Panda Bond Bikin RI Gak Bergantung Lagi ke Dolar AS

cnbcindonesia.com
6 jam lalu
Cover Berita
Foto: REUTERS/Jason Lee

Jakarta, CNBC Indonesia - Penerbitan obligasi berdenominasi China renminbi, Panda Bond, disebut ekonom dapat membuat Indonesia tidak lagi bergantung dengan dolar Amerika Serikat (AS).

Ekonom PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN, Myrdal Gunarto melihat secara bertahap Indonesia sudah mulai melepaskan ketergantungan akan dolar AS. Indonesia telah memulai transaksi dengan mata uang Yuan di jalur perdagangan, melalui skema local currency transaction (LCT) dan kini fiskal pemerintah pun mulai diperkuat dengan penerbitan surat utang mata uang Negeri Panda tersebut.


"Iya, karena secara bertahap saat ini transaksi LCT dengan mata uang Tiongkok juga terus meningkat," ujar Ekonom PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN, Myrdal Gunarto kepada CNBC Indonesia pada Rabu (22/7/2026).

Baca: Lengkap! Begini Isi Keputusan BI Tahan Suku Bunga 5,75%

Walaupun Indonesia mulai melepas ketergantungan terhadap dolar AS, Myrdal mengatakan tetap butuh waktu untuk menggeser penuh peran greenback sebagai alat transaksi dengan dunia internasional.

"Memang butuh waktu yang tidak sebentar untuk mata uang lain menggantikan hegemoni dolar AS dalam aktivitas transaksi internasional," ucap Myrdal.

Dirinya pun mengatakan bahwa Panda Bond sebagai keberhasilan pemerintah dalam melakukan strategi diversifikasi pembiayaan fiskal. Bonusnya adalah mengalirnya dana investor masuk ke dalam negeri.

"Panda Bond bisa menghadirkan inflow dari luar dengan biaya yang murah. Saya lihat yield indikasi dari Panda Bond sangat rendah Pak. Ini tentu juga menjadi keberhasilan pemerintah dalam melakukan strategi diversifikasi pembiayaan fiskal."

Baca: BI Rate Diramal Bisa Sampai 6,75%, Siap-Siap Bunga KPR Bakal Naik

Pemerintah akan menerbitkan obligasi berdenominasi yuan China atau yang dikenal sebagai panda bonds pada 23 Juli 2026. Diketahui, pemerintah menargetkan penghimpunan dana dari panda bonds sebesar US$ 1 miliar.

Adapun Panda Bond dinilai oleh lembaga rating yang paling kuat di China, yakni Lianhe Credit Rating telah memberikan peringkat utang itu AAA/Stable.

Myrdal mengatakan bahwa rating AAA/Stable dari Lianhe Credit Rating merupakan pencapaian yang masif dan akan ada beberapa implikasi makroekonomi dan fiskal.

"Pertama, penurunan Cost of Fund, dengan profil risiko yang dinilai sangat minim, pemerintah memiliki posisi tawar yang kuat untuk menekan yield serendah mungkin. Ini sangat krusial untuk menjaga beban bunga utang APBN tetap efisien," ucap Myrdal.

Kedua adalah diversifikasi Basis Investor dan Mata Uang. Langkah pemerintah menargetkan ekuivalen US$ 1 miliar (sekitar 7 miliar yuan) pada emisi 23 Juli 2026 adalah manuver diversifikasi yang taktis.

"Masuk ke pasar renminbi membuka akses ke pool of capital Tiongkok yang masif, sehingga kita tidak hanya bergantung pada penerbitan berdenominasi Dolar AS (Global Bond) atau Yen (Samurai Bond) di tengah volatilitas suku bunga global," ujarnya.

Terakhir, Myrdal melihat rating AAA ini mengonfirmasi bahwa fundamental ekonomi, kecukupan cadangan devisa, dan stabilitas fiskal Indonesia diakui sangat solid oleh kacamata investor global.


(ras/haa) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Persiapkan Panda Bond, Purbaya ke China Temui Menkeu China & Investor

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Sudaryono Resmi Jadi Kepala BGN, Nanik S. Deyang Jadi Ketua Dewan Pengawas | BERUT
• 13 jam lalu
0
thumb
Profil Sudaryono Mantan Wamentan Yang Diangkat Jadi Kepala BGN: Perjalanan Karier dan Kiprah Organisasi
• 19 jam lalu
0
thumb
Dubes RI Beberkan Nilai Dagang RI-China Rp3.024 Triliun, Tawarkan Indonesia Jadi Hub ASEAN
• 2 jam lalu
0
thumb
Samsung Rilis 2 Smartwatch Baru di Unpacked 2026: Galaxy Watch Ultra 2 & Watch 9
• 5 jam lalu
0
thumb
Pemerintah Siapkan Insentif Konversi Truk ke Kendaraan Listrik 
• 1 jam lalu
0
Berhasil disimpan.