JAKARTA, DISWAY.ID - Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan semakin menjadi perhatian dunia seiring meningkatnya kompleksitas ekonomi dan geopolitik global.
Pemanfaatan AI kini tidak lagi terbatas pada sektor teknologi, tetapi telah merambah berbagai bidang industri, mulai dari keuangan, manufaktur, perdagangan, hingga usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).
Teknologi ini dinilai mampu menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi karena dapat meningkatkan produktivitas, efisiensi bisnis, serta membuka peluang investasi baru.
BACA JUGA:Mengapa Penahanan Febrie Adriansyah Dititipkan di Rutan KPK? Begini Penjelasan KPK
Head of Investment & Insurance Products, Consumer Banking Group PT Bank DBS Indonesia, Djoko Sulistyo, menilai bahwa strategi investasi saat ini tidak cukup hanya melihat kondisi pasar dalam jangka pendek.
"Di tengah perubahan lanskap global, investor perlu melihat peluang secara lebih luas dengan mempertimbangkan kekuatan fundamental setiap kawasan," ucap Djoko kepada Disway, pada Jumat, 24 Juli 2026.
Dalam hal ini, terdapat tiga kawasan utama yang menarik untuk dicermati, yaitu Amerika Serikat (AS), Tiongkok, serta Asia termasuk Indonesia.
Dari ketiga kawasan tersebut, AS masih menjadi pemimpin dalam inovasi AI, disusul denga.
Tiongkok berhasil mengakselerasi pemanfaatan AI ke berbagai sektor industri sehingga meningkatkan produktivitas, sementara Asia, termasuk Indonesia, memperoleh manfaat dari pergeseran rantai pasok global dan pertumbuhan ekonomi regional.
BACA JUGA:Febrie Adriansyah Ditahan di Rutan KPK, Kejagung Ungkap Alasan Pilih Lokasi Khusus
Dengan dinamika ini, Executive Director Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya menilai bahwa Indonesia juga perlu terus memperkuat fondasi ekonomi domestik agar mampu menjaga daya saing dan menarik investasi secara berkelanjutan.
"Meningkatnya rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok serta kecenderungan berbagai negara menerapkan kebijakan ekonomi yang lebih proteksionis membuat setiap negara perlu semakin adaptif dalam menyusun strategi ekonomi dan diplomasi," tutur Yunarto.
Selain itu, dirinya juga menekankan bahwa daya saing Indonesia pada akhirnya tetap ditentukan oleh kekuatan fundamental ekonomi di dalam negeri.
"Posisi tawar suatu negara tidak hanya ditentukan oleh kemampuan diplomasi, tetapi juga oleh kekuatan fundamental ekonominya," tegas Yunarto.
BACA JUGA:5 Tahun Juara Satu, Ibu yang Tak Pernah Menyerah: Kisah Veronika Reni dan PNM Mekaar di Hari Anak Nasional
- 1
- 2
- »






Komentar (0)