KUNINGAN, KOMPAS.TV - Jojo Suparto (52) merapikan saluran limbah kotoran sapi yang keluar dari pipa reaktor biogas, pada Rabu (22/7/2026) siang. Kotoran sapi itu terus mengalir secara bertahap melintasi lima bak penyaringan. Sementara itu, kandungan gas kotoran sapi dari dalam tabung reaktor disalurkan ke dapur menjadi sumber energi ramah lingkungan.
Mengontrol kotoran sapi adalah aktivitas harian Jojo selama empat tahun terakhir. Dia adalah Kepala Kandang Koperasi Produsen Karya Nugraha Jaya (KNJ), di Kelurahan Cipari, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.
Jojo bertugas memeriksa lima bak penyaringan kotoran sapi serta seluruh alat-alat instalasi biogas. Selama proses ini, dia tak pakai masker untuk menutup hidungnya. Dia bahkan menunjukan ampas padat dan cairan hasil penyaringan kotoran sapi yang nyaris tak berbau. Ampas padat menjadi pupuk organik padat (POD) dan cairannya menjadi pupuk organik cair (POC).
Setelah tugas di area bawah selesai, Jojo beranjak ke atas. Dia merawat sekitar 40 ekor sapi di dalam kandang koloni. Pekerjaannya memberi pakan, vitamin, memerah susu, hingga membersihkan kotoran.
Baca Juga: Prabowo Sebut Tengkulak Raup Margin 30-40 Persen, Koperasi Merah Putih Jadi Solusi
"Total ada 40 ekor, tiap satu ekor menghasilkan sekitar 15-20kilogram kotoran setiap hari. Jadi dalam sehari, ada sekitar 8 kuintal kotoran sapi yang jadi bahan baku biogas sekaligus bahan pupuk organik," kata Jojo saat ditemui Kompas.tv di kendang, Rabu (22/7/2026) siang.
Ia menjelaskan, tumpukan kotoran sapi yang dibersihkan setiap pagi dan sore, langsung dimasukkan ke dalam dua tabung reaktor besar. Delapan kuintal kotoran sapi dari kandang koloni tak pernah jadi masalah lingkungan, melainkan sangat bermanfaat.
Sejak beroperasi di tahun 2022, Jojo bersama tim kandang memanfaatkan biogas untuk merebus air hangat sebanyak 800 liter per hari, yang digunakan untuk membilas ambing sapi sebelum proses pemerahan. Menurutnya, pembilasan dengan air hangat berhasil menjaga kebersihan sekaligus kualitas susu.
Namun, pengolahan limbah tak berhenti pada biogas. Tim kandang memanfaatkan ampas padat dan cair sebagai pupuk organik. Keduanya digunakan untuk menyuburkan rumput gajah di belakang kandang. Setelah waktunya tiba, rumput ini dipanen untuk pakan sapi.
Inovasi Energi untuk Efisiensi
Ketua Koperasi Produsen Karya Nugraha Jaya (KNJ), Iding Karnadi mengatakan, pemanfaatan biogas ini merupakan hasil kolaborasi koperasi dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) serta Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Barat pada tahun 2019. Namun, baru beberapa bulan berjalan, proses tertunda karena wabah pandemi Covid-19 di tahun 2020.
Tahun 2022, tim sepakat melanjutkan proses pembangunan hingga akhirnya terwujud. Kerjasama inovasi ini berhasil membangun reaktor biogas berkapasitas 100meter kubik untuk kebutuhan dapur serta pengolahan kotoran sapi. Tak berpuas diri, keberhasilan program ini membuat koperasi mendapatkan dua kali pengembangan lanjutan, berupa energi terbarukan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 56kilovolt-ampere pada akhir 2023.
Baca Juga: Prabowo: Penyimpangan MBG dan Koperasi Merah Putih Akan Ditindak, Tak Ada Tebang Pilih
Dengan panel surya, koperasi memanfaatkan energi bersih ramah lingkungan untuk memenuhi kebutuhan listrik produksi susu, produksi pakan ternak, dan lainnya. Hanya dalam satu bulan, dampak PLTS sangat dirasa. Biaya pengeluaran listrik dari sekitar Rp50 juta perbulan, turun menjadi sekitar Rp40 juta. Pemanfaatan energi surya menghemat biaya pengeluaran listrik sekitar Rp10 juta tiap bulan.
“Jadi, Koperasi KNJ ini ramah lingkungan dari pengelolaan biogas, serta menerapkan amanat Presiden soal efisiensi. Energi PLTS berkapasitas 56kVa, berhasil efisiensi pengeluaran biaya listrik sekitar Rp10 juta perbulan,” kata Iding saat ditemui Kompas.tv di area PLTS, Rabu (22/7/2026) petang.
Iding Karnadi, Ketua Koperasi Produsen Karya Nugraha Jaya berdiri di ruang tamu dengan hiasan beberapa Sertifikat, Piagam serta Piala Penghargaan dari berbagai instansi pemerintah dan swasta dari tahun ke tahun. Iding menceritakan perjuangan panjang koperasi sejak tahun 1994 hingga hari ini yang mengalami jatuh bangun. (Sumber: KompasTV/Muhamad Syahri Romdhon)Berawal dari Kelompok Kecil
Sambil berkeliling area koperasi, Iding yang sudah dua periode dipercaya menahkodai organisasi ini banyak bercerita. Berawal saat 'perahu kecil' ini dimulai tiga dekade silam pada 1994. Peternak muda membuat kelompok kecil sekitar 10 orang anggota dengan populasi 50 ekor sapi. Saat itu, produksi susu kurang dari 200 liter perhari dengan harga Rp350 perliter.
Kelompok kecil tersebut kemudian mengembangkan diri dengan membentuk koperasi pada tahun 1997. Jumlah anggota meningkat menjadi sekitar 80 peternak dengan populasi 150 ekor sapi. Produksi susu pun naik menjadi sekitar 3.000 liter perhari.
Koperasi ini memberanikan diri menjalin kerjasama dengan sejumlah perusahaan. Keberanian, perbaikan tata kelola, kepatuhan bersama pada sistem gotong royong, hingga peningkatan kualitas produksi susu, membuat koperasi ini mendapatkan kepercayaan.
Kerjasama dengan perusahaan masih terus dijaga. Sekarang, anggota koperasi hampir menyentuh 1.000 peternak, dengan total populasi sekitar 4.700 ekor, yang tersebar di Kelurahan Cipari, Cigugur, Desa Cisantana, Puncak, Gunungkeling di Kecamatan Cigugur, dan Desa Manislor di Kecamatan Jalaksana. Dari kerja keras bersama ini, koperasi menghasilkan sekitar 28.000 liter susu setiap hari.
“Alhamdulillah kerjasama sejak 1997 masih terjaga dengan baik. Hari ini, 90 persen dari total produksi harian sebanyak 28.000 liter perhari, kami kirim ke PT Ultra Jaya di Bandung dan PT Diamond di Cibitung. Sisanya diserap UMKM untuk menggerakan industri rumahan di sekitar,” kata Iding.
Penulis : Gading-Persada
Sumber : Kompas TV
- koperasi
- produsen susu
- kuningan
- energi surya
- biogas koperasi KNJ
- energi terbarukan PLTS






Komentar (0)