GARUT, KOMPAS - Sebanyak 17 orang yang merupakan guru dan santri di salah satu pondok pesantren di Kabupaten Garut, Jawa Barat, mengalami keracunan diduga setelah mengonsumsi makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Rabu (22/7/2026). Peristiwa ini terjadi berdekatan dengan pelantikan Sudaryono sebagai Kepala Badan Gizi Nasional yang baru.
Sebanyak 17 korban yang mengalami keracunan itu berasal dari Pondok Pesantren Al Mansuriah di Desa Sindangsuka, Kecamatan Cibatu, Garut. Mereka mulai merasakan gejala keracunan setelah mengonsumsi makanan yang disalurkan salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi pada Selasa (21/7/2026).
Gejala yang dirasakan para korban adalah mual, muntah-muntah, pusing hingga diare. Para korban mulai mendapatkan perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan terdekat pada Selasa siang. Berdasarkan laporan Pemerintah Kecamatan Cibatu, para korban masih menjalani perawatan di Puskesmas Cibatu hingga Rabu kemarin pukul 13.30 WIB.
Adapun menu yang diterima para korban pada hari itu adalah nasi putih, telur bumbu rendang, tempe asam manis, sayur sop, dan susu. Petugas telah mengambil sampel makanan untuk diperiksa di laboratorium guna mengetahui penyebab dugaan keracunan tersebut.
Kepala Seksi Hubungan Masyarakat Polres Garut Inspektur Dua Susilo Adhi, Kamis (23/7/2026), membenarkan kasus keracunan yang diduga terjadi setelah mengonsumsi makanan dalam program MBG di Cibatu. Ia mengatakan, petugas kepolisian setempat masih berada di lokasi untuk mengumpulkan data lengkap kejadian tersebut.
Adhi menuturkan, pemicu keracunan makanan belum diketahui. Polisi bersama instansi yang berwenang akan menyelidiki sampel makanan yang dikonsumsi para korban.
“Diduga keracunan di wilayah Cibatu. Sebagian korban masih menjalani perawatan di puskesmas setempat. Petugas kami masih berada di lapangan,” kata Adhi.
Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) Ubaid Matraji mengatakan, kejadian ini adalah ujian nyata bagi Sudaryono selaku Kepala BGN yang baru dilantik. Ubaid menilai, sistem keamanan pangan dalam implementasi program itu di lapangan rawan bermasalah.
Berdasarkan pemantauan JPPI, sejak awal tahun 2025 hingga April 2026, sebanyak 33.626 pelajar di Indonesia tercatat mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan dalam program MBG.
Jabar menjadi provinsi dengan jumlah korban keracunan MBG tertinggi pada 2025, yakni 24,34 persen. Hasil pemantauan JPPI bersumber dari catatan medis puskesmas, rumah sakit, dan rilis resmi dinas kesehatan di tiap wilayah terdampak.
"Hal ini menunjukkan bahwa pimpinan baru BGN gagap dalam memetakan risiko dan lambat dalam membangun sistem pengawasan yang kuat. Jabatan baru seharusnya membawa perbaikan cepat, bukan malah dibayar dengan keselamatan para siswa dan guru," ujar Ubaid.
Sebelumnya, seusai dilantik sebagai Kepala BGN pada Rabu kemarin, Sudaryono mengakui adanya persoalan dalam pengelolaan lembaga itu serta program Makan Bergizi Gratis. Ia pun mengajak jajaran BGN agar berani menyelesaikan problem transparansi, penyelewengan, hingga pelanggaran hukum tersebut.
Sudaryono dilantik sebagai Kepala BGN di Istana Negara, Jakarta, pada Rabu sore. Ia didapuk untuk menggantikan Nanik S Deyang yang mengundurkan diri dari jabatan Kepala BGN pada Rabu pagi.
Jabatan baru seharusnya membawa perbaikan cepat, bukan malah dibayar dengan keselamatan para siswa dan guru
Hanya berselang beberapa jam setelah dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto, Sudaryono langsung menggelar rapat dengan jajaran BGN. Rapat itu menjadi langkah pertamanya sebagai Kepala BGN.
”Kami sadar, kami mengakui, dan kami semua juga tahu bahwa ada masalah dalam tata kelola kami. Ada penyelewengan, ada pelanggaran hukum, dan juga ketidaktransparanan yang selama ini terjadi,” ujar Sudaryono seusai menggelar rapat perdana dengan jajaran BGN.






Komentar (0)