Dari kejauhan, siluetnya sudah terlihat begitu perahu meninggalkan dermaga Ketapang Kwawi. Kedua tangan terentang, berdiri kokoh di atas bukit hijau Pulau Mansinam—itulah Patung Kristus Raja, ikon wisata religi yang kini menjadi salah satu daya tarik utama Kabupaten Manokwari, Papua Barat.
Patung yang menjulang hingga sekitar 30 meter ini berdiri di atas empat pilar berbentuk tifa yang dihiasi ukiran khas Papua, lengkap dengan patung malaikat di setiap sisinya. Diresmikan pada 2014, monumen ini dibangun pemerintah sebagai simbol penghormatan atas sejarah masuknya Injil ke Tanah Papua sekaligus penghargaan terhadap peradaban masyarakat setempat.
Pulau Mansinam sendiri bukan sekadar destinasi wisata biasa. Di pulau kecil berpenduduk sekitar 800 jiwa ini, dua misionaris asal Jerman, Carl Willhelm Ottow dan Johann Gottlob Geissler, pertama kali menginjakkan kaki pada 5 Februari 1855. Momen yang hingga kini diperingati setiap tahun sebagai Hari Masuknya Injil di Tanah Papua. Jejak sejarah itu masih bisa disaksikan langsung: tugu salib peringatan, patung Ottow-Geissler, sumur tua peninggalan misionaris, hingga reruntuhan gereja pertama yang mereka dirikan.
Namun, Patung Kristus Raja tetap menjadi pusat perhatian pengunjung. Desainnya yang sekilas mengingatkan pada Christ the Redeemer di Rio de Janeiro membuatnya kerap disebut sebagai salah satu patung Yesus tertinggi di Indonesia. Dari area sekitar patung, wisatawan bisa menikmati panorama Teluk Doreri yang membentang luas, dipadukan dengan hamparan pasir putih dan deretan pohon kelapa khas pesisir Papua.
Untuk mencapai lokasi, wisatawan dapat menyeberang menggunakan kapal kecil atau biasa disebut taksi laut dari Pelabuhan Ketapang Kwawi di Kota Manokwari, dengan waktu tempuh sekitar 15–20 menit. Jarak yang relatif dekat yaitu hanya sekitar 6 kilometer dari pusat kota, menjadikan Mansinam sebagai pilihan wisata sehari yang mudah dijangkau, baik untuk wisata rohani, wisata sejarah, maupun sekadar menikmati suasana pulau yang tenang.
Setiap tanggal 5 Februari, Pulau Mansinam dipadati peziarah dan wisatawan dari berbagai daerah, bahkan luar Papua, yang datang memperingati hari masuknya Injil sekaligus mengunjungi Patung Kristus Raja. Di luar momen tahunan itu pun, patung ini tetap ramai dikunjungi wisatawan yang penasaran dengan perpaduan nilai sejarah, spiritualitas, dan keindahan alam yang ditawarkan Mansinam.
Bagi siapa pun yang berkunjung ke Manokwari, menyambangi Patung Kristus Raja di Pulau Mansinam serasa menjadi pelengkap perjalanan sebagai sebuah pengingat bahwa dari pulau kecil inilah cahaya peradaban baru bagi Tanah Papua pernah bermula.






Komentar (0)