Wall Street Anjlok, Tertekan Saham Raksasa Teknologi dan Kenaikan Harga Minyak

idxchannel.com
16 jam lalu
Cover Berita

Wall Street dibuka anjlok pada perdagangan Kamis (23/7/2026), imbas kekhawatiran tentang pengeluaran AI yang besar kembali muncul.

Wall Street Anjlok, Tertekan Saham Raksasa Teknologi dan Kenaikan Harga Minyak. (Foto Istimewa)

IDXChannel - Wall Street dibuka anjlok pada perdagangan Kamis (23/7/2026), imbas kekhawatiran tentang pengeluaran AI yang besar kembali muncul setelah laporan keuangan pertama dari perusahaan teknologi besar.

Di lain sisi, harga minyak menyentuh angka USD100 per barel menyusul meluasnya konflik di Timur Tengah.

Baca Juga:
Wall Street Beragam, Investor Berhati-hati Jelang Rilis Kinerja Raksasa Teknologi

Dilansir dari Reuters, Dow Jones Industrial Average turun 504,86 poin atau 0,97 persen menjadi 51.713,72, S&P 500 melemah 70,92 poin atau 0,95 persen ke level 7.428,04, dan Nasdaq Composite melemah 433,12 poin atau 1,69 persen menjadi 25.257,79.

Hasil laporan keuangan kuartal II dari Alphabet dan Tesla, yang merupakan perusahaan megacap pertama dari tujuh perusahaan raksasa yang disebut Magnificent Seven, gagal memuaskan investor.

Baca Juga:
Wall Street Ditutup Melemah Jelang Rilis Laporan Keuangan Big Tech

Saham perusahaan induk Google turun 6,4 persen setelah hasil keuangan tersebut tidak banyak meyakinkan investor karena perhatian beralih ke rencana pengeluaran yang lebih tinggi.

"Alphabet menghabiskan ratusan miliar dolar untuk tetap unggul dalam perlombaan senjata AI," kata Direktur Investasi AJ Bell, Russ Mould.

Baca Juga:
Wall Street Ditutup Menguat, Investor Borong Saham Chip Jelang Rilis Laporan Keuangan

"Namun, masih ada tingkat skeptisisme yang cukup tinggi tentang kemampuan investasi ini untuk menghasilkan tingkat pengembalian yang sepadan," kata dia.

Tesla turun 12,2 persen setelah melaporkan arus kas bebas negatif untuk kuartal II untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua tahun.

Rencana belanja modal akan tetap menjadi fokus ketika perusahaan teknologi besar lainnya melaporkan minggu depan, karena investor mempertanyakan apakah sejumlah besar uang yang dicurahkan ke AI menghasilkan pengembalian yang berarti, dan apakah pertumbuhan laba dapat membenarkan valuasi saham yang tinggi.

Kekhawatiran geopolitik menambah tekanan. Setelah berbulan-bulan fokus investor tertuju pada Selat Hormuz, perhatian kini beralih ke Laut Merah, di mana Houthi yang bersekutu dengan Iran, yang menguasai wilayah di dekat Selat Bab el-Mandeb, telah membuka kekhawatiran baru dalam krisis Timur Tengah.

Harga minyak mentah Brent sempat naik hingga USD100 per barel, level tertinggi sejak akhir Mei.

Saham-saham chip, yang baru-baru ini mengalami volatilitas, menunjukkan pergerakan yang beragam. Texas Instruments turun 3,2 persen meskipun memperkirakan pendapatan kuartalan di atas estimasi.

Indeks S&P 500 mencatat 15 rekor tertinggi baru dalam 52 minggu dan delapan rekor terendah baru, sementara Nasdaq Composite mencatat 30 rekor tertinggi baru dan 68 rekor terendah baru.

(Dhera Arizona)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Update Dugaan Penculikan Atlet Golf, Polisi Sebut Jesslyn Pergi Bersama Ibu dan Tantenya
• 23 jam lalu
0
thumb
Sugiono Ingatkan ASEAN-China: Ekonomi Tak Boleh Jadi Sumber Konflik
• 23 jam lalu
0
thumb
Bakat-bakat yang Ditampilkan Para Calon Taruni Akpol di Seleksi Pusat 2026
• 2 jam lalu
0
thumb
Satpam Bundaran HI Ungkap Alasan Bersujud ke Sopir Alphard: Saya Sudah Ketakutan
• 37 menit lalu
0
thumb
Dukung Mahasiswa agar Tidak Ketinggalan dari Kecerdasan Buatan
• 9 jam lalu
0
Berhasil disimpan.