SRAGEN, KOMPAS.TV – Kemarau yang berlangsung selama 2 bulan terakhir membuat sumur-sumur di Desa Galeh, Kecamatan Tangen, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, mengering.
Karena tidak memiliki sumber air bersih, warga Desa Galeh yang berada di perbatasan Kabupaten Sragen dan Grobogan terpaksa memanfaatkan air bantuan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk mandi, mencuci pakaian, hingga membersihkan peralatan rumah tangga.
Sementara itu, untuk kebutuhan minum dan memasak, warga harus membeli air bersih dengan biaya tambahan sebesar Rp4.000 per galon.
Kondisi serupa juga dialami sejumlah petani jagung dan tebu. Mereka menggali tanah hingga kedalaman 2,5 meter untuk mengairi tanaman jagung dan tebu yang baru berusia 20 hari agar tidak mati akibat kekeringan.
Meski pemerintah telah menyalurkan bantuan melalui dropping air setiap tiga hari sekali, volume air yang didistribusikan dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan sekitar 700 kepala keluarga (KK) atau 2.000 jiwa.
Warga berharap pemerintah segera membangun dan memperluas jaringan air bersih agar masyarakat tidak lagi kesulitan memperoleh air untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Baca Juga: 3 Hektar Hutan Jati di Kulon Progo Terbakar, Kemarau Mempercepat Penyebaran Titik Api
#kekeringan #krisisair #kemarau #bpbd
Penulis : Shinta-Milenia
Sumber : Kompas TV
- krisis air
- air bersih
- kekeringan
- sragen kekeringan
- bantuan air
- bpbd






Komentar (0)