VIVA – Banyak orang menganggap akhir pekan harus dimanfaatkan untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan rumah, berbelanja kebutuhan mingguan, atau mengejar aktivitas yang tertunda. Namun, sebuah penelitian justru menunjukkan hal sebaliknya. Menghabiskan akhir pekan dengan tidur lebih lama, bersantai, atau bahkan bermalas-malasan ternyata dapat membuat seseorang merasa lebih bahagia.
Temuan ini diungkap oleh pakar kebahagiaan sekaligus peneliti, Cassie Holmes. Menurutnya, mengubah cara pandang terhadap akhir pekan menjadi seperti sedang menikmati liburan dapat memberikan dampak positif terhadap kesehatan mental sekaligus meningkatkan kepuasan hidup.
Cassie Holmes menjelaskan hasil penelitiannya yang dipublikasikan dalam Harvard Business Review, melansir dari YourTango. Pada 2017, ia bersama tim peneliti melibatkan lebih dari 400 pekerja di Amerika Serikat.
Dalam eksperimen tersebut, separuh peserta diminta menjalani akhir pekan seperti biasanya. Sementara kelompok lainnya diminta memperlakukan akhir pekan layaknya sedang berlibur.
Setelah akhir pekan berakhir, para peneliti mengukur tingkat kebahagiaan masing-masing peserta. Hasilnya cukup mengejutkan.
Kelompok yang menganggap akhir pekan sebagai waktu liburan melaporkan tingkat kepuasan hidup yang lebih tinggi, suasana hati yang lebih positif, dan merasa lebih siap ketika kembali bekerja pada hari Senin dibandingkan kelompok yang menjalani akhir pekan secara biasa.
Banyak Orang Sulit Benar-benar BeristirahatMenurut Holmes, banyak orang kesulitan menikmati waktu libur karena selalu merasa harus tetap produktif.
Ia menyoroti kebiasaan para pekerja di Amerika Serikat yang dikenal jarang mengambil cuti. Bahkan, banyak dari mereka tidak memanfaatkan seluruh jatah libur berbayar yang dimiliki karena khawatir tertinggal pekerjaan atau takut dinilai kurang produktif.
Survei Pew Research Center pada Agustus 2023 juga menunjukkan bahwa sekitar 46 persen pekerja yang memiliki hak cuti berbayar ternyata tidak menggunakan seluruh jatah cutinya.
Sebagian besar mengaku takut pekerjaan menumpuk saat kembali bekerja, sementara yang lain khawatir peluang karier mereka terganggu jika terlalu sering mengambil libur.
Akibatnya, waktu istirahat yang seharusnya menjadi momen untuk memulihkan energi justru dipenuhi rasa bersalah dan kecemasan.






Komentar (0)