
Berhasil disimpan.