Damaskus: Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menyebut Suriah kini memiliki peluang untuk pulih dari konflik berkepanjangan dan membangun masa depan yang lebih stabil.
"Hari ini, Suriah menghadapi momen penuh peluang, bukan hanya untuk pulih dari konflik, tetapi juga meletakkan fondasi bagi masa depan yang lebih stabil, inklusif, dan sejahtera bagi semua," tulis Guterres melalui akun media sosial X, Minggu, 26 Juli 2026.
Dilansir dari Anadolu Agency, Guterres mengunjungi Penjara Sednaya yang terletak di utara Damaskus pada Sabtu dalam lawatan bersejarahnya ke Suriah. Kunjungan tersebut menjadi yang pertama dilakukan oleh seorang Sekjen PBB ke negara itu sejak 2009.
Saat meninjau kompleks penjara, Guterres mengatakan Sednaya memperlihatkan besarnya penindasan yang terjadi pada masa pemerintahan Bashar al-Assad.
"Penjara militer Sednaya menunjukkan betapa mengerikannya penindasan pada masa rezim Suriah sebelumnya," ujarnya.
Ia menggambarkan kondisi para tahanan yang ditempatkan di sel sempit dengan jumlah penghuni jauh melebihi kapasitas serta hanya menerima makanan yang cukup untuk sebagian kecil dari mereka.
"Di sel ini sekitar 35 tahanan hidup dalam kondisi mengerikan. Mereka menerima makanan yang bahkan hanya cukup untuk lima atau enam orang, dan terkadang makanan itu pun tidak diizinkan untuk dimakan. Itu adalah penyiksaan yang berlangsung terus-menerus," kata Guterres.
Menurutnya, masih banyak bentuk penyiksaan lain yang bahkan lebih buruk dibanding kondisi tersebut. Penjara Sendaya di Era Assad Dalam kunjungan itu, Guterres didampingi Perwakilan Tetap Suriah untuk PBB, Ibrahim Olabi. Ia juga mengunjungi Masjid Umayyah dan kawasan Kota Tua Damaskus.
Penjara Sednaya dikenal sebagai salah satu fasilitas penahanan paling terkenal di bawah pemerintahan Partai Baath selama lebih dari enam dekade. Penjara tersebut mendapat sorotan internasional karena dugaan praktik penyiksaan sistematis, penghilangan paksa, dan pembunuhan di luar proses hukum, dengan ribuan tahanan dilaporkan meninggal dunia di tempat itu.
Guterres tiba di Damaskus pada Sabtu untuk kunjungan selama tiga hari. Dalam lawatan tersebut, ia mengadakan pertemuan dengan Presiden Suriah Ahmad al-Sharaa dan Menteri Luar Negeri Asaad al-Shaibani.
Pada pertemuan itu, Guterres kembali menegaskan komitmen PBB terhadap kedaulatan, kemerdekaan, dan integritas wilayah Suriah, sekaligus menyerukan dukungan masyarakat internasional bagi proses pemulihan negara tersebut.
Pada 8 Desember 2024, kelompok oposisi Suriah menggulingkan pemerintahan Bashar al-Assad, yang memimpin negara itu sejak 2000 setelah mewarisi kekuasaan dari ayahnya, Hafez al-Assad, yang berkuasa sejak 1971.
Baca juga: Bertemu Presiden Ahmad al-Sharaa, Sekjen PBB Tegaskan Dukungan untuk Suriah





Komentar (0)