Satgas Rekonsiliasi Dibentuk untuk Redam Konflik Berdarah di Adonara

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

KUPANG, KOMPAS — Satuan tugas dibentuk secara khusus untuk menangani konflik berdarah di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Di bawah koordinasi kepolisian, satuan tugas yang melibatkan juru damai lokal, tokoh adat, pemerintah daerah, Badan Pertanahan Nasional, pemuka agama, serta kalangan muda akan bersinergi mewujudkan rekonsiliasi.

"Nanti semua pihak itu, dengan peran masing-masing, bekerja untuk mendorong proses rekonsiliasi. Proses ini sudah dimulai," kata Kepala Polres Flores Timur Ajun Komisaris Besar Adhitya Octorio Putra melalui sambungan telepon, Rabu (22/7/2026).

Menurut Adhitya, pelibatan tokoh agama sangat penting mengingat pengaruh sosial mereka yang besar di tengah masyarakat. Tingkat kepatuhan warga terhadap para pemuka agama juga tinggi sehingga pesan-pesan perdamaian diharapkan terus disampaikan dari mimbar keagamaan.

Juru damai lokal pun memegang peran yang tidak kalah penting. Berbekal integritas dan pengaruh yang dimiliki, mereka diterima oleh berbagai kelompok masyarakat. Berkaca pada penyelesaian konflik-konflik sebelumnya di Pulau Adonara, juru damai mampu mempertemukan pihak-pihak yang bertikai dalam satu forum untuk mencari jalan damai.

Sementara itu, Badan Pertanahan Nasional dilibatkan untuk membantu memecahkan kebuntuan penyelesaian sengketa lahan. Konflik yang terjadi dipicu oleh persoalan batas dan kepemilikan tanah yang telah berlangsung lama tanpa penyelesaian.

Upaya rekonsiliasi diawali dengan kunjungan Wakil Kepala Polda NTT Brigadir Jenderal Faizal pada Selasa (21/7/2026). Secara terpisah, Faizal menemui kedua kelompok yang bertikai. Menurut Adhitya, masing-masing pihak telah menunjukkan niat untuk berdamai.

Serial Artikel

Wakapolda NTT ke Adonara, Upaya Rekonsiliasi Konflik Kembali Dimulai Lagi

Pihak-pihak yang berkonflik ditemui secara terpisah. Desa-desa sekitar pun diminta proaktif dalam rekonsiliasi.

Baca Artikel

Sembari proses rekonsiliasi berjalan, lanjut Adhitya, aparat memastikan tidak terjadi bentrokan susulan di lokasi konflik. Sebanyak sekitar 200 personel gabungan Polri dan TNI disiagakan di lapangan serta terus melakukan patroli dialogis bersama masyarakat.

Seperti diberitakan sebelumnya, konflik yang dipicu sengketa lahan antara Desa Waiburak dan Desa Narasaosina di Kecamatan Adonara Timur menewaskan tiga orang, melukai puluhan warga, serta mengakibatkan puluhan rumah terbakar.

Sementara itu, budayawan Adonara Michael Boro Bebe mengatakan, penyelesaian konflik di Adonara harus bertumpu pada pendekatan budaya lokal. Menurut dia, ritus perdamaian dalam tradisi Adonara, seperti naju baya dan mela sare hodi limat, masih relevan untuk menjadi jalan rekonsiliasi.

"Ritus-ritus tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan lahir dari refleksi bersama untuk mengakhiri konflik secara damai. Dewasa ini mungkin banyak generasi muda yang belum lagi memahami kearifan tersebut. Padahal, generasi sekarang harus berani tampil sebagai pejuang kemanusiaan demi menciptakan perdamaian," katanya.

Ia juga mendorong kalangan muda untuk mengesampingkan kepentingan pribadi, suku, maupun golongan demi terciptanya perdamaian. Michael optimistis konflik dapat diselesaikan karena pengalaman menunjukkan berbagai konflik serupa di Pulau Adonara pada akhirnya dapat diakhiri melalui rekonsiliasi.

Adonara merupakan pulau vulkanik seluas sekitar 509 kilometer persegi di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Pulau yang dihuni sekitar 110.000 jiwa itu berulang kali mengalami konflik antarkampung yang tidak jarang berujung pada pembunuhan. Sengketa lahan menjadi penyebab yang paling sering memicu pertikaian.

Dalam catatan Kompas, citra Adonara sebagai wilayah yang keras juga pernah dicatat antropolog asal Jerman, Ernst Vatter. Dalam bukunya Ata Kiwan, Vatter menyebut Adonara sebagai "pulau para pembunuh" berdasarkan pengamatannya saat melakukan penelitian pada dekade 1930-an.

Saat itu, di Larantuka yang kini menjadi ibu kota Kabupaten Flores Timur, Vatter mendapati banyak terdakwa kasus pembunuhan yang menjalani persidangan. Sebagian besar perkara tersebut berakar pada sengketa lahan.

Bagi sebagian masyarakat Adonara, sejengkal tanah dipandang sebagai warisan yang harus dipertahankan hingga titik darah penghabisan. Dalam pandangan tradisional yang pernah berkembang, perang menjadi cara untuk menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah, dengan kemenangan dianggap sebagai penentu kebenaran.

Serial Artikel

”Adu Darah” di Adonara yang Seakan Tak Berujung, Tiga Orang Tewas

Antropolog Eropa pernah menyebut Adonara sebagai pulau para pembunuh. Stigma itu masih melekat sampai hari ini.

Baca Artikel


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Hadir Perdana di Indonesia, SaloneSatellite Permanent Collection akan Tampil di IDD PIK2 September 2026
• 19 jam lalu
0
thumb
Meski Tak Semesra Dulu, Ini Cara Hubungan Tetap Harmonis Selepas Honeymoon Phase
• 20 jam lalu
0
thumb
Ingatkan TNI-Polri Harus Profesional, Prabowo: Jangan Ada Loyalitas Korps yang Sempit
• 7 jam lalu
0
thumb
Polisi di Wonogiri Lecehkan Putri Rekan Kerjanya, Kirim Gambar Porno dan Foto Kelamin
• 15 jam lalu
0
thumb
Prabowo ke Perwira Remaja TNI-Polri: Jabatan Hanya Titipan, Pangkat Akan Berlalu
• 6 jam lalu
0
Berhasil disimpan.