Surabaya, tvOnenews.com – Orang dewasa yang memilikinya berat badan di atas rata-rata atau Indeks Massa Tubuh (IMT) berlebih berisiko mengalami peradangan kronis.
Karena itulah, dosen dan mahasiswa program studi (prodi) DIV Analis Kesehatan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) mengedukasi masyarakat Medokan Ayu, Surabaya.
Mengusung topik "Hubungan Kadar C-Reactive Protein (CRP) Serum dengan Hitung Jenis Leukosit pada Hapusan Darah Tepi Dewasa Ber-IMT Berlebih" itu melibatkan dua jenis pemeriksaan laboratorium, yaitu pemeriksaan kadar C-Reactive Protein (CRP) serum dan evaluasi hapusan darah tepi untuk hitung jenis leukosit.
Pemeriksaan CRP khususnya menggunakan metode high-sensitivity (hs-CRP) bertujuan untuk mengukur kadar protein spesifik yang dihasilkan oleh hati sebagai penanda adanya peradangan dalam tubuh, terutama peradangan tingkat rendah (low-grade inflammation) yang sering dipicu oleh penumpukan jaringan lemak berlebih.
Sementara itu, pemeriksaan hapusan darah tepi (differential count) dilakukan dengan membuat sediaan darah di atas kaca objek yang diwarnai, lalu diamati di bawah mikroskop untuk menghitung persentase dari lima jenis sel darah putih: neutrofil, limfosit, monosit, eosinofil, dan basofil.
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat yang juga Dosen D4 Analis Kesehatan, Ayuningtyas Wahyu Nurani mengatakan penggabungan kedua parameter ini memungkinkan analisis secara komprehensif.
"Mengenai sejauh mana tingkat respons imun dan potensi risiko inflamasi sistemik pada individu dewasa ber-IMT berlebih," ujarnya dalam keterangan tertulisnya, Jumat (24/7).
Edukasi yang diberikan pada warga terkait pengaruh kadar CRP bagi tubuh, juga upaya dalam mengatasi kadar CRP dengan mengatur pola makan yang sesuai, serta pola hidup yang dapat diterapkan di kehidupan sehari-hari.
"Penyuluhan dilakukan dengan cara pemberian edukasi dengan menggunakan media edukasi pizza tarik yang juga berfungsi sebagai media game, agar masyarakat bisa lebih memahami dan antusias dalam penyuluhan," jelasnya.
Melalui penyuluhan ini, diharapkan masyarakat dapat memahami akan pentingnya menjaga dan mengatur pola hidup agar kadar CRP pada tubuh bisa terjaga dan tidak melebihi kadar normal.
Sebelum dan sesudah penyuluhan, tim melakukan tes pada warga. Edukasi ini menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya mengatur pola hidup, baik makanan dan aktivitas yang dilakukan, agar kadar CRP tidak berlebih dan menimbulkan inflamasi atau peradangan pada tubuh.





Komentar (0)