Houston: Harga minyak dunia melanjutkan penguatan pada perdagangan Asia, Kamis, sekaligus mencatat kenaikan untuk hari kelima berturut-turut. Penguatan dipicu meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan global setelah kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah.
Mengutip Investing.com, Kamis, 23 Juli 2026, harga minyak Brent kontrak September naik 1,7 persen menjadi USD95,62 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kontrak September menguat 1,5 persen menjadi USD88,18 per barel.
Kelompok Houthi menyatakan telah menargetkan kapal tanker Saudi ENCELA dan LAYLIA. Mereka menuduh kedua kapal tersebut melanggar blokade maritim yang baru diumumkan.
Hingga kini, otoritas Arab Saudi belum mengonfirmasi adanya kerusakan akibat serangan tersebut. Meski demikian, insiden itu menjadi eskalasi terbaru yang meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan infrastruktur energi dan jalur pelayaran global.
Peristiwa tersebut terjadi setelah Houthi sebelumnya memperingatkan akan berupaya memblokir pengiriman barang yang terkait dengan Arab Saudi melalui Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur pelayaran energi tersibuk di dunia yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Apabila gangguan berlangsung dalam waktu lama, kapal-kapal tanker berpotensi mengalihkan rute melalui Afrika bagian selatan. Kondisi ini diperkirakan memperpanjang waktu pelayaran sekaligus meningkatkan biaya pengiriman.
Baca Juga :
Harga Minyak Dunia Naik Dipicu Konflik AS-Iran, Brent Dijual USD91/BarelKekhawatiran terhadap pasokan minyak mentah juga meningkat seiring berlanjutnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi tersebut menambah ketidakpastian terhadap lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur utama ekspor minyak dunia.
Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb secara bersamaan menangani sebagian besar pengiriman minyak mentah melalui jalur laut. Karena itu, setiap gangguan di kedua kawasan tersebut menjadi perhatian utama pelaku pasar energi.
Para pedagang kini mencermati potensi meningkatnya risiko transportasi, biaya asuransi kapal, serta kemungkinan serangan lanjutan terhadap kapal tanker maupun fasilitas energi.
Serangan terbaru juga terjadi setelah beberapa kapal tanker minyak mentah Saudi yang menuju India dan Tiongkok mengubah rute pada awal pekan ini menyusul peringatan dari kelompok Houthi.
(Grafik pergerakan harga minyak. Foto: dok ICDX)
Persediaan minyak AS naik di atas perkiraan
Di sisi lain, data pemerintah Amerika Serikat (AS) menunjukkan kenaikan persediaan minyak mentah yang tidak terduga.
Badan Informasi Energi Amerika Serikat (Energy Information Administration/EIA) melaporkan persediaan minyak mentah komersial naik dua juta barel menjadi 411,7 juta barel pada pekan yang berakhir 17 Juli.
Angka tersebut berlawanan dengan ekspektasi pasar yang sebelumnya memperkirakan penurunan persediaan.
Selain itu, persediaan bensin meningkat 0,8 juta barel, sedangkan persediaan distilat bertambah 1,4 juta barel. Total persediaan minyak bumi komersial AS juga naik 11,6 juta barel.





Komentar (0)