Sepuluh Tahun Wilsen Willim, Sebuah Perjalanan yang Terus Bertumbuh

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Dentuman musik membuka malam perayaan sepuluh tahun desainer Wilsen Willim. Lampu runway berkedip mengikuti tempo, menghadirkan atmosfer yang lebih menyerupai konser musik ketimbang sebuah pertunjukan couture. Tak lama kemudian, tampilan demi tampilan mulai memasuki runway.

Hitam mendominasi.

Leather jacket, biker jacket, harness, hingga aksesori kulit hasil kolaborasi dengan brand lokal Peau membangun nuansa punk yang begitu kuat. Di tangan Wilsen, elemen-elemen yang selama ini identik dengan subkultur jalanan justru dipertemukan dengan tenun dan batik—material yang kerap diasosiasikan dengan kelembutan, tradisi, bahkan kesakralan.

Seperti dua kutub yang sengaja dibenturkan, kulit menghadirkan sisi yang keras, sementara wastra membawa ingatan tentang tradisi. Namun, keduanya tidak saling berebut perhatian. Justru dari kontras itulah lahir harmoni yang menjadi wajah baru koleksi couture perdana Wilsen Willim.

Pilihan estetik tersebut terasa sejalan dengan gagasan besar di balik Algorithm: Universal Language, koleksi yang menandai satu dekade perjalanan rumah modenya.

Lewat 60 tampilan, Wilsen memadukan tenun Garut, Dayak Iban, Songket Jembrana, dan Songket Minang dengan benang denim daur ulang. Bahkan, pola dasar dari keempat tenun itu dipindai lalu diterjemahkan menjadi komposisi musik menggunakan teknologi artificial intelligence (AI), sehingga algoritma tidak hanya hadir pada kain, tetapi juga pada suara yang mengiringi setiap langkah model di atas runway.

Namun, semakin lama pertunjukan berlangsung, kami justru semakin teringat pada satu percakapan dengan Wilsen beberapa hari sebelum show.

Kami sempat bertanya, setelah sepuluh tahun berkarya, versi dirinya yang seperti apa yang paling sering melahirkan karya terbaik—versi yang paling yakin, atau justru yang paling dipenuhi keraguan.

"The strongest collection is usually the most uncertain," jawabnya tanpa berpikir lama.

Bagi Wilsen, rasa tidak pasti bukanlah sesuatu yang harus dihindari. Sebaliknya, ketidakpastian justru menjadi ruang tempat ia mempertanyakan banyak hal, bereksperimen, lalu menemukan kemungkinan-kemungkinan baru.

Ketika Keraguan Menjadi Metode Berkarya

Jika harus merangkum perjalanan sepuluh tahun terakhirnya ke dalam satu pola, desainer yang tergabung dalam Indonesia Fashion Designer Council (IFDC) ini tidak memilih kata rencana.

"Saya merasa perjalanan saya adalah part of the universe’s grand plan. Namun setelah itu, saya menyusun detail-detail yang akhirnya jadi panduan saya sendiri,” ungkapnya.

Ia percaya banyak peristiwa penting dalam hidupnya datang tanpa pernah dirancang: pertemuannya dengan batik, kecintaannya pada tenun, hingga orang-orang yang memperkenalkannya pada dunia wastra. Semua terasa seperti kebetulan. Hal yang kemudian ia lakukan adalah menyusun detail-detailnya dengan penuh kesadaran. Cara berpikir semacam itulah yang juga membentuk proses kreatifnya.

Hal menarik lainnya dari sosok Wilsen Willim adalah ia sangat menyukai kritik. Meski kadang merasa takut mendengar kritikan, namun rasa takut itu bukan sesuatu yang ingin ia singkirkan. Ia juga mengaku perjalanan kariernya justru dibentuk oleh kebiasaan mengkritik dirinya sendiri.

"Kenapa saya bisa di titik ini adalah karena kritik yang paling kejam itu dari diri saya sendiri."

Bahkan ketika orang lain menganggap sebuah koleksi sudah berhasil, pikirannya terus mencari apa yang masih bisa diperbaiki.

Ia lalu mengenang seseorang yang pernah mengatakan bahwa pujian bukanlah sesuatu yang membuat seseorang berkembang. Sebaliknya, kritiklah yang menjaga seseorang terus belajar dan tidak cepat berpuas diri.

Barangkali karena itu pula, ia tidak pernah benar-benar berharap semua orang akan menyukai koleksinya. Bagi Wilsen, karya yang baik bukanlah karya yang menghasilkan tepuk tangan paling panjang, melainkan karya yang mampu memantik percakapan.

Warisan yang Tidak Berbentuk Pakaian

Selama wawancara, kami memang lebih mengulik sosok dirinya. Namun di tengah percakapan, kami juga menanyakan perihal goals. Dan untuk hal ini, tujuan terbesar Wilsen Willim ternyata bukan dirinya sendiri.

Di balik eksplorasi visual Algorithm: Universal Language, tersimpan sebuah pencarian yang telah berlangsung selama beberapa tahun. Bersama kolaborator lamanya, Ican Harem, ia mencoba menelisik tenun hingga ke struktur paling mendasarnya: algoritma.

Baginya, susunan benang lungsi dan pakan adalah bahasa universal. Sama seperti angka yang dipahami di berbagai belahan dunia, algoritma menjadi titik temu antara tradisi dan teknologi.

Gagasan itu kemudian berkembang menjadi batik tulis Cirebon bermotif algoritma, musik yang lahir dari pembacaan pola tenun menggunakan AI, hingga eksplorasi denim daur ulang yang ia harapkan dapat memperkenalkan wastra Indonesia kepada pasar yang lebih luas.

Ia ingin menciptakan sesuatu yang lebih besar daripada sebuah koleksi. Ia ingin menciptakan permintaan (demand). Menurut Wilsen, ketika semakin banyak orang mengenakan tenun, semakin besar pula peluang para penenun untuk terus hidup dari karya mereka. Karena itu, ia bahkan membuka akses langsung kepada para pengrajin yang bekerja sama dengannya agar publik dapat membeli kain langsung dari sumbernya.

Cara berpikir yang sama muncul ketika pembicaraan bergeser pada legacy. Banyak rumah mode dunia tetap hidup jauh setelah pendirinya tiada. Ketika ditanya apakah suatu hari Wilsen Willim dapat berjalan tanpa dirinya, jawabannya justru sederhana.

"Itu yang sedang saya lakukan."

Ia tidak ingin asistennya selamanya menjadi bayang-bayang seorang desainer. Sebaliknya, ia berharap mereka dapat tumbuh, membawa nilai yang sama, bahkan melampauinya.

"Legacy buat saya itu education. Spirit dan ajaran saya itu diteruskan atau enggak," jelasnya.

Baginya, warisan bukanlah memastikan semua orang tetap bekerja di bawah satu nama. Warisan adalah ketika nilai yang ia bangun terus hidup, ke mana pun orang-orang itu melangkah.

Sehingga kami jadi lebih memahami bahwa yang diinginkan Wilsen bukan sekadar malam yang penuh pujian. Ketika pertunjukan usai, lampu runway kembali menyala, dan para tamu mulai memenuhi area foyer, semua persis seperti yang dibayangkan Wilsen.

Di satu sudut ruangan, beberapa tamu memuji eksplorasi wastra yang terasa begitu segar. Di sisi lain, percakapan tentang sentuhan punk yang dipadukan dengan tenun terdengar tak kalah ramai. Ada yang langsung jatuh hati, ada pula yang masih mencoba memutuskan bagaimana mereka harus memaknai koleksi malam itu.

Barangkali, memang itulah yang sejak awal diharapkan Wilsen. Bukan ruangan yang dipenuhi anggukan seragam. Melainkan percakapan-percakapan yang terus hidup setelah lampu runway dipadamkan.

"I always believe mixed opinion itu sesuatu yang bagus."

Malam itu, tepat pada perayaan 10 tahun perjalanan Wilsen Willim, mixed opinion itu benar-benar hadir. Dan di dunia mode, mungkin memang tidak ada pujian yang lebih besar daripada sebuah karya yang terus mengundang percakapan.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Daftar Makanan Ikonis yang Sering Muncul di Drama Korea
• 7 jam lalu
0
thumb
Harga Emas Antam Stagnan, Dibanderol Rp2,612 Juta/Gram Hari Ini
• 12 jam lalu
0
thumb
Jadwal Piala Presiden 2026 Hari Ini: Big Match Persebaya vs Persija Nanti Malam
• 12 jam lalu
0
thumb
Pemprov Sulawesi Barat Usulkan MoU dengan BRIN untuk Perkuat Kebijakan Pembangunan Berbasis Riset
• 22 jam lalu
0
thumb
Penagih Utang Dibacok Suami Kreditur di Klaten, Pelaku Diamankan Polisi | KOMPAS SIANG
• 3 jam lalu
0
Berhasil disimpan.