Pakar Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Suko Widodo hadir sebagai narasumber dalam acara RedTalks 2026 'Nasionalisme Tanpa Batas Generasi' yang diselenggarakan oleh DPD PDI Perjuangan Jawa Timur bersama detikcom.
Suko menantang kader-kader PDIP untuk terus menjaga komunikasi langsung antara rakyat dengan partai politik, termasuk ruang bagi anak muda.
"Tahun 1999, masih ada pertemuan dan perjumpaan PDIP dengan rakyat dengan posko itu (posko PDIP di Jalan Pandegiling Surabaya). Hari ini, banyak orang saling berbincang, tapi tidak berkomunikasi. Hari ini, banyak orang yang bertemu, tapi tidak berjumpa. PDIP itu kan dulu terkenal dengan wong cilik (orang kecil), hari ini sudah gede-gede (besar-besar) semua," kata Suko di Malang Creative Center, Sabtu (25/7/2026).
"Soal PDIP bicara tentang kembali ke marhaen, saya kira itu jadi entry point untuk PDIP harus kembali ke jalan yang benar," tambahnya.
Suko mendengar banyak tokoh muda yang mulai dilibatkan PDIP Jatim untuk menjawab langsung berbagai kegelisahan serta aspirasi dari anak muda.
"Saya denger ada tokoh namanya Qintharra ya. Itu yang dibutuhkan PDIP, bukan tentara. Ini sekarang PDIP menurut saya mengalami apa yang disebut dengan mens sana in corpore sano, yang tua ke sana, yang muda ke sono. Semoga hari ini PDIP kembali ke jalan yang benar," lontar Suko.
Tantangan Suko langsung dijawab oleh Wakil Kepala Bidang Ekonomi Kreatif dan Ekonomi Digital PDI Perjuangan Jawa Timur, Qintharra Ulya Yassifa. Qintharra blak-blakan PDIP Jatim memberi ruang seluas-luasnya untuk anak muda.
"Jadi sebenarnya kalau misalnya kita mengulik skeptisnya mahasiswa dan anak muda zaman sekarang itu kenapa? Mungkin anak muda berpikir masuk ke partai ada senioritas? Apakah gagasan kita itu akan benar-benar didengar? Kemudian apakah kita juga akan dilibatkan? Sebenarnya di PDI Perjuangan, saya contohnya, saya adalah anak muda yang dilibatkan di struktur partai di tingkat provinsi," jawab Qintharra.
"Jadi di sini, di PDI Perjuangan, apa yang dinamakan the ladder of participation, di mana masyarakat muda itu hanya dijadikan token atau kosmetik saja, itu tidak dilakukan di PDI Perjuangan. Anak muda benar-benar dilibatkan, mulai dari struktur di provinsi, kemudian di kabupaten/kota, di kecamatan, sampai ke rating," tambahnya.
Qintharra menyebut anak-anak muda di PDIP selalu dilibatkan dalam berbagai giat partai termasuk dalam memberi masukan untuk kebijakan pemerintah.
"Jadi di kami itu tidak hanya dijadikan pajangan saja anak muda, sok-soakan bahwa oh ini pokoknya partai mendengar anak muda, nggak. Kita tuh benar-benar diberikan banyak ruang di struktur, kemudian di event, bahkan PDI Perjuangan Jawa Timur membuat Red Talk ini karena kita tuh ingin mendengar kritik, saran dari anak muda itu sendiri. Kita ingin relate dengan mereka," bebernya.
"Jadi kalau kita mengulik lagi ke undang-undang partai politik di Pasal 11 UU Partai Politik di mana partai politik itu harus mencakup pendidikan politik, penyerapan aspirasi, dan rekrut- politik semua sudah kita lakukan di PDI Perjuangan Jawa Timur," tambahnya.
Pengamat Politik Rocky Gerung langsung berdiri dari tempat duduknya untuk merespons dialog antara Pakar Unair Suko dengan tokoh muda PDIP Jatim Qintharra.
"(Qintharra) sangat jujur menerangkan itu. Karena dia alami sendiri, dan itu perbedaan antara Qintharra dan tentara. Kalau tentara hadir tanpa kentara, kalau Qintharra dia hadir untuk menerangkan. Jadi, anda bisa sinis pada partai dan anda harus sinis pada politisi. Tetapi sinisme yang sekadar dihasilkan karena rasa iri, rasa jengkel, itu artinya anda cuma memproduksi sentimen. Yang kita perlukan adalah argumen," jelasnya.
"Jadi tantanglah PDIP, sekuat apa sih energi nasionalisme untuk menghalangi oligarki? Sekuat apa tanduk marhaen itu mampu untuk menjaga kedaulatan sebagai simbol dari Pancasila? Jadi hal-hal itu bukan rhetoric, tapi ada logics di belakang itu. Bahwa anda memiliki simbol banteng, bukan kerbau ya. Kalau banteng, dia bisa menyundul, kalau kerbau kepalanya bisa diinjak-injak apalagi di Lampung," lanjutnya.
"Jadi sekali lagi saya anggap bahwa ada energi sebetulnya, yang menunggu untuk popping up. Nah energi itu mesti dihasilkan melalui gagasan-gagasan intelektual, gagasan akademis. Kita berhadapan dengan kondisi dunia yang tanpa arah. Lalu semua orang marah ke segala arah. Marah ke segala arah artinya marah tanpa arah. Kalau anda ingin marah dengan arah, anda butuh argumen. Supaya arahnya bisa dihasilkan dengan kepastian dan keyakinan, maka arah itu harus ideologis," lanjutnya.
Rocky menekankan untuk anak-anak muda termasuk kader muda PDIP Jatim agar terus melakukan komunikasi dengan berbagai argumen demi kebaikan bangsa.
"Jadi itu yang selalu saya ingin terangkan pada teman-teman anak muda bahwa mari kita bertengkar dengan argumen dan dengan arah ideologis. Hanya dengan itu negeri ini bisa dihasilkan kembali. Dihasilkan kembali artinya kita kunjungi ulang, kita revisiting bagaimana perdebatan ideologi, perdebatan konsep ketika Bung Karno masih anak muda. Dia berpikir sambil membaca buku, dia membaca buku sambil pacaran. Itulah fakta hari ini, jadi silakan pacaran, tapi jangan lupa berpikir," tandasnya.
(akd/ega)






Komentar (0)