Abbas Araghchi Menteri Luar Negeri Iran menilai Amerika Serikat (AS) terus berupaya melemahkan kedaulatan dan kewenangan Teheran dalam mengelola Selat Hormuz, dengan membuka koridor pelayaran alternatif.
Menurut Araghchi, langkah Washington itu melanggar ketentuan mengenai Selat Hormuz yang tercantum dalam nota kesepahaman pascaperang, yang diteken kedua negara Juni lalu.
Dalam wawancara yang diterbitkan surat kabar pemerintah Iran pada, Sabtu (26/7/2026), Araghchi mengatakan Pasal 5 dalam kesepakatan tersebut secara jelas memberikan tanggung jawab kepada Iran untuk memulihkan pelayaran melalui Selat Hormuz.
Iran diberi waktu satu bulan untuk menentukan jalur pelayaran, menjalankan pembersihan ranjau, dan mengambil langkah lain yang diperlukan untuk membuka kembali jalur laut strategis tersebut. “Pasal itu sepenuhnya jelas dari sudut pandang kami,” kata Araghchi seperti dikutip Anadolu, Minggu (26/7/2026).
Namun, AS disebut membuka koridor pelayaran di sisi selatan sebelum masa pelaksanaan selama satu bulan berakhir dan tanpa berkonsultasi dengan Iran.
“Ketika Pasal 5 menyatakan Iran akan melakukan pengaturan, itu berarti Iran yang menentukan rute dan mekanisme yang diperlukan. Kalau Amerika menganggap perlu ada koridor yang ditambahkan atau dihapus, mereka seharusnya berkonsultasi dengan Iran,” ujarnya.
Araghchi menjelaskan, rute yang ditetapkan Teheran telah mempertimbangkan keamanan dan keselamatan navigasi karena operasi pembersihan ranjau masih berlangsung.
Koridor alternatif disebut mulai digunakan sekitar 10 hari setelah Selat Hormuz dibuka kembali, meski masih tersisa sekitar dua pekan sebelum tenggat pelaksanaan kesepakatan berakhir.
Iran mengaku telah berulang kali memperingatkan Washington melalui jalur komunikasi langsung yang dibentuk setelah perundingan di Swiss. Pesan serupa juga disampaikan melalui mediator Qatar dan Pakistan.
“Saya secara pribadi menyampaikan pesan-pesan tersebut, baik secara langsung maupun melalui mediator Qatar dan Pakistan,” katanya.
Teheran meminta AS menunggu hingga masa pelaksanaan berakhir sebelum menilai kepatuhan Iran terhadap kesepakatan. Namun, Araghchi menilai Washington tidak menunjukkan iktikad baik.
“Kami tidak melihat adanya iktikad baik dalam tindakan Amerika. Tampaknya mereka bertekad menciptakan ketegangan atau melemahkan kedaulatan dan pengelolaan Iran atas Selat Hormuz,” tegasnya.
Ia juga mengklaim kapal-kapal didorong menghindari rute yang ditentukan Iran dan beralih menggunakan koridor selatan. Padahal, jalur alternatif itu dinilai lebih lambat dan punya risiko navigasi lebih tinggi.
“Pada akhirnya, apa pun maksud mereka, Amerika Serikat yang melanggar kesepakatan dan mengarahkan perkembangan ke situasi yang kita lihat hari ini,” ujar Araghchi.
Ketegangan di kawasan kembali meningkat setelah Donald Trump Presiden Amerika Serikat pada 8 Juli menyatakan gencatan senjata yang diatur dalam Nota Kesepahaman Islamabad tidak lagi berlaku.
Sejak saat itu, Amerika Serikat dan Iran saling melancarkan serangan. Washington menargetkan sejumlah lokasi di Iran, sedangkan Teheran mengklaim menyerang fasilitas dan peralatan militer AS di beberapa negara kawasan.
Di tengah konflik tersebut, Araghchi tetap melihat peluang untuk membangun kembali kepercayaan antara Iran dan negara-negara Arab. Ia menilai keamanan regional harus diwujudkan bersama dan tidak bergantung kepada kekuatan militer asing.
“Saya melihat adanya kemauan untuk membangun kembali kepercayaan. Kita adalah tetangga dan akan tetap menjadi tetangga. Kita harus hidup bersama dalam damai,” katanya. (bil/iss)





Komentar (0)