Jakarta: Bulan Safar kerap dianggap bulan sial bagi umat Muslim. Anggapan tersebut keliru dan mesti diluruskan, salah satunya melalui Khutbah Salat Jumat di mana para umat muslim laki-laki berkumpul.
Bulan Safar bukanlah bulan kesialan, melainkan bagian dari waktu yang Allah Swt. ciptakan untuk memperkuat keimanan. Di antara penguatan keimanan tersebut adalah iman kepada takdir Allah beserta qada dan qadar-Nya.
Melansir islam.nu.or.id, umat Muslim tentu tidak boleh menggantungkan nasib kepada bulan, hari, angka, atau pertanda tertentu. Umat mesti senantiasa berikhtiar, berdoa, dan bertawakal kepada Allah Swt. dalam menghadapi setiap keadaan.
Berikut naskah khutbah berjudul, "Bulan Safar, Momentum Penguatan Iman pada Qada dan Qadar"
Hadirin Jamaah shalat Jumat hafidzakumullah
Merupakan keniscayaan bagi kita semua untuk terus menguatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Swt.. Penguatan ini akan memperkuat kesadaran bahwa apa pun yang terjadi dalam kehidupan ini merupakan kehendak Allah. Perjalanan kehidupan kita dan seluruh makhluk di dunia, baik itu yang nyata maupun yang ghaib, sudah ditentukan oleh Allah. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an surat Al-An’am ayat 59 yang artinya:
“Kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahuinya selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan (tertulis) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuz)."
Kesadaran atas kuasa Allah ini juga akan menjadikan kita semakin mengimani takdir Allah Swt. serta mengikis mitos kesialan hidup pada waktu-waktu tertentu. Seperti kehadiran bulan Safar saat ini yang sering dianggap sebagai bulan yang membawa kesialan, bulan yang penuh dengan marabahaya, bulan yang harus diwaspadai, atau bulan yang tidak baik untuk melakukan berbagai aktivitas.
Hadirin Jamaah shalat Jumat hafidzakumullah
Islam tidak mengajarkan bahwa Safar adalah bulan yang membawa keburukan. Justru, bulan Safar dapat kita jadikan sebagai momentum untuk memperkuat keimanan kita kepada Allah Swt., khususnya iman kepada qada dan qadar.
Islam datang untuk membersihkan akidah manusia dari berbagai bentuk kepercayaan yang tidak benar. Pada masa jahiliah, sebagian masyarakat memiliki kebiasaan mengaitkan nasib mereka dengan pertanda tertentu. Melihat burung tertentu dianggap pertanda buruk. Mendengar suara tertentu dianggap pertanda buruk. Melihat angka tertentu dianggap membawa kesialan. Berada di tempat tertentu dianggap membawa bencana. Termasuk meyakini bulan tertentu sebagai bulan yang membawa kesialan.
Dalam sebuah hadits, sabda Rasulullah saw. yang berarti:
“Tidak ada wabah (yang menyebar dengan sendirinya tanpa kehendak Allah), tidak pula tanda kesialan, tidak (pula) burung (tanda kesialan), dan juga tidak ada (kesialan) pada bulan Safar. Menghindarlah dari penyakit judzam sebagaimana engkau menghindar dari singa.” (HR Al-Bukhari)
Hadirin Jamaah shalat Jumat hafidzakumullah
Di sinilah pentingnya kita memahami qada dan qadar yang merupakan salah satu rukun iman. Kita wajib meyakini bahwa Allah Swt. Maha Mengetahui segala sesuatu. Allah mengetahui apa yang telah, sedang, dan akan terjadi. Tidak ada satu pun kejadian di alam semesta ini yang berada di luar pengetahuan Allah Swt..
Firman Allah yang artinya: “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu sesuai dengan ukuran.” (QS. Al-Qamar: 49).
Ilustrasi salat (MI/Andri Widiyanto)
atau alam ayat lain Allah juga berfirman yang artinya: "Katakanlah (Nabi Muhammad), “Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal.” (QS. At-Taubah: 51).
Namun, dalam memahami kedua ayat ini, jangan sampai kita salah memahami takdir. Iman kepada qada dan qadar bukan berarti kita boleh bermalas-malasan, tidak perlu bekerja, tidak perlu belajar, tidak perlu berobat ketika sakit atau tidak perlu menghindari bahaya. Islam mengajarkan kita untuk berikhtiar dan bertawakal dengan doa. Setelah itu, hasilnya kita serahkan kepada Allah Swt..
Mari perhatikan penjelasan Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam Tafsir Ar-Razi mengenai tawakkal yang artinya: “Tawakkal adalah memperhatikan sebab-sebab yang nyata, namun tidak mengandalkannya dengan sepenuh hati, melainkan bersandar kepada pengawasan Allah Swt..”
Jadi, tawakal bukanlah meninggalkan usaha, melainkan tetap memperhatikan dan menjalankan sebab-sebab yang nyata untuk mencapai tujuan. Namun, kita tidak boleh sepenuhnya bergantung kepada usaha dan sebab tersebut, karena segala hasil pada hakikatnya berada dalam kehendak dan ketetapan Allah Swt.. Oleh karena itu, kita harus berikhtiar secara maksimal, tetapi tetap meletakkan keyakinan dan sandaran hati hanya kepada Allah Swt..
Dengan iman kepada qadha dan qadar, sikap optimistis juga akan tumbuh dalam diri kita dan mampu menjadi modal dalam menghadapi masa depan. Kita yang meyakini takdir Allah akan tetap berusaha dan berharap kepada-Nya, karena kita percaya masa depan berada dalam ilmu dan kehendak Allah yang Mahabijaksana.
Optimisme akan menguatkan tekat bahwa kegagalan hari ini bukan alasan untuk berputus asa dan kesulitan yang dihadapi bukan akhir dari segalanya. Dengan keyakinan ini, kita akan mampu menatap masa depan dengan penuh harapan, terus berikhtiar, memperbanyak doa, dan bertawakal kepada Allah Swt.. Kita akan yakin bahwa selalu ada hikmah dan kebaikan yang Allah siapkan di balik setiap ketetapan-Nya.
Hadirin Jamaah shalat Jumat hafidzakumullah
Semoga Allah Swt. memberikan kita keimanan yang kokoh, keyakinan yang lurus, hati yang tenang, dan kemampuan untuk menerima setiap ketentuan-Nya dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang senantiasa berikhtiar dalam kebaikan, bersabar dalam ujian, bersyukur dalam kenikmatan, dan bertawakal dalam setiap keadaan.
Baca Juga :
Syarat dan Jumlah Rakaat Salat Tobat Lengkap dengan Tata Caranya





Komentar (0)