Pantau - Di tangan masyarakat yang memiliki kemauan untuk berinovasi, limbah yang semula dianggap tidak bernilai berhasil diubah menjadi bahan bakar alternatif sekaligus membuka peluang ekonomi bagi warga sekitar melalui pengelolaan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Pilah Berkah di Padukuhan Tegal, Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, sebagaimana dipublikasikan pada Sabtu (25/7/2026).
Mobil bak terbuka pengangkut sampah datang silih berganti ke TPST untuk menurunkan muatan yang kemudian dipilah dan diolah menjadi berbagai produk bernilai.
Di area pengolahan, para pekerja menjalankan tugas masing-masing secara berkesinambungan mulai dari memilah sampah berdasarkan jenisnya, menurunkan muatan dari truk, hingga mengangkut karung berisi sampah plastik.
Seluruh aktivitas tersebut membentuk sistem pengelolaan sampah yang telah dibangun selama bertahun-tahun oleh KSM Pilah Berkah.
Di bagian belakang bangunan, mesin pirolisis mengolah sampah plastik menjadi Petasol yang merupakan bahan bakar alternatif hasil inovasi terbaru KSM Pilah Berkah.
KSM Pilah Berkah Bangun Tata Kelola Pengelolaan SampahKSM Pilah Berkah berdiri sejak 2017 dengan konsep pengelolaan sampah berbasis rukun tetangga melalui program sedekah sampah sebagai bagian dari solusi atas persoalan sampah di Kabupaten Bantul.
Perjuangan kelompok tersebut tidak hanya mengurangi timbunan sampah, tetapi juga memberdayakan masyarakat sekitar serta menghasilkan energi alternatif dari limbah plastik.
Pada 2021, KSM Pilah Berkah mulai bertransformasi dengan fokus pada penguatan manajemen pengelolaan sampah setelah melihat banyak kelompok pengelola sampah berhenti beroperasi akibat tata kelola yang belum tertata dengan baik.
Konsultan Program Daur Ulang Sampah KSM Pilah Berkah, Arif Sholikin, mengatakan, "Di KSM Pilah Berkah, saya menerapkan tata kelola pengelolaan sampah, baik untuk kawasan berbasis masyarakat maupun industri."
Pada awal berdiri, KSM Pilah Berkah hanya memiliki empat anggota dengan pemasukan organisasi yang hampir tidak ada sehingga para pengurus harus berjuang mempertahankan keberlangsungan organisasi.
Mitra pertama KSM Pilah Berkah hanya berasal dari Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Imogiri.
Saat ini, jaringan kemitraan telah berkembang hingga mencakup 10 kalurahan.
Selama bertahun-tahun, Arif bersama tim melakukan pendampingan berupa sosialisasi, pelatihan praktik pengelolaan sampah, pembentukan kelembagaan, hingga penyusunan sistem kerja untuk membangun ekosistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Sistem pengelolaan sampah kini telah terintegrasi melalui aplikasi pelaporan sampah yang terhubung langsung dengan Waste Crisis Center Kementerian Lingkungan Hidup.
Menurut Arif, pencatatan yang sistematis merupakan bagian penting dalam tata kelola pengelolaan sampah.
Jumlah anggota KSM Pilah Berkah kini meningkat menjadi 15 orang yang seluruhnya bekerja di dalam kelompok sebagai pemilah sampah, sopir, juru masak, hingga operator mesin pengolah Petasol.
Seluruh aktivitas dipusatkan di Padukuhan Tegal, Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul.
Arif mengatakan, "Rata-rata anggota merupakan warga sekitar."
Ia menjelaskan KSM Pilah Berkah lahir dari kepedulian masyarakat terhadap persoalan sampah di selokan dan sungai yang akhirnya bermuara ke laut.
Kelompok tersebut terus mencari cara agar sampah tidak hanya terserap, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Arif mengatakan, "Terutama sampah plastik yang menjadi momok di Bantul."
Mesin Pirolisis Ubah Plastik Menjadi PetasolTitik penting perkembangan KSM Pilah Berkah terjadi pada pertengahan Juni 2026 saat kelompok tersebut menerima bantuan satu unit mesin pirolisis dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui kerja sama dengan Pertamina Foundation.
Ketua KSM Pilah Berkah, Yekti Murwani, mengatakan mesin tersebut mampu mengubah plastik yang sebelumnya tidak laku atau bernilai ekonomi rendah menjadi Petasol yang memiliki karakteristik menyerupai solar.
KSM Pilah Berkah juga menjalin kerja sama dengan BRIN untuk menjadikan Petasol sebagai solusi penanganan sampah plastik bernilai ekonomi rendah.
Hampir seluruh jenis plastik dapat diolah menggunakan mesin pirolisis, kecuali plastik jenis PET dan PVC.
Dalam sehari, mesin pirolisis mampu mengolah sekitar 50 kilogram sampah plastik dan menghasilkan sekitar 40 hingga 45 liter Petasol.
Yekti mengatakan, "Setiap hari kami berproduksi, kecuali hari Minggu karena digunakan untuk perawatan mesin."
Petasol dimanfaatkan untuk kebutuhan operasional KSM Pilah Berkah, mulai dari menggerakkan mesin pengolah sampah, mengoperasikan genset, hingga menggerakkan truk pengangkut sampah.
Yekti mengatakan, "Kami gunakan untuk mesin, genset, dan truk pengangkut sampah."
Sebelum diolah, sampah plastik bernilai rendah hanya dihargai sekitar Rp600 hingga Rp1.000 per kilogram.
Setelah diolah menjadi Petasol, nilai ekonominya meningkat menjadi sekitar Rp10.000 hingga Rp12.000 per liter.
Bupati Bantul Abdul Halim Muslih mengatakan keberadaan mesin pirolisis diharapkan membantu mengurangi timbunan sampah plastik yang mencapai sekitar 31 persen dari total produksi sampah harian di Kabupaten Bantul.
Halim mengatakan, "Jika setiap hari sekitar 600 ton sampah diproduksi di Bantul, sekitar 180 ton di antaranya merupakan sampah plastik."
Pemerintah Kabupaten Bantul berencana memperbanyak mesin pirolisis untuk dimanfaatkan oleh kelompok pengelola sampah lainnya.
Halim mengatakan, "Ini kan baru demplot di KSM Pilah Berkah Imogiri. Nanti, insya Allah, akan kita kembangkan di KSM-KSM yang lain."
Menurut Halim, teknologi pirolisis tidak hanya membantu mengurangi persoalan sampah, tetapi juga berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dengan menyediakan bahan bakar alternatif.
Perwakilan BRIN, Heru Susanto, mengatakan inovasi tersebut lahir dari kebutuhan mencari solusi atas persoalan sampah plastik di Bantul.
Pirolisis merupakan proses penguraian limbah plastik melalui pemanasan bersuhu tinggi di dalam reaktor tertutup tanpa oksigen yang menghasilkan minyak cair untuk dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif seperti solar atau bensin.
Heru mengatakan, "Karena plastik asalnya dari minyak bumi, maka kita kembalikan lagi menjadi minyak bumi."
Biaya produksi Petasol berkisar Rp3.000 hingga Rp4.000 per liter dengan harga jual internal sekitar Rp10.000 per liter sehingga menghasilkan keuntungan sekitar Rp6.000 hingga Rp7.000 per liter.
Heru mengatakan, "Untungnya Rp6.000 sampai Rp7.000 per liter, sedangkan sehari bisa menghasilkan 40 sampai 45 liter dari 50 kilogram plastik. Tinggal dikalikan saja."
Perjalanan KSM Pilah Berkah menunjukkan bahwa persoalan sampah tidak selalu berakhir di tempat pembuangan karena inovasi masyarakat mampu mengubah limbah yang sebelumnya tidak bernilai menjadi sumber energi sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat di sekitarnya.





Komentar (0)