Saat Panggung Fashion Menjadi Ruang yang Setara

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

AAjang peragaan busana Lampung International Fashion Movement (LIFMove) 2026 menjadi panggung bagi semua kalangan, termasuk penyandang disabilitas. Mereka tampil modis dan memikat dengan keunikan masing-masing. Pentas itu pun menjadi ruang bagi para penyandang disabilitas untuk menunjukkan bakat, kreativitas, dan kemampuan mereka.

Lampu panggung menyala terang. Tepuk tangan bergemuruh ketika satu per satu siswa dari Sekolah Luar Biasa (SLB) dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Disabilitas Growing Hope melangkah di atas landas peraga (runway). Ratusan pasang mata menyaksikan para model mengenakan busana kasual bernuansa biru dan putih.

Anak-anak penyandang disabilitas tampil bersama para guru dan pelatih. Mereka berjalan berlenggak-lenggok di atas panggung bak model profesional dengan penuh percaya diri.

Salah satunya adalah Mutiara Nur Rizki Khairani (17). Siswi kelas XI SLB Growing Hope itu tampil anggun mengenakan blus biru yang dipadukan dengan rok batik bernuansa biru-putih.

Rambut panjangnya diikat rapi dan dihiasi pita berwarna senada. Sepasang sneakers putih membuat penampilannya terlihat santai sekaligus elegan.

Rara, sapaan akrab Mutiara, berjalan bergandengan tangan dengan Sandi, salah seorang guru di sekolahnya. Ia sama sekali tidak tampak canggung.

Remaja dengan sindrom Down itu bahkan tak ragu melempar senyum kepada para penonton. Sesekali ia melambaikan tangan dan mengirimkan kiss bye saat meninggalkan panggung.

Sang ibu, Armala Dewi (51), mengaku bangga melihat putrinya tampil di panggung yang sama dengan para model profesional. Kebanggaan itu bertambah karena busana yang dikenakan Rara merupakan karya teman-teman penyandang disabilitas.

Menurut Armala, Rara memang telah beberapa kali mengikuti ajang peragaan busana. Anak bungsu dari empat bersaudara itu juga pernah menjuarai berbagai lomba busana dan tari tradisional.

”Rara memang suka berlenggak-lenggok di atas panggung sejak kecil. Saya sangat bangga karena dia bisa mengembangkan minat dan bakatnya sampai sejauh ini,” kata Armala di sela-sela acara yang digelar di Bandar Lampung, Lampung, Rabu (22/7/2026).

Untuk tampil maksimal, Rara dan teman-temannya berlatih selama tiga bulan. Selain berlatih berjalan di atas panggung, mereka juga belajar mengatur ekspresi wajah dan membangun kepercayaan diri.

Model lain, Louis Atmadja (14), juga tampil menawan mengenakan kemeja dan celana pendek bergaris biru-putih. Kacamata dan sepatu putih melengkapi penampilannya.

”Dia semangat sekali mau tampil menjadi model. Sampai bangun pagi-pagi karena tidak sabar datang ke lokasi acara,” ujar Nami, ibu Louis.

Menurut Nami, Louis yang lahir dengan sindrom Down memang senang tampil di depan umum. Selain menjadi model, ia juga gemar menyanyi.

Nami berharap Louis dan anak-anak penyandang disabilitas lainnya semakin banyak memperoleh ruang untuk menunjukkan kemampuan mereka, sebagaimana anak-anak lainnya.

Baca JugaKafe Energi Positif, Ruang Berdaya Pekerja Disabilitas di Lampung
Kreativitas

Pendiri SLB dan LPK Growing Hope Maria Novitawati, yang juga berprofesi sebagai desainer, mengatakan, koleksi yang ditampilkan dalam ajang tersebut merupakan hasil kreativitas para penyandang disabilitas. Mereka terlibat mulai dari membuat motif batik, mewarnai kain, hingga proses penyelesaian kain. Setelah itu, Maria bersama timnya merancang berbagai busana kasual.

Menurut Maria, anak-anak dengan autisme memiliki kemampuan unik dalam membuat motif batik. Mereka mampu mengulang pola yang sama secara presisi dalam satu lembar kain sehingga menghasilkan motif yang sangat rapi.

"Ini adalah hasil kreativitas yang jujur dari anak-anak berkebutuhan khusus," ujar Maria.

Menurut dia, pekerja penyandang disabilitas mampu bekerja secara profesional. Mereka tekun, fokus, dan jarang mengeluh.

Karena itu, Maria tidak ragu membuka kesempatan kerja bagi lulusan SLB. Selain mengelola SLB dan layanan terapi, ia juga mengelola kafe serta restoran yang mempekerjakan penyandang disabilitas.

Kini Maria juga mengembangkan jenama GIH Fashion yang memproduksi berbagai busana kasual dengan konsep slow fashion atau mode berkelanjutan menggunakan material berkualitas dan tahan lama. Kain batiknya diproduksi melalui proses batik tulis oleh para pekerja penyandang disabilitas.

M Aaz Fauzainullah (25), salah seorang pekerja tuli, mengatakan, dirinya bangga terlibat dalam proses pembuatan batik yang dipamerkan pada ajang tersebut. Selama ini Aaz bekerja sebagai pembatik di LPK Growing Hope.

Ia mengaku membiarkan ide-idenya mengalir saat menciptakan motif batik. Berbagai bentuk seperti segitiga, persegi panjang, hingga motif abstrak lahir secara spontan.

"Tidak ada makna spesifik. Semua idenya mengalir saja," ujarnya melalui bahasa isyarat.

Baca JugaSemarak Wastra Lampung di Panggung Busana
Industri fashion

Lampung International Fashion Movement 2026 menjadi momentum penting bagi perkembangan industri fesyen di Lampung. Ajang yang berlangsung pada 22-23 Juli 2026 itu mempertemukan desainer, pelaku UMKM, industri kreatif, dan pencinta fesyen untuk mempromosikan karya sekaligus memperluas jejaring menuju pasar internasional.

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Lampung Purnama Wulan Mirza mengapresiasi penyelenggaraan ajang tersebut, termasuk pelibatan penyandang disabilitas. Menurut dia, LIFMove bukan sekadar perhelatan fesyen, melainkan ruang yang mempertemukan kreativitas lokal dengan pasar global.

"Semoga ajang ini menjadi ruang kolaborasi yang menghubungkan kreativitas lokal dengan panggung internasional, sekaligus memperkenalkan kekayaan wastra dan talenta fesyen Lampung ke kancah dunia," katanya.

Adapun Ketua Panitia LIFMove 2026 Laila Al Khusna mengatakan, penyelenggaraan kegiatan itu bertujuan meningkatkan daya saing produk fesyen Lampung di tingkat internasional. Kegiatan tersebut terselenggara berkat dukungan pemerintah daerah dan berbagai pihak.

Salah satunya Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung yang selama ini berperan mendorong lahirnya desainer muda melalui Program Inspiration Class. BI Lampung juga memberikan pendampingan kepada para desainer serta berkontribusi membangun ekosistem industri fesyen melalui berbagai pameran dan peragaan busana.

Laila menambahkan, keterlibatan model penyandang disabilitas dalam ajang peragaan busana di Lampung bukanlah hal baru. Mereka telah beberapa kali dilibatkan sebagai wujud komitmen terhadap inklusivitas.

Ke depan, penyandang disabilitas diharapkan memperoleh kesempatan yang lebih luas di industri fesyen. Keterlibatan mereka, mulai dari proses pembuatan busana hingga tampil di atas panggung, menunjukkan bahwa dunia fesyen adalah ruang yang terbuka bagi siapa pun untuk berkarya.

Baca JugaLampung Begawi 2025, dari Pameran Wastra hingga Pertemuan Bisnis 

 


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Mengembalikan Pedagogi ke Jantung Profesi Guru
• 6 jam lalu
0
thumb
Pendaftaran Magang Nasional 2026 Ditutup 28 Juli, Kini Terbuka untuk Lulusan Profesi
• 7 jam lalu
0
thumb
Hasil Timnas Putri Indonesia vs Laos 5-0, Garuda Pertiwi Juara Piala AFF 2026
• 18 jam lalu
0
thumb
Kementan beli benih jagung ITS Rp10 miliar untuk 13.000 hektare
• 13 jam lalu
0
thumb
Mungil, Lucu dan Super Irit ala Changan Lumin
• 20 jam lalu
0
Berhasil disimpan.