Gelar Ijtima Ulama, PKB Tegaskan Kiai Jadi Rujukan Utama Arah Partai

detik.com
3 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Dewan Pimpinan Pusat Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menggelar Ijtima Ulama Indonesia dalam rangka peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-28, Kamis (23/7). PKB menegaskan jika ulama dan kiai memegang peran sentral sebagi kompas moral penuntun arah partai.

"PKB memandang ulama sebagai kompas yang menjadi petunjuk langkah partai. Sudah sewajarnya jika mereka tetap menjadi sumber rujukan bagi para pengurus dan kader PKB dalam memperjuangkan dialektika kekuasaan untuk kepentingan umat," ujar Wakil Ketua Umum DPP PKB Cucun A Syamsurizal, di Jakarta, Kamis (23/7/2026).

Dia menjelaskan sebagai partai yang lahir langsung dari rahim Nahdlatul Ulama (NU), sudah sewajarnya jika para ulama senantiasa menjadi sumber rujukan utama bagi para pengurus dan kader dalam memperjuangkan kemaslahtan umat.

Menurutnya gelaran Ijtima Ulama Indonesia menjadi salah satu upaya PKB untuk mendengarkan masukan dan pandangan para kiai baik yang ahli fiqih, tauhid, hingga tasawuf, terkait berbagai dinamika kebangsaan.

"Saat ini dinamika terjadi begitu cepat baik di bidang teknologi informasi, penggunaan artificial intelegence, hingga perubahan lanskap ekonomi-politik nasional maupun global yang membutuhkan penyikapan dari para ulama," tuturnya.

Pertemuan akbar ini, kata Cucun dihadiri oleh sejumlah kiai dan pengasuh pesantren berpengaruh dari seluruh penjuru tanah air. Beberapa tokoh sepuh yang tampak hadir di antaranya Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj (Jakarta), KH. Kafabihi Mahrus (Pesantren Lirboyo Kediri), KH. Marzuki Mustamar (Malang), KH. Abdurrahman Kautsar (Ploso), KH. Imam Jazuli (Cirebon), KH. Imam Syafaat (Banyuwangi), hingga TGH. Lalu Habiburrahman (Lombok).

"Kehadiran para pengasuh pesantren ini menegaskan posisi mereka sebagai rujukan moral masyarakat dalam menyikapi persoalan keseharian," katanya.

Wakil Ketua DPR ini menambahkan bahwa kehadiran para ulama dalam forum Ijtima kali ini menjadi semakin mendesak dan relevan. Hari-hari ini, publik dihadapkan pada berbagai sorotan tajam di lingkungan institusi pendidikan pesantren, mulai dari dugaan kasus kekerasan seksual, tindakan perundungan (bullying), hingga maraknya fenomena "pesantren bodong".

"Rentetan persoalan ini dikhawatirkan memicu penurunan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pesantren yang selama ini dikenal sebagai jantung eksistensi Islam Aswaja di Nusantara," pungkasnya.




(ega/akn)

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Negara Asia Waspadai Minyak Taiwan Mengandung Zat Karsinogenik, Ini Faktanya
• 22 jam lalu
0
thumb
Tangis Umi Pipik Pecah, Kenang Nathalie Holscher Pernah Terpuruk Sebelum Menikah dengan Aripat
• 5 jam lalu
0
thumb
Berkonflik dengan Ratu Sofya, Ibunda Tak Sudi Lihat Foto Sang Aktris: Seperti Dilempar Kotoran ke Wajah
• 1 jam lalu
0
thumb
Erick Thohir Apresiasi Keberhasilan Timnas Indonesia Putri Back To Back Juara Piala AFF, Bukti Sepak Bola Putri di Jalur Tepat
• 14 jam lalu
0
thumb
Kepala BGN: Evaluasi standar bahan baku MBG jadi prioritas
• 2 jam lalu
0
Berhasil disimpan.