Bank Indonesia (BI) terus memperkuat bauran kebijakan untuk menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan. Salah satunya melalui pembelian Surat Berharga Negara (SBN) yang mencapai Rp188,68 triliun sepanjang 2026 hingga 21 Juli 2026.
Gubernue BI, Perry Warjiyo, menjelaskan nilai tersebut mencakup pembelian SBN di pasar sekunder sebesar Rp76,62 triliun. Ini sebagai bagian dari strategi BI menjaga stabilitas pasar keuangan sekaligus memastikan likuiditas tetap memadai untuk mendukung aktivitas ekonomi.
"Membeli SBN yang pada 2026 (hingga 21 Juli 2026) mencapai Rp188,68 triliun," kata Perry dikutip Kamis (23/7/2026).
Selain pembelian SBN, BI juga terus membuka window lelang instrumen repurchase agreement (repo) dengan tenor 3, 6, 9, dan 12 bulan bagi perbankan. Langkah ini ditujukan untuk memberikan fleksibilitas pendanaan bagi bank sekaligus menjaga transmisi kebijakan moneter berjalan efektif.
Kebijakan tersebut berdampak pada tetap tingginya pertumbuhan uang primer (M0). Pada Juni 2026, M0 tumbuh 14,1% secara tahunan (year-on-year/yoy) atau masih berada pada level dua digit.
Dari komponennya, pertumbuhan M0 ditopang oleh kenaikan uang kartal sebesar 14,0% (yoy) dan giro bank umum di Bank Indonesia yang meningkat 12,7% (yoy).
Sejalan dengan itu, uang beredar dalam arti luas (M2) pada Mei 2026 tumbuh sebesar 10,8% (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 9,2% (yoy).
Baca Juga: Perkuat Daya Saing UMKM, Bank Indonesia Kembali Gelar Karya Kreatif Sumatera Utara 2026
Baca Juga: Purbaya Beberkan Alasan Penempatan SAL di Bank, Sebut Data Likuiditas KSSK Keliru
Dari faktor yang memengaruhi, pertumbuhan M2 terutama dipengaruhi oleh penyaluran kredit dan aktiva luar negeri bersih.
"Ke depan, berbagai upaya penguatan untuk menjaga kecukupan likuiditas pasar uang, perbankan dan perekonomian akan terus ditempuh sehingga dapat menjaga stabilitas dan turut mendukung pertumbuhan ekonomi," pungkas Perry.






Komentar (0)