Mengejutkan! Presiden Amerika Serikat Donald Trump tiba-tiba mengatakan bahwa kesepakatan nuklir dengan Arab Saudi bergantung pada pengakuan kerajaan tersebut terhadap Israel. Hal ini berpotensi menimbulkan kekacauan pada kesepakatan tersebut, hanya sehari setelah ditandatangani.
Syarat baru ini muncul meskipun pemerintah Saudi telah lama menolak bergabung dengan apa yang disebut Perjanjian Abraham dengan Israel.
Syarat itu tidak disebutkan dalam kesepakatan nuklir sipil yang diumumkan pada hari Rabu lalu, yang tampaknya merupakan kemenangan besar bagi Arab Saudi seiring Trump melancarkan perang terhadap Iran atas program nuklirnya.
Namun, Trump mengejutkan Arab Saudi dengan unggahan terbarunya di jaringan Truth Social miliknya, yang mengatakan bahwa kesepakatan itu "akan disetujui, tetapi sepenuhnya bergantung pada Arab Saudi bergabung dengan Perjanjian Abraham yang sangat dihormati dan sukses."
Gedung Putih bersikeras bahwa Trump sebelumnya telah memberi tahu Arab Saudi bahwa kesepakatan nuklir itu bergantung pada pengakuan soal Israel.
"Presiden selalu menjadi penentu akhir kesepakatan. Dia telah mengatakan jika mereka tidak bergabung dengan Perjanjian Abraham, kesepakatan itu batal," kata Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt kepada wartawan, dilansir kantor berita AFP, Jumat (24/7/2026).
"Presiden telah berbicara langsung dengan pihak Saudi tentang hal ini dalam banyak percakapan di masa lalu, dan pemerintah akan terus terlibat dalam percakapan tersebut,"imbuhnya.
Leavitt mengatakan dia tidak mengetahui adanya panggilan telepon antara Trump dan Netanyahu setelah pengumuman kesepakatan Saudi tersebut.
Sejauh ini tidak ada reaksi langsung dari Riyadh.
(ita/ita)






Komentar (0)