REPUBLIKA.CO.ID, TANGGAMUS — Transformasi industri kopi menuju praktik yang lebih berkelanjutan dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan daya saing ekspor Indonesia sekaligus membuka sumber pendapatan baru bagi petani. Pengembangan biochar, perdagangan karbon, dan digitalisasi tata kelola lingkungan dinilai mampu mengubah limbah perkebunan menjadi aset ekonomi bernilai tinggi.
Komitmen tersebut ditandai melalui penandatanganan nota kesepahaman antara PT ESGIN Global Partners (ESGIN) dan Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (DPP AEKI) di Kantor Pemerintah Kabupaten Tanggamus, Lampung, Kamis (23/7/2026).
Kerja sama tersebut mencakup pengembangan biochar, implementasi Digital Measurement, Reporting and Verification (Digital MRV), sertifikasi, hingga komersialisasi kredit karbon untuk mendukung pengembangan ekonomi hijau di sentra-sentra perkebunan kopi nasional.
Kabupaten Tanggamus dipilih sebagai lokasi awal karena merupakan salah satu daerah penghasil kopi terbesar di Indonesia. Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Tanggamus, produksi kopi daerah tersebut mencapai 39.165 ton pada 2025 dengan luas perkebunan sekitar 41.526 hektare yang dikelola sekitar 40.084 kepala keluarga petani. Kecamatan Ulu Belu menjadi sentra produksi terbesar dengan hasil mencapai 12.067 ton dari areal seluas sekitar 10.720 hektare.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Besarnya areal perkebunan tersebut menghasilkan biomassa dalam jumlah besar, mulai dari kulit kopi, ranting hasil pemangkasan, hingga limbah organik lainnya. Selama ini sebagian besar biomassa belum dimanfaatkan secara optimal, padahal berpotensi diolah menjadi biochar yang dapat meningkatkan kesuburan tanah sekaligus menyerap karbon dalam jangka panjang.
Melalui skema tersebut, limbah perkebunan diharapkan tidak lagi menjadi beban lingkungan, melainkan menjadi sumber nilai tambah baru melalui perdagangan kredit karbon sekaligus mendukung praktik budidaya kopi yang lebih berkelanjutan.
Chief Executive Officer PT ESGIN Global Partners Brandon Keam mengatakan pembangunan ekonomi hijau membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, asosiasi, investor, akademisi, dan masyarakat.
"Investasi hijau harus menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat. Karena itu kami tidak hanya membangun proyek, tetapi juga meningkatkan kapasitas daerah, memperkuat kesejahteraan petani, menciptakan lapangan kerja hijau, serta membantu pemerintah daerah menyusun arah pembangunan ekonomi hijau yang berkelanjutan. Tanggamus memiliki potensi besar menjadi model nasional pengembangan ekonomi hijau berbasis kopi," ujarnya.
Menurut Brandon, ESGIN tidak hanya berperan sebagai investor proyek hijau, tetapi juga menjadi mitra pemerintah daerah dalam menyusun peta jalan ekonomi hijau, mengembangkan teknologi Digital MRV berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan blockchain, serta mendorong masuknya investasi rendah karbon ke daerah.
Ia menambahkan, pendekatan tersebut dirancang sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Instrumen Nilai Ekonomi Karbon dan Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca Nasional, sekaligus mendukung pencapaian target Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia serta target Net Zero Emission pada 2060 atau lebih cepat.
Ketua Umum DPP AEKI Irfan Anwar menilai keberlanjutan akan menjadi faktor penting dalam menentukan daya saing kopi Indonesia di pasar global.
"Ke depan, daya saing kopi Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kualitas biji kopi, tetapi juga kemampuan menerapkan praktik produksi yang berkelanjutan, rendah karbon, dan memenuhi standar ESG global. Kami berharap kerja sama ini meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat daya saing ekspor kopi nasional," katanya.
Pemerintah Kabupaten Tanggamus menyambut positif kolaborasi tersebut karena dinilai dapat membuka peluang investasi hijau, pemanfaatan teknologi, serta pengembangan pasar karbon yang berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Melalui kemitraan tersebut, ESGIN dan DPP AEKI menargetkan lahirnya model pengembangan ekonomi hijau berbasis kopi yang mengintegrasikan investasi hijau, pemanfaatan biochar, digitalisasi tata kelola lingkungan, perdagangan karbon, serta pemberdayaan petani. Model tersebut diharapkan dapat direplikasi di berbagai sentra kopi Indonesia untuk memperkuat kontribusi sektor perkebunan terhadap pembangunan rendah karbon sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas kopi nasional.
Komentar (0)