Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) memandang harga pangan masih belum aman. Hal ini turut berkontribusi pada inflasi nasional, yakni dari inflasi harga pangan bergejolak (volatile food inflation).
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan risiko-risiko yang ada sudah diantisipasi. BI telah menyiapkan langkah-langkah untuk menghadapi tekanan tersebut.
"Kalau kita bicara inflasi, tentu saja ada 3 komponen. Pertama adalah inflasi Utama, inflasi inti (core inflation), dan volatile food inflation. Terkait volatile food inflation, ini memang faktornya, ada yang dari kenaikan harga-harga barang secara total dan imported inflation," kata Perry dalam konferensi pers keputusan BI Rate edisi Juli 2026, Rabu (22/7/2026).
- Data Terbaru BI: Warga RI Makin Jarang Pakai Uang Tunai
- Airlangga Sambut BI Tahan Suku Bunga: Bisa Dorong Kredit
Perry mengakui volatile food inflation cukup menantang. Namun, pihaknya sudah mengantisipasi dengan melakukan sinergi bersama pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan 46 kantor perwakilan BI, di mana pihaknya melakukan Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).
"Untuk pengendalian volatile food inflation, BI bersinergi dengan pemerintahan pusat, pemerintah daerah, dan 46 kantor perwakilan BI, yaitu dalam kerangka tim pengendalian inflasi, termasuk bagaimana kami bersama pemerintah daerah dan 46 kantor perwakilan kami melakukan Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS)," terang Perry.
Dengan adanya gerakan dan sinergi ini, pihaknya berharap inflasi bisa konsisten di bawah 3% ke depannya. "Jadi kami meyakini untuk inflasi dengan berbagai faktor tersebut, itu akan terkendali dalam kisaran sasaran 2,5 plus minus 1%, di mana kami meyakini inflasi akan selalu di bawah 3%. Inflasi utama ditambah volatile food inflation, kami yakini akan tetap di bawah 3,3%," jelasnya.
(fab/fab) Add as a preferred
source on Google





Komentar (0)