REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan Iran menunjukkan komitmen terkuatnya sejauh ini dalam negosiasi dengan AS.
Tetapi ia belum memutuskan apakah akan melancarkan serangan militer besar-besaran terhadap negara tersebut.
Baca Juga
Timteng Memanas, China Tegaskan Dukungan Terhadap Iran
Kapal Dagang Iran Diserang Kiev, Teheran Marah Besar dengan Ukraina, Perang Terancam Meluas
Iran Bangun Kembali Aset-Aset Militer yang Dibom Musuh Lebih Cepat dari yang Diperkirakan
"Kami sedang berdiskusi dengan mereka saat ini. Saya rasa mereka semakin serius seiring berjalannya waktu, mungkin karena alasan yang jelas. Menurut saya, mereka serius. Menurut saya, mereka jauh lebih serius daripada yang pernah kita lihat sebelumnya, tetapi itu tidak berarti kami akan sampai ke sana. Kita lihat saja nanti apa yang akan terjadi," kata Trump kepada para wartawan di Ruang Oval, Gedung Putih, Washington D.C., Jumat (24/7).
Terkait keputusan untuk melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran, Trump menjawab belum mempertimbangkan hal itu.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
"Kami bisa meningkatkan eskalasi ke tingkat yang jauh lebih tinggi jika kami mau, kami siap melakukannya. Kami sudah siap tempur dan siap bertindak. Ada dua cara. Menurut saya, itu cara yang lebih cerdas, tetapi yang lain mungkin cara yang lebih mudah," kata Trump merujuk pada diplomasi dan aksi militer.
Soal keterlibatan Utusan Khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner, menantu sekaligus penasihatnya dalam pembicaraan dengan Iran, Trump mengatakan semua orang, termasuk Wakil Presiden J.D. Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio, turut terlibat.
"Ini masalah besar. Mereka (Iran) tidak boleh memiliki senjata nuklir. Terlepas dari apa yang dikatakan semua orang tentang pemilu, saya tidak terburu-buru. Kami harus melakukannya dengan benar," tambah Trump yang merujuk pada pemilu sela AS di musim gugur ini.
Para ahli strategi Partai Republik mengaku khawatir perang dengan Iran yang dinilai tidak populer itu akan membuat partainya kehilangan kursi di kedua majelis Kongres AS.
Lihat postingan ini di Instagram
Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)
Komentar (0)