Hasmyati, Guru Besar Pendidikan Jasmani UNM
Hari ini, 23 Juli, Indonesia merayakan Hari Anak Nasional ke-42 dengan tema “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan”. Salah satu subtemanya menohok: “Kalau Aku Jadi Pemimpin Indonesia Tahun 2045”. Pertanyaan itu bukan basa-basi seremonial. Anak yang duduk di bangku SD hari ini adalah calon pemimpin di tahun emas Indonesia. Dan salah satu ruang paling murah, paling mudah dijangkau, tapi paling diabaikan untuk menyiapkan mereka adalah lapangan olahraga.
Olahraga Bukan Sekadar Jam Pelajaran Tambahan
Selama ini olahraga anak sering diposisikan sebagai pelengkap: jam istirahat yang dibungkus kurikulum, atau ajang mencari bibit atlet. Cara pandang ini sempit. Riset di bidang psikologi olahraga anak menunjukkan bahwa aktivitas fisik terstruktur membentuk fungsi eksekutif otak—kemampuan mengambil keputusan cepat, mengatur emosi, dan bekerja dalam tim. Ini bukan soal fisik semata. Ini fondasi kepemimpinan.
Bandingkan anak yang tumbuh hanya di depan layar dengan anak yang terbiasa berlatih dalam tim: yang kedua belajar menang tanpa sombong, kalah tanpa hancur, dan memimpin tanpa menindas. Itu keterampilan yang tidak diajarkan buku teks.
Melindungi Anak Juga Berarti Melindungi Ruang Geraknya
Tema “Lindungi” dalam HAN 2026 biasanya diartikan sebagai perlindungan dari kekerasan dan eksploitasi. Itu benar, tapi belum lengkap. Melindungi anak juga berarti melindungi haknya untuk bergerak, bermain, dan berkompetisi secara sehat—jauh dari tekanan orang tua yang memaksakan target juara sejak usia dini, jauh dari pelatih yang menomorduakan tumbuh kembang demi medali instan.
Fenomena eksploitasi bakat anak dalam olahraga usia dini adalah bentuk kekerasan yang jarang dibicarakan secara terbuka. Anak dipaksa berlatih melebihi kapasitas fisiologisnya, dengan dalih prestasi bangsa. Ini kontradiksi dari semangat “Sayang Anak” itu sendiri.
Kepemimpinan Visioner Dimulai dari Kebijakan Olahraga Anak yang Berpihak
Membangun masa depan lewat olahraga anak butuh keberpihakan kebijakan, bukan sekadar slogan. Tiga langkah konkret bisa segera dikerjakan: Pertama, satuan pendidikan perlu memastikan pendidikan jasmani bukan jam kosong yang mudah dikorbankan untuk mata pelajaran lain. Kedua, pelatih usia dini wajib memiliki lisensi yang memahami tahapan tumbuh kembang anak, bukan sekadar mantan atlet tanpa bekal keilmuan. Ketiga, pemerintah daerah perlu menyediakan ruang publik yang aman untuk anak berolahraga tanpa harus membayar mahal—karena hak bergerak semestinya tidak bergantung pada isi dompet orang tua.
Ini bukan proyek jangka pendek. Ini investasi dua puluh tahun untuk generasi 2045.
Kembali ke pertanyaan subtema HAN 2026: kalau aku jadi pemimpin Indonesia tahun 2045, apa yang sudah disiapkan negara ini untukku hari ini? Jawabannya belum tentu enak didengar. Selama olahraga anak masih dianggap urusan pelengkap, selama pelatih usia dini masih dianggap profesi kelas dua, selama lapangan kampung terus berubah jadi ruko—kita sedang menyiapkan pemimpin masa depan dengan modal seadanya.
Hari Anak Nasional semestinya bukan hanya panggung lomba mewarnai dan pidato di tingkat kabupaten. Ia adalah momen untuk bertanya jujur: sudah sejauh apa kita memberi anak ruang untuk berlari, jatuh, bangun, dan memimpin timnya sendiri di lapangan—sebelum kelak memimpin negerinya?






Komentar (0)