Bagaimana Akses Warga Jakarta terhadap Taman dan Ruang Publik?

kompas.id
1 jam lalu
Cover Berita
Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini:

1. Warga lebih mudah mengakses taman berukuran kecil

2. Aksesibilitas ke taman publik masih timpang

3. Jumlah taman ditambah dan tidak ada jam tutup

4. Akses masih timpang, tapi minat warga tinggi

5. Komunitas menghidupkan ruang publik yang setara

Warga lebih mudah mengakses taman berukuran kecil

Berdasarkan hasil penelitian Litbang Kompas pada Juni-Agustus 2025, warga Jakarta sebenarnya memiliki akses ke taman publik yang relatif baik. Hanya saja, taman-taman yang mudah diakses ini mayoritas merupakan taman berukuran kecil dan belum dapat memenuhi kebutuhan warga secara optimal.

Temuan dari analisis spasial isochrones yang dilakukan Litbang Kompas menunjukkan, adanya perbedaan kemudahan akses dari kategori taman berdasarkan luas dan tingkat peruntukan pelayanan fasilitasnya. Lebih banyak wilayah dan populasi warga Jakarta yang dapat mengakses taman berskala lingkungan kecil-menengah, dibandingkan taman lingkungan kelurahan dan taman kota.

Sebagai contoh, di Jakarta Utara terdapat 37,4 persen wilayah dengan taman lingkungan kecil-menengah yang dapat diakses dalam waktu 10 menit dengan berjalan kaki. Sementara itu, hanya 8,2 persen wilayah dengan taman lingkungan kelurahan dan taman kota yang dapat ditempuh dalam waktu sama, sekitar 10 menit.

Kategorisasi taman tersebut didasarkan pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 5 Tahun 2008. Taman berskala kecil-menengah merujuk pada taman kecil berukuran kurang dari 250 meter persegi, taman RT dengan luas minimal 250 meter persegi, dan taman RW dengan minimal luasan 1.250 meter persegi. Sementara taman berskala lebih besar terdiri dari taman kelurahan dengan luas minimal 9.000 meter persegi, taman kecamatan minimal 24.000 meter persegi, dan taman kota minimal 144.000 meter persegi.

Dari total 2.209 taman yang tersebar di wilayah Jakarta, 1.336 taman atau 60,5 persen merupakan taman lingkungan berukuran kurang dari 1.250 meter persegi. Sebagai gambaran, taman-taman tersebut dapat berupa taman lingkungan RT/RW, sejumlah RTPRA kecil, pocket park, atau taman yang dibangun dengan memanfaatkan sisa lahan, seperti taman di bawah jembatan, simpang, atau pinggir jalan.

Baca JugaBenarkah Jakarta Kekurangan Taman?
Aksesibilitas ke taman publik masih timpang

Penelitian Litbang Kompas tentang aksesibilitas taman publik di DKI Jakarta selama Juni-Agustus 2025 juga menemukan adanya pola sebaran taman yang relatif timpang. Hal ini ditunjukkan dari indeks aksesibilitas taman yang diukur melalui metode Modified Two-Step Floating Catchment Area (M2SFCA), Moran’s I dan LISA clustering.

Singkatnya, metode itu mengukur seberapa baik akses masyarakat ke taman-taman publik yang tersebar di seluruh Jakarta berdasarkan waktu tempuh 10 menit dan besarnya kebutuhan yang dilihat dari jumlah populasi. Selain itu, pola sebaran dari aksesibilitas taman juga terlihat dari hasil penelitian ini. Skor indeks berkisar 0-100, di mana semakin tinggi skor, semakin baik aksesibilitas area tersebut bagi publik.

Hasilnya, mayoritas wilayah DKI Jakarta memiliki skor aksesibilitas berkisar 0,1 sampai 2,83. Artinya, mayoritas daerah di DKI Jakarta masih dapat mengakses taman publik dalam waktu 10 menit meskipun skor indeks tergolong rendah-menengah. Meski demikian, skor indeks aksesibilitas warga ke taman publik menunjukkan ketimpangan yang mencolok.

Beberapa kawasan, seperti area Monas, Menteng, dan Senayan, Jakarta Pusat; Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara; dan Taman Wiladatika, Jakarta Timur; memiliki skor yang cukup tinggi pada rentang 2,83 hingga 92,75. Artinya, wilayah-wilayah ini dapat mengakses taman lebih mudah dibandingkan dengan kawasan lain.

Sementara itu, beberapa kawasan di daerah Marunda dan Rorotan, Jakarta Utara; Cengkareng, Jakarta Barat; dan Pasar Rebo, Jakarta Timur; memiliki skor indeks 0 atau tidak memiliki akses ke taman. Kondisi ini menandakan adanya kesenjangan akses warga Jakarta ke taman publik. Sebagian kawasan sangat mudah menemukan taman, sedangkan di daerah lain tidak memiliki taman publik sehingga warga harus menempuh jarak yang lebih jauh untuk menemukan taman.

Baca JugaKetimpangan Akses Ruang Terbuka Publik di Jakarta
Jumlah taman ditambah dan tidak ada jam tutup

Pentingnya ruang publik tersebut sebenarnya sudah lama disadari oleh Pemprov Jakarta. Karena itu, ruang publik terus berkembang. Tahun 2024, misalnya, jumlah museum meningkat 44,4 persen, dari 54 museum pada 2023 menjadi 78 museum pada 2024.

Kebutuhan warga akan ruang terbuka hijau juga masuk 40 program hasil terbaik cepat (quick wins) 100 hari pertama Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung-Rano Karno. Mereka membuka taman 24 jam agar menjadi ruang ekspresi yang aman dan nyaman serta saluran aspirasi warga.

Lima taman sudah mulai dibuka 24 jam setiap hari sejak Jumat (16/5/2025). Taman tersebut ialah Taman Menteng dan Taman Lapangan Banteng di Jakarta Pusat, serta Taman Langsat, Taman Ayodya, dan Taman Literasi Marta Christina Tiahahu di Jakarta Selatan.

Pramono-Rano ingin menghadirkan taman yang hidup dan inklusif, serta menyegarkan wajah kota di tengah kurangnya ruang terbuka hijau. Peta ruang terbuka hijau dalam laman Jakarta Satu menunjukkan, luasan ruang terbuka hijau di Jakarta baru mencakup 35,99 kilometer persegi. Cakupannya hanya 5,45 persen dibandingkan dengan luas wilayah 660,98 km persegi (BPS Jakarta, 2025).

Cakupan tersebut terdiri dari 2.232 RTH, 1.710 jalur hijau, 1.335 taman lingkungan, 130 taman interaktif, 112 hutan kota, 110 pemakaman, 83 taman kota, dan lainnya. Paling banyak ada di Jakarta Timur 24,51 persen. Menyusul di Jakarta Selatan 23,63 persen, Jakarta Utara 19,49 persen, Jakarta Pusat 11,76 persen, Jakarta Barat 10,09 persen, dan sisanya 6,21 persen.

Baca JugaBersukaria dan Menumbuhkan Literasi di Taman-taman Jakarta yang Inklusif
Akses masih timpang, tapi minat warga tinggi

Di tengah peningkatan infrastruktur kota tersebut, terdapat jutaan warga urban yang justru mencari ”rumah ketiga” di sudut-sudut kota Jakarta. Rumah ketiga itu berupa tempat pelarian di antara rumah atau tempat tinggal dan tempat kerja. Tempat-tempat inilah yang menjadi oase komunal, mulai dari ruang terbuka hijau gratis hingga compound space modern yang menawarkan tempat untuk mencari ketenangan, bersosialisasi, atau bekerja.

Fenomena tersebut salah satunya terekam dari Survei Preferensi Kunjungan Masyarakat ke Taman Kota Jakarta oleh Pemprov Jakarta. Hasil survei menunjukkan, motivasi kunjungan warga Jakarta ke taman kota tampaknya didorong oleh faktor internal berupa kebutuhan kesehatan mental, menikmati keindahan alam, dan aktivitas berolahraga. Sementara untuk faktor eksternal, mereka mengharapkan kemudahan akses, kegiatan komunitas, acara yang menarik, serta kegiatan ekonomi.

Lebih jauh, hasil survei menunjukkan, secara spasial 82,4 persen pengunjung taman kota berdomisili di Jakarta. Terungkap pula, Jakarta Timur menjadi penyumbang terbesar, sebesar 37,9 persen. Menariknya, daya tarik taman Jakarta juga meluas hingga ke wilayah Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Bodetabek) yang menyumbang 15,6 persen pergerakan komuter, dipimpin oleh Kota Tangerang sebesar 30,9 persen.

Dari sisi pengalaman berkunjung, lima taman yang paling banyak dikunjungi adalah Tebet Eco Park (51,41 persen), Taman Lapangan Banteng (47,41 persen), Taman Literasi Blok M (41,02 persen), Taman Ismail Marzuki (37,85 persen), dan Hutan Gelora Bung Karno (35,74 persen). Sementara itu, dua kegiatan yang mendominasi di taman adalah bersantai atau jalan (66,56 persen) dan olahraga (64,54 persen)

Baca JugaKetika Komunitas Menggerakkan Ruang Publik dan Perekonomian Jakarta
Komunitas menghidupkan ruang publik yang setara

Di berbagai sudut Jakarta, sejumlah komunitas dan warga telah menghidupkan ruang publik dengan beragam cara. Ada pemandu wisata yang mengajak warga menyusuri jejak sejarah Kota Tua, komunitas baca yang menjadikan taman sebagai ruang berbagi pengetahuan, hingga pegiat taman yang rutin menghadirkan kegiatan bagi warga.

Kehadiran mereka membuat ruang publik tidak sekadar menjadi fasilitas kota, tetapi juga ruang belajar, berinteraksi, dan membangun kebersamaan. Namun, denyut kehidupan ruang publik itu belum dirasakan secara setara oleh semua warga Jakarta. Di luar kawasan pusat kota, masih banyak warga di wilayah pinggiran yang kesulitan menemukan ruang aman untuk belajar, bermain, dan berkegiatan bersama.

Bagi mereka, persoalannya bukan sekadar bagaimana menghidupkan ruang publik, melainkan bagaimana menghadirkan ruang publik itu sendiri lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Suara tersebut, antara lain, datang dari kawasan pesisir Jakarta Utara yang selama ini masih menghadapi keterbatasan fasilitas publik.

Keberadaan ruang publik, terutama taman, diyakini mampu memperkuat interaksi sosial. Kehadirannya juga dapat mengembalikan resiliensi sosial masyarakat.

Pendamping warga yang tergabung dalam Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK), Gugun Muhammad, menuturkan bahwa di tengah padatnya kawasan perkotaan, banyak warga justru merasa sendiri. ”Itu karena mereka tidak memiliki ruang untuk berinteraksi,” katanya.

Menurut Gugun, situasi tersebut rentan membuat seseorang mengalami depresi dan merasa terasing. Karena itu, upaya membangun komunikasi antarsesama warga sangat diperlukan. Di ruang publik), mereka bisa saling bertemu, berbincang, dan beraktivitas bersama. Ruang publik juga memberi kelegaan serta mampu mengurangi ketegangan sosial.

Baca JugaJakarta 499 Tahun, Komunitas Pinggiran Menagih Ruang Publik yang Setara

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Makassar Gunakan Drone Awasi Tata Ruang Kepulauan
• 1 jam lalu
0
thumb
Lawan Timnas Indonesia, Pelatih Singapura Gavin Lee Turunkan Kekuatan Penuh dalam Skuad Piala AFF 
• 1 jam lalu
0
thumb
Pengangguran di Jakarta Turun Jadi 6,03 Persen, Kini 5,2 Juta Warga Bekerja
• 4 jam lalu
0
thumb
Bos Sindikat Penjual Bayi dari Indonesia ke Singapura Divonis 7 Tahun Penjara
• 4 jam lalu
0
thumb
Cuaca Jakarta Hari Ini 22 Juli: Cerah Seharian, Hujan Ringan Diprediksi Turun Malam Hari
• 11 jam lalu
0
Berhasil disimpan.