Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat mulai mengubah strategi penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Setelah sempat berlomba menggunakan model AI paling canggih dengan biaya tinggi, kini banyak perusahaan justru memilih model yang lebih murah demi menekan pengeluaran.
Perubahan strategi tersebut dinilai berpotensi mengubah peta persaingan industri AI global. Perusahaan kini tidak lagi bergantung pada satu penyedia layanan seperti OpenAI atau Anthropic, melainkan mengombinasikan berbagai model AI sesuai kebutuhan, termasuk model berbiaya rendah yang dikembangkan di China.
Di Cursor, perusahaan rintisan pengembang perangkat lunak untuk pemrograman yang mendukung berbagai model AI, perubahan pola pikir tersebut terlihat jelas. Menurut Chief Field Technology Officer Cursor, Mike Saeks, model AI paling mahal tidak selalu diperlukan untuk pekerjaan sehari-hari.
"Ibarat mengendarai Lamborghini hanya untuk pergi ke toko membeli susu, padahal mobil itu dirancang untuk balapan di lintasan," ujar Saeks dilansir dari The Wall Street Journal, Sabtu (25/7/2026).
Saeks bergabung dengan Cursor sekitar dua bulan lalu setelah sebelumnya berkarier sebagai bankir investasi. Perusahaan tersebut, yang menurut laporan akan diakuisisi SpaceX milik Elon Musk dengan nilai US$60 miliar, menugaskannya membantu perusahaan-perusahaan mengukur sekaligus meningkatkan tingkat pengembalian investasi (return on investment/ROI) dari belanja AI mereka.
Cursor menyebut pendekatan itu sebagai "tokenomics", mengacu pada token yang menjadi satuan utama untuk mengukur penggunaan AI.
Menurut Saeks, perubahan pola pikir perusahaan berlangsung sangat cepat. Beberapa bulan lalu, perusahaan justru bangga jika menghabiskan banyak token AI. Bahkan, sejumlah perusahaan memberikan penghargaan kepada karyawan yang paling banyak menggunakan token melalui papan peringkat internal. Kini, fokus mereka justru beralih menjadi penghematan biaya penggunaan AI.
Perubahan tersebut tidak hanya berdampak pada besarnya belanja AI perusahaan AS, tetapi juga memunculkan dimensi geopolitik baru dalam persaingan teknologi antara Amerika Serikat dan China.
Sebagian besar model AI populer asal AS bersifat tertutup (closed model), sehingga pengembang mengendalikan penuh penggunaannya. Sebaliknya, banyak model AI asal China menggunakan pendekatan open-weight yang memungkinkan perusahaan mengunduh, memodifikasi, dan menyesuaikan model sesuai kebutuhan.
OpenAI dan Anthropic selama ini menuduh sejumlah pengembang AI asal China meniru teknologi mereka. Beberapa startup China yang disebut antara lain DeepSeek, MiniMax, dan Moonshot AI.
Di sisi lain, sebagian perusahaan masih enggan memakai model AI asal China karena alasan keamanan. Sejumlah eksekutif OpenAI dan Anthropic juga telah memperingatkan potensi risikonya. Beberapa pejabat pemerintahan Presiden Donald Trump bahkan mengusulkan pelarangan model AI asal China, sementara pihak lain menilai upaya tersebut hanya bertujuan menghambat persaingan.
Namun, pada Jumat lalu sejumlah perusahaan teknologi besar seperti Nvidia, Microsoft, dan Palantir menandatangani surat bersama yang mendukung pengembangan model AI terbuka. Mereka juga meminta pembuat kebijakan di AS berhati-hati sebelum menerapkan pembatasan terhadap model-model tersebut.
Terlepas dari bagaimana perdebatan itu berakhir, banyak investor dan pelaku industri meyakini era AI berbiaya murah akan terus berkembang. Sejumlah perusahaan teknologi asal AS juga mulai merilis atau mengembangkan model AI terbuka mereka sendiri.
Perusahaan-perusahaan Silicon Valley menjadi yang pertama menerapkan strategi memilih model AI berdasarkan efisiensi biaya layaknya membeli produk biasa. Dalam beberapa pekan terakhir, pendekatan tersebut mulai diikuti berbagai sektor industri.
"Saya tidak melihat ada loyalitas sama sekali. Rasanya seperti perang habis-habisan saat ini," kata Chief Executive Officer (CEO) Pylon, Marty Kausas.
Menurut Kausas, perusahaan-perusahaan AI kini menawarkan berbagai insentif besar agar pelanggan tetap bertahan. Pylon memperoleh akses penggunaan AI tanpa batas selama beberapa bulan. Sepanjang tahun ini, perusahaan tersebut menerima token gratis senilai sekitar US$1,6 juta dari satu penyedia AI, US$65.000 dari penyedia lain, dan US$10.000 dari penyedia berikutnya.
Microsoft juga disebut mempertimbangkan menambahkan model AI asal China, termasuk DeepSeek, ke dalam platformnya. Sementara itu, sejumlah startup mengaku telah berdiskusi dengan eksekutif perusahaan sektor keuangan, kesehatan, hingga asuransi mengenai pemanfaatan model AI terbuka.
Keunggulan Cursor terletak pada perangkat lunaknya yang bersifat "model agnostic", sehingga pengguna dapat dengan mudah berpindah antara model OpenAI, Anthropic, SpaceX, Google maupun pengembang AI asal China.
Saeks menjelaskan perusahaan dapat menghemat biaya AI melalui berbagai strategi, misalnya membatasi akses model premium bagi karyawan baru atau menggunakan model AI tercanggih hanya untuk menyusun rencana pekerjaan, kemudian menyerahkan proses eksekusi kepada model yang lebih murah.
Cursor baru-baru ini menguji biaya pembuatan sebuah peramban web dari nol. Jika seluruh proses menggunakan GPT-5.5 milik OpenAI, biayanya sedikit di atas US$10.000. Namun ketika menggunakan kombinasi model Composer milik Cursor dengan Opus 4.8 dari Anthropic, total biayanya hanya US$1.339.
"Dulu model terbaik untuk suatu pekerjaan berubah setiap beberapa bulan. Sekarang rasanya perubahan itu terjadi beberapa kali dalam seminggu," ujar Saeks.
OpenAI menyatakan telah melatih model terbaru GPT-5.6 Sol agar jauh lebih efisien dalam penggunaan token sehingga mampu menyelesaikan pekerjaan kompleks dengan biaya lebih rendah. Anthropic juga merilis model baru berbiaya lebih murah pada Jumat. Perusahaan tersebut menyebut pengguna kini dapat memilih tingkat kecerdasan AI atau biaya yang diinginkan dalam ekosistem mereka. Kedua perusahaan juga menyatakan mendukung penggunaan model open-weight.
Selama bertahun-tahun OpenAI dan Anthropic berlomba mengembangkan model AI paling canggih dan premium. Namun kini mereka menghadapi kenyataan bahwa banyak perusahaan justru menginginkan model yang lebih sederhana dan murah.
Popularitas model AI murah dinilai mengubah arah persaingan industri sekaligus menjadi tantangan bagi valuasi OpenAI dan Anthropic menjelang rencana penawaran saham perdana (IPO). Untuk mempertahankan pelanggan, keduanya mulai menawarkan kemitraan, insentif hingga puluhan ribu dolar AS serta subsidi penggunaan AI.
Meski demikian, sebagian perusahaan tetap memilih OpenAI dan Anthropic karena menginginkan tingkat kecerdasan AI tertinggi meski harus membayar lebih mahal.
Zoom, misalnya, telah menggunakan Llama, model open-weight milik Meta Platforms, selama tiga tahun terakhir. Setelah melakukan penyesuaian terhadap model tersebut, Zoom mengaku berhasil menghemat biaya secara signifikan. Saat ini perusahaan menggunakan kombinasi model Anthropic, OpenAI, dan model terbuka.
Chief Technology Officer Zoom, Xuedong Huang, mengutip kisah mitologi China mengenai tiga orang biasa yang jika bekerja sama dapat menyamai kecerdasan seorang jenius. Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi "resep rahasia" bagi perusahaan.
Sementara itu, CEO Hex Barry McCardel mengatakan penggunaan model AI terbuka lebih efektif bagi banyak pelanggan perusahaannya karena dapat disesuaikan dengan data internal maupun kebutuhan spesifik masing-masing perusahaan.
"Kami terus mengevaluasi seberapa besar komitmen terhadap satu laboratorium AI mengingat perubahan yang terjadi sangat cepat," ujarnya.
Dalam dua pekan terakhir, sekitar 50% pelanggan Hex mulai mengadopsi Kimi, model AI buatan Moonshot asal China.
"Setiap hari ada kemungkinan pengembang AI meluncurkan model baru yang menjadi yang terbaik. Karena itu kami ingin tetap fleksibel," kata McCardel.
Perubahan strategi serupa juga dilakukan Telnyx, perusahaan penyedia infrastruktur bagi AI agent atau bot otonom.
Pada musim semi lalu, Telnyx mengoperasikan sekitar 1.000 AI agent menggunakan model premium Anthropic dan sistem operasi terbuka. Saat itu biaya langganan Claude mencapai US$200 per karyawan setiap bulan.
Namun Anthropic kemudian melarang penggunaan sistem operasi pihak ketiga pada layanan berlangganannya karena dianggap melanggar ketentuan penggunaan. Jika ingin tetap melanjutkan, Telnyx harus membayar berdasarkan penggunaan.
"Kami menghitung biayanya dan hasilnya sekitar US$100.000 per hari," ujar CEO Telnyx David Casem.
Karena itu Telnyx beralih menggunakan model AI terbuka.
"Ternyata berhasil. Bukan berarti kami berhenti memakai OpenAI atau Anthropic. Kami masih menggunakannya, hanya saja sekarang keduanya tidak lagi menangani semua pekerjaan," katanya.
Saat ini sekitar 1.400 AI agent milik Telnyx dijalankan menggunakan keluarga model AI buatan startup China Z.AI dengan biaya sekitar US$100 per agen per hari. Model Fable milik Anthropic digunakan sebagai pengatur yang menyusun rencana kerja, sementara model open-weight menjalankan proses eksekusi. Setelah itu, OpenAI Sol bertugas meninjau hasil pekerjaan model terbuka tersebut.
Presiden perusahaan AI hukum Harvey, Gabe Pereyra, mengatakan perusahaannya juga mengembangkan pendekatan serupa. Harvey melatih model GLM-5.2 dan membekalinya dengan kemampuan untuk memanggil model Fable 5 milik Anthropic apabila menghadapi tugas yang dinilai sangat sulit.
"Kami bekerja dengan semuanya. Kami terus mencari berbagai solusi seperti ini agar kinerja tetap terjaga atau bahkan meningkat, sekaligus menghasilkan biaya yang jauh lebih rendah," ujar Pereyra.
(fsd/fsd) Add as a preferred
source on Google





Komentar (0)