Kinerja Keuangan Anak Usaha PTPP Merah Jelang Merger BUMN Karya, Apa Sebabnya?

katadata.co.id
1 jam lalu
Cover Berita

Kinerja keuangan dua anak usaha emiten konstruksi pelat merah PT PP Tbk (PTPP) memburuk semester pertama 2026. Padahal, grup ini akan ikut melebur dalam wacana peleburan (merger) Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Karya yang tengah disiapkan pemerintah.

Di tengah dorongan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara untuk mengonsolidasikan BUMN Karya, proses restrukturisasi masih menghadapi tantangan. Danantara sebelumnya menyatakan akan menyehatkan kondisi keuangan BUMN Karya lebih dulu sebelum merger dilakukan agar entitas hasil penggabungan memiliki struktur keuangan yang lebih sehat dan tidak terbebani utang.

Jika digabungkan, dua anak usaha PTPP, yakni PT PP Presisi Tbk (PPRE) dan PT PP Properti Tbk (PPRO),  keduanya mencatatkan rugi bersih sebesar Rp 364,5 miliar pada semester pertama 2026. Padahal pada periode yang sama tahun lalu, keduanya masih membukukan laba.

PPRE menjadi salah satu penyumbang penurunan kinerja tersebut. Perseroan membukukan rugi bersih Rp 162,79 miliar pada semester pertama 2026, berbalik dari laba Rp 4,62 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Padahal, pendapatan PPRE meningkat 35,36% menjadi Rp 2,22 triliun dari Rp 1,64 triliun. Kenaikan tersebut diikuti lonjakan beban pokok pendapatan menjadi Rp 1,99 triliun dari Rp 1,32 triliun. Meski begitu, perseroan masih membukukan laba kotor sebesar Rp 233,69 miliar.

Kerugian PPRE dipicu sejumlah faktor. Perseroan mencatat bagian rugi dari ventura bersama sebesar Rp 2,71 miliar, sementara pada tahun sebelumnya pos ini belum ada. Rinciannya, kerja sama operasi (KSO) PPRE bersama anak usahanya, PT Lancarjaya Mandiri Abadi (LMA) masih menghasilkan laba Rp 743,81 juta. Namun, keuntungan tersebut tidak mampu menutup kerugian Rp 3,45 miliar dari kerja sama operasi antara PPTE dan mitranya dalam proyek konstruksi jalan nasional di wilayah perbatasan Sigli, Aceh.

Selain itu, kerugian penurunan nilai melonjak menjadi Rp 57,94 miliar dari Rp 3,12 miliar. Beban usaha juga naik menjadi Rp 47,93 miliar dari Rp 46,37 miliar, sementara pendapatan lain-lain turun menjadi Rp 29,07 miliar dari Rp 43,07 miliar. Kombinasi faktor tersebut membuat laba sebelum pajak perseroan berbalik menjadi rugi Rp 85,76 miliar dari laba Rp 80,46 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Apa yang Menekan Kinerja PPRO?

Kondisi serupa terjadi di PT PP Properti Tbk (PPRO). Perseroan membukukan rugi bersih Rp 201,71 miliar pada semester pertama 2026, berbalik dari laba Rp 47,18 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Sebenarnya, pendapatan PPRO naik menjadi Rp 171,18 miliar dari Rp 142,24 miliar. Namun, beban pokok pendapatan juga meningkat menjadi Rp 163,94 miliar dari Rp 139,78 miliar sehingga laba kotor hanya mencapai Rp 7,24 miliar.

Tekanan terbesar berasal dari beban lainnya yang mencapai Rp 106,22 miliar. Sebaliknya, pada semester pertama 2025 pos ini justru mencatat keuntungan sebesar Rp 176,37 miliar. Selain itu, PPRO membukukan bagian rugi dari entitas asosiasi dan ventura bersama sebesar Rp 2,10 miliar, berbalik dari laba Rp 2,62 miliar pada tahun sebelumnya.

Akibatnya, rugi sebelum pajak penghasilan membengkak menjadi Rp 206,25 miliar.

PTPP Justru Cetak Kenaikan Laba

Di tengah anjloknya kinerja dua anak usahanya, PTPP justru berhasil meningkatkan laba bersih pada semester pertama 2026. Perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp 193,46 miliar, melonjak dari Rp 65,24 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Peningkatan laba tersebut terjadi meski pendapatan turun menjadi Rp 5,9 triliun dari Rp 6,7 triliun. Perseroan berhasil menekan beban pokok pendapatan menjadi Rp 5,19 triliun dari Rp 5,78 triliun, serta memangkas beban usaha menjadi Rp 368,85 miliar dari Rp 409,67 miliar.

Di sisi lain, beban keuangan meningkat menjadi Rp 1,04 triliun dari Rp 807,26 miliar. Namun, lonjakan pendapatan lainnya menjadi Rp 877,27 miliar dari Rp 595,69 miliar mampu menopang pertumbuhan laba bersih perseroan.

Di samping itu, melihat kontribusi pendapatan diterima dimuka dari masing-masing anak usaha perseroan. Hingga 30 Juni 2026, PPRO menjadi kontributor terbesar dengan pendapatan diterima dimuka sebesar Rp 27,65 miliar, namun turun tipis dari Rp 28,51 miliar pada akhir 2025. Sementara itu, PT PP Sinergi Banjaratma mencatat Rp 9,36 miliar, turun dari Rp 10,30 miliar.

Sebaliknya, beberapa entitas anak mencatat kenaikan. Pendapatan diterima dimuka PT Sinergi Colomadu meningkat menjadi Rp 597,8 juta dari Rp 395,9 juta, sedangkan PT Centurion Perkasa Iman turun menjadi Rp 58,6 juta dari Rp 79,3 juta. Adapun PT PP Semarang Demak relatif stabil di kisaran Rp 5,4 juta.

Secara keseluruhan, total pendapatan diterima dimuka sebelum dikurangi porsi jangka panjang mencapai Rp 173,81 miliar, naik dari Rp 129,84 miliar pada akhir 2025.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Warning dari Prabowo: Jika 3 Orang Ini Berkumpul, Wah, Repot
• 15 jam lalu
0
thumb
Andre Rosiade Kawal Rp 1,2 Triliun Anggaran Bangun Sumbar untuk Sekolah-Stadion
• 1 jam lalu
0
thumb
Kondisi Trisno PAS Band Makin Menurun, Dioperasi karena Ada Sumbatan Darah di Kepala
• 8 jam lalu
0
thumb
Dukung Pemulihan Bencana Sumatera, PT Pertamina (Persero) Raih Penghargaan di Lestari Summit 2026
• 1 jam lalu
0
thumb
Kemlu AS Panggil Dubes Malaysia, Minta Penjelasan soal Hubungan dengan Israel
• 10 jam lalu
0
Berhasil disimpan.