Apa Dampak Perjanjian Nuklir AS-Saudi Bagi Timur Tengah?

detik.com
10 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Setelah pernyataan terbaru Presiden AS Donald Trump pada Kamis (23/07) pagi, masih belum jelas apakah kesepakatan kontroversial dengan Arab Saudi yang memungkinkan negara otokrasi Timur Tengah itu membangun program nuklir sipil akan ditandatangani.

Trump menyatakan kesepakatan itu hanya bisa berlanjut jika Arab Saudi menormalisasi hubungan diplomatik dengan Israel. Belakangan ini, pemerintah Saudi berulang kali menegaskan bahwa mereka hanya akan melakukan hal itu jika Israel benar-benar bergerak menuju pembentukan negara Palestina. Dengan pemerintah Israel saat ini, kecil kemungkinan hal itu terjadi.

Kesepakatan ini juga harus mendapat persetujuan Kongres AS, dan sudah menuai penolakan, dengan para pengkritik menyebut hal itu bisa memicu perlombaan senjata nuklir di Timur Tengah.

Salah satu alasan utama para ahli begitu khawatir adalah bahwa dalam beberapa tahun ke depan, kesepakatan ini, sebagaimana adanya sekarang, kemungkinan memberi Saudi keleluasaan untuk memperkaya uraniumnya sendiri.

Semakin banyak uranium diperkaya, semakin besar potensinya dialihkan untuk membuat senjata. Di masa lalu, penguasa Arab Saudi Mohammed bin Salman pernah menyatakan bahwa jika Iran memproduksi bom nuklir, Saudi Arabia juga perlu memilikinya.

Dari sekitar 38 negara yang memiliki program energi nuklir sipil, sebagian besar tidak memperkaya uranium sendiri, melainkan mengimpornya. Skema ini merupakan "standar emas" yang memungkinkan transfer teknologi nuklir tanpa melanggar rejim nonproliferasi.

Kesepakatan AS-Saudi ini juga punya implikasi regional, terutama karena tampaknya tidak seketat kesepakatan-kesepakatan serupa yang pernah dibuat sebelumnya.

Uni Emirat Arab: Perlakuan istimewa untuk Saudi?

Kesepakatan yang lebih longgar yang dibuat AS dengan Arab Saudi kemungkinan akan membuat Uni Emirat Arab tidak senang, mengingat kedua negara sering bersaing memperebutkan pengaruh geopolitik.

UEA sudah memiliki pembangkit listrik tenaga nuklir, Barakah, berkat perjanjian yang dibuat dengan AS sejak 2009.

Sebagaimana hampir semua perjanjian kerja sama nuklir AS, kesepakatan UEA juga menyertakan apa yang dikenal sebagai "protokol tambahan" yang ditandatangani dengan Badan Energi Atom Internasional atau IAEA. Artinya, IAEA dapat melakukan inspeksi menyeluruh terhadap semua fasilitas nuklir. UEA juga setuju untuk tidak melakukan pengayaan uranium.

Sementara kesepakatan Saudi bersifat bilateral saja, hanya antara AS dan Saudi, tanpa melibatkan IAEA, dan Saudi mungkin pada akhirnya diizinkan memperkaya uraniumnya sendiri.

Bagi UEA, mengembangkan energi nuklir lebih didorong oleh gengsi sebagai pelopor di dunia Arab ketimbang ambisi militer, kata Nour Eid kepada DW awal tahun ini. Eid adalah peneliti independen berbasis di Paris yang telah menerbitkan makalah tentang ambisi nuklir di Timur Tengah untuk sejumlah lembaga pemikir.

Namun ia menunjukkan bahwa ada pula klausul dalam perjanjian UEA yang menyatakan bahwa "jika negara regional atau negara tetangga memiliki perjanjian yang lebih fleksibel, mereka berhak menegosiasikan ulang syarat-syarat mereka."

Israel: Bukan lagi satu-satunya negara dengan bom nuklir?

Kesepakatan nuklir Saudi-AS juga akan mengkhawatirkan Israel, terutama jika berujung pada pengembangan bom nuklir di negara Teluk itu. Itu akan menjadikan Arab Saudi sebagai satu-satunya negara lain di Timur Tengah yang memilikinya.

Israel tidak pernah mengakui memiliki senjata nuklir, namun keberadaannya sudah menjadi rahasia umum, dengan perkiraan sekitar 90 hulu ledak beserta sistem peluncurnya.

Para politisi Israel memandang kesepakatan Saudi sebagai ancaman dan mengatakan keinginan mereka diabaikan. "Setiap program nuklir militer dimulai dari yang sipil," mantan menteri pertahanan Israel Avigdor Lieberman memperingatkan.

Saudi telah melobi untuk program nuklir sipil mereka sendiri selama bertahun-tahun. Pada satu titik, kemungkinan kerja sama AS-Saudi dalam hal ini bahkan dipandang sebagai kartu tawar dalam diplomasi: jika Arab Saudi, yang sering dianggap pemimpin dunia Islam, bersedia menormalisasi hubungan dengan Israel, mereka akan mendapat teknologi nuklir dari AS.

Kini, dengan isu nuklir yang dipisahkan dari syarat normalisasi itu, Israel jelas tidak akan senang.

"Kesepakatan ini, ditambah prospek AS menjual jet tempur F-35 ke Turki, menambah perbedaan yang sudah ada antara AS dan Israel soal Iran, pendudukan Israel di Lebanon selatan dan sebagian Suriah selatan," tulis James Dorsey, pakar kawasan dari Rajaratnam School of International Studies Singapura, dalam buletin rutinnya pada Kamis (23/07).

Motif AS di balik transfer nuklir

Ada sejumlah kemungkinan alasan mengapa AS mengusulkan kesepakatan ini.

Peneliti berbasis di Paris, Eid, menunjukkan bahwa hal itu mungkin berkaitan dengan persaingan Amerika Serikat dengan Cina dan Rusia, pemasok nuklir utama dunia. Cina dan Rusia telah mengajukan penawaran untuk membangun pembangkit nuklir di Arab Saudi, dan tawaran itu cenderung datang dengan syarat yang lebih sedikit, katanya. Trump juga sebelumnya berjanji memvitalkan kembali sektor nuklir AS, dan kesepakatan Saudi ini bernilai miliaran dolar.

Ada pula faktor perang Iran yang perlu dipertimbangkan. Perang AS-Israel terhadap Iran yang dimulai akhir Februari membuat Iran menyerang negara-negara Teluk sekutu AS, yang menegangkan hubungan Amerika dengan Arab Saudi yang terjepit di antara ambisi hegemonik Israel dan Iran.

Kesepakatan ini mengikat AS dan Arab Saudi lebih erat, kata Rosemary Kelanic, direktur program Timur Tengah di lembaga pemikir Defense Priorities Foundation yang berbasis di AS.

Misalnya, kesepakatan ini memberi "Arab Saudi sumber daya tawar yang kuat untuk memeras konsesi di masa depan dari Washington, termasuk jaminan keamanan baru, dengan mengancam akan mempersenjatai programnya kecuali AS menjanjikan perlindungan militer yang lebih besar," kata Kelanic dalam sebuah pernyataan pers pada Rabu (22/07).

AS mungkin merasa terpaksa menukar perlindungan pertahanan demi Saudi melepaskan potensi senjata nuklirnya, seperti yang terjadi di Jerman Barat dan Korea Selatan, katanya.

"Mereka membuat kemajuan nuklir, kami ingin mencegah mereka mendapatkan bom, dan pada akhirnya kami menawarkan perlindungan militer AS yang lebih besar agar mereka meninggalkan program mereka," Kelanic menjelaskan. "Memberi Riyadh pengayaan uranium secara fungsional bisa membuat AS terikat dengan Arab Saudi selamanya."

Kesepakatan ini juga bisa berarti AS terpaksa turun tangan menyelamatkan monarki Saudi jika terancam, tegasnya.

Iran: Rivalitas regional

Ketika kesepakatan ini diumumkan, para pengamat segera menyoroti ironi mencolok di balik kesepakatan ini. Pemerintahan Trump kini siap mengabulkan kepada Arab Saudi apa yang memicu perang dengan Iran, kata berbagai pakar.

Bagi Iran, penguasaan teknologi nuklir oleh Arab Saudi menjadi pukulan karena "musuh bebuyutan mereka (AS) memberikan rival regionalnya keunggulan awal dalam program nuklirnya sendiri," kata Kelanic di platform media sosial X.

Itulah mengapa kesepakatan ini membuat berakhirnya konflik antara Iran dan AS secara cepat menjadi semakin kecil kemungkinannya, ia berargumen. "Iran pasti akan lebih tidak percaya pada AS dan kurang bersedia membuat konsesi apapun," Kelanic mencatat secara online.

Kesepakatan ini juga membuat Iran lebih mungkin berusaha mempersenjatai program nuklir mereka sendiri lebih cepat, ia melanjutkan.

Pengamat lain sepakat dan juga mengkhawatirkan dimulainya perlombaan senjata nuklir di Timur Tengah.

Namun menurut Eid, semua itu kecil kemungkinannya terjadi dalam waktu dekat. Dibutuhkan waktu antara 10 hingga 20 tahun bagi Saudi untuk mengembangkan tenaga nuklir, apalagi senjata nuklir, katanya kepada DW.

Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Fika Ramadhani

Editor: Rizki Nugraha

width="1" height="1" />

Tonton juga video "Trump Siapkan Serangan ke Lokasi Nuklir Baru Iran"




(ita/ita)

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Kebakaran Hutan di Spanyol Tak Terkendali, 10.000 Orang Dievakuasi Hingga Status Darurat Nasional Diberlakukan
• 20 jam lalu
0
thumb
Satpam dan Pengemudi Alphard di Bundaran HI Sepakat Berdamai, Proses Hukum Tetap Berjalan
• 22 jam lalu
0
thumb
11 Turis Asing ditemukan Selamat, Nakhoda Kapal Masih Dicari di Teluk Tomini
• 16 jam lalu
0
thumb
Kecelakaan Truk Molen Terbalik usai Gagal Menanjak di Bojonegoro, Sopir Tewas Terjepit
• 17 jam lalu
0
thumb
Tabrakan Dua Bus di Suriah Tewaskan 35 Orang, Puluhan Terluka
• 14 jam lalu
0
Berhasil disimpan.