Grid.ID - Berikut profil Dea Arronaya, anak pejabat Gayo Lues yang disorot usai flexing kekayaan. Bapaknya kini mundur dari jabatan.
Nama Dea Arranoya mendadak menjadi perhatian publik setelah sejumlah unggahan di media sosial yang memperlihatkan gaya hidup mewahnya ramai diperbincangkan warganet.
Putri Asisten I Sekretariat Daerah Kabupaten (Setdakab) Gayo Lues, dr. Nevirizal, itu kini disebut telah menghilang dari media sosial yang sebelumnya menjadi tempatnya membagikan berbagai aktivitas pribadi.
Perhatian publik terhadap Dea muncul setelah beberapa unggahan lamanya kembali beredar dan dianggap memperlihatkan gaya hidup yang serba mewah.
Unggahan tersebut kemudian ramai dibagikan ulang oleh sejumlah akun media sosial hingga menimbulkan berbagai tanggapan, termasuk kritik dari warganet. Beberapa konten yang kembali menjadi perbincangan menampilkan momen perjalanan ke luar negeri, kisah terkait pendidikan, serta percakapan dalam grup keluarga.
Salah satu unggahan Dea yang banyak mendapat sorotan adalah ketika dirinya membagikan cerita mengenai aktivitas keluarganya saat melakukan perjalanan ke sejumlah negara. Dalam unggahan itu, Dea menuliskan sebuah pernyataan yang kemudian menarik perhatian dan menjadi bahan perbincangan masyarakat.
"Hidup kadang di Paris Inggris Jerman," tulis Dea dalam unggahannya, dikutip dari Bangkapos.com.
Ia juga pernah mengunggah cuplikan percakapan yang berasal dari grup keluarganya. Pada unggahan lain, Dea menyampaikan bahwa sang ayah masih menjalankan pekerjaan, sementara anggota keluarganya tengah melakukan perjalanan ke luar negeri.
"Papa kerja, anak istri di Eropa," tulis Dea.
"Anak istri tiba-tiba ke Korea," sambungnya dalam unggahan lain.
Bukan hanya mengenai aktivitas bepergian, Dea juga sempat membagikan kisah terkait perjalanan pendidikannya. Ia mengungkapkan bahwa biaya untuk menempuh pendidikan kedokteran hingga jenjang lanjutan yang dijalaninya mendapatkan bantuan pembiayaan dari ayahnya.
Unggahan lain yang ikut mencuri perhatian publik adalah cerita Dea mengenai ayahnya yang membeli bahan bakar minyak (BBM) dalam jumlah besar. Dalam unggahan tersebut, Dea menyebut sang ayah membeli sebanyak 15 jeriken BBM.
"Papaku beli minyak 15 jerigen," tulis Dea dalam unggahan yang kemudian kembali beredar di media sosial.
Beragam unggahan tersebut kemudian menuai sorotan dan kritikan dari publik, terutama karena muncul bersamaan dengan isu kondisi ekonomi serta persoalan ketersediaan BBM yang terjadi di beberapa wilayah.
Sikap Dea dalam menanggapi komentar dari warganet juga turut menjadi bahan pembahasan. Dalam salah satu unggahan lama yang kembali ramai, ia terlihat memberikan balasan kepada orang-orang yang mengkritik atau menyindir kehidupan keluarganya.
"Sok mantep banget lu. Emang mantep, mau diadu dari segi ekonomi, pendidikan, keluarga, pasangan juga nggak getar," tulisnya.
Ungkapan tersebut justru membuat perhatian publik terhadap sosok Dea semakin besar dan perbincangan mengenai dirinya terus meluas.
Akibat hal tersebut, Pejabat Asisten Pemerintahan, Keistimewaan Aceh, dan Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Pemerintah Kabupaten Gayo Lues, Nevirizal, memutuskan mundur dari jabatannya setelah polemik yang melibatkan keluarganya ramai diperbincangkan masyarakat.
Pengunduran diri tersebut disampaikan melalui surat resmi yang ditujukan kepada Bupati Gayo Lues pada Kamis (23/7/2026). Selain itu, Nevirizal juga menyampaikan keputusan tersebut melalui sebuah video yang diterima Kompas.com.
Dalam keterangannya, Nevirizal menyebut langkah tersebut diambil dengan penuh kesadaran sebagai bentuk tanggung jawab moral. Ia menilai polemik yang menyeret keluarganya telah berdampak terhadap kepercayaan publik kepada lembaga pemerintahan.
"Meskipun persoalan tersebut bersifat pribadi, saya menyadari bahwa sebagai pejabat publik saya memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga integritas, etika, dan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga," kata Nevirizal, dikutip dari Kompas.com.
Ia menyampaikan bahwa keputusan untuk mengundurkan diri diambil sebagai upaya menjaga citra Pemerintah Kabupaten Gayo Lues serta memberikan kesempatan agar proses peninjauan dan evaluasi dapat dilakukan secara optimal.
"Oleh karena itu, demi menjaga nama baik institusi serta memberikan kesempatan agar proses evaluasi dan perbaikan dapat berjalan dengan baik, saya memilih mengundurkan diri dari jabatan yang saya emban saat ini," ujarnya.
Melalui surat tersebut, Nevirizal juga menyampaikan permintaan maaf kepada pimpinan, para kolega, serta masyarakat atas polemik yang muncul. Ia tidak lupa menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas kepercayaan yang telah diberikan kepadanya selama menjalankan tugas sebagai pejabat.
"Demikian surat pengunduran diri ini saya sampaikan atas perhatian, persetujuan, dan atensi pimpinan saya ucapkan terimakasih," tutupnya. (*)
Artikel Asli





Komentar (0)