Soroti Mental Anak Ruben Onsu dan Sarwendah, Psikolog Singgung Soal Tekanan Ganda

grid.id
3 jam lalu
Cover Berita

Grid.ID - Mental Anak Ruben Onsu dan Sarwendah agaknya menjadi sorotan publik. Belum lama ini, seorang psikolog pun buka suara terkait hal itu hingga singgung soal tekanan ganda.

Konflik antara Ruben Onsu dan Sarwendah tak ayal berpengaruh ke anak-anak mereka. Hal itu terbukti dari sikap Thalia dan Thani saat bertemu dengan ayah mereka belum lama ini.

Ya, setelah lama tak bertemu, mereka akhirnya bersua sebelum Ruben Onsu berangkat umroh. Namun, pertemuan mereka justru menuai sorotan.

Pasalnya, baik Thalia maupun Thania justru tampak canggung saat bertemu ayah mereka. Bahkan, mereka tampak kaku saat berpelukan dan bersalaman.

Diwartakan Grid.ID pada Rabu (22/7/2026), kuasa hukum Ruben Onsu, Minola Sebayang mengaku tak heran melihat hal itu. Pasalnya, hal itu dipengaruhi oleh lingkungan tempat tinggal mereka.

Terlebih, beberapa kali Sarwendah menyebut sang mantan suami dengan sebutan yang kurang pantas. Sehingga hal itu membuat anak-anak menjaga jarak.

"Dia jadi canggung ketemu ayahnya, ya gimana enggak canggung?" ujarnya.

"Kalau kemudian dia merasa bahwa ayahnya itu bukanlah seseorang yang patut dibanggakan karena cang cong cang cong, diketawain semua, ya lama-lama anak juga akan menjaga jarak," lanjutnya.

Minola Sebayang menilai hal ini normal dirasakan oleh anak-anak Ruben. Terlebih, di tengah konflik yang sedang menjadi sorotan publik.

"Itu normal, itu lumrah ya." sambungnya.

Sementara itu dikutip dari TribunSeleb pada Rabu (22/7/2026), seorang psikolog yakni Rahma Kusuma, yang juga berprofesi sebagai dosen di Program Studi Psikologi Universitas Islam Mulia Yogyakarta menyoroti mental anak Ruben Onsu dan Sarwendah. Menurutnya, anak-anak yang orang tuanya bercerai berpotensi mengalami tekanan ganda.

 

Namun, dirinya menegaskan bahwa ia tak melakukan asesmen langsung kepada kedua anak Ruben Onsu. Kendati begitu, secara umum hal ini kerap terjadi pada anak yang orang tuanya bercerai.

"Perlu dipahami bahwa saya tidak melakukan asesmen langsung terhadap keluarga yang bersangkutan, sehingga saya tidak dapat memberikan penilaian mengenai kondisi psikologis individu tertentu," ujarnya.

"Namun, secara umum, riset psikologi perkembangan menunjukkan bahwa anak yang berada dalam situasi perceraian dan konflik orang tua yang berkepanjangan dapat menghadapi tantangan psikologis yang cukup kompleks," jelasnya.

Tingkat konflik yang berlangsung pada kedua orang tua memang penting diperhatikan. Terlebih setelah mereka bercerai.

Menurut Rahma hal ini akan sangat berpengaruh pada anak-anak. Pasalnya, mau tak mau, anak akan terpapar langsung dengan konflik yang terjadi.

"Yang perlu diperhatikan bukan semata-mata perceraian itu sendiri, melainkan tingkat konflik yang terus berlangsung dan bagaimana anak terpapar konflik tersebut," jelasnya.

Dirinya pun menyoroti kasus yang terjadi pada publik figur. Menurutnya, anak tersebut akan mendapatkan tekanan ganda dari konflik yang terjadi.

Pasalnya, selain adanya perceraian dari orang tuanya. Mereka harus menghadapi pemberitaan dan tekanan dari ruang publik yang lebih luas.

Seperti anak-anak Sarwendah, dimana kedua putrinya tampak canggung saat bertemu dengan sang ayah di depan media. Hal itu merupakan tekanan yang terjadi pada mental anak Ruben Onsu.

"Dalam kasus keluarga publik figur, anak dapat menghadapi dua tekanan sekaligus. Pertama, tekanan yang muncul akibat perubahan struktur keluarga setelah perceraian," ujarnya.

"Kedua, tekanan dari ruang publik dan media sosial yang membuat konflik keluarga tidak hanya disaksikan oleh anggota keluarga, tetapi juga oleh jutaan orang," sambung dia.

 

Rahma juga menegaskan bahwa hal ini sulit dihadapi oleh anak usia 7-11 tahun. Bahkan, untuk memahaminya pun mereka masih kesulitan.

"Bagi anak usia sekitar 7 dan 11 tahun, situasi ini bukanlah hal yang mudah untuk dipahami dengan utuh," jelasnya.

"Anak pada usia tersebut masih berada dalam tahap perkembangan di mana kebutuhan akan rasa aman, stabilitas, dan kepastian hubungan dengan figur pengasuh sangat penting," ungkapnya.

Selain itu, menurutnya, pemberitaan tentang konflik orang tua mereka juga akan menimbulkan kebingungan untuk anak-anak. Pasalnya, mereka tengah kesulitan untuk mencerna apa yang terjadi pada hidupnya.

"Ketika konflik orang tua berlangsung secara terbuka dan terus muncul di media massa, maka anak dapat mengalami kebingungan mengenai apa yang sebenarnya terjadi dalam keluarganya," pungkasnya. (*)

Artikel Asli


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Beredar Undangan Rapat Paripurna Tanpa Bupati Gowa, Politisi PAN Harap DPRD Hargai Kepala Daerah
• 10 jam lalu
0
thumb
Lantik Perwira Remaja TNI-Polri, Prabowo: Jangan Tergoda Korupsi, Narkoba, Judi
• 7 jam lalu
0
thumb
PSIM Kenalkan Tiga Manajer Baru, Eks Official Timnas Indonesia Masuk Jajaran Manajemen
• 32 menit lalu
0
thumb
Polda Metro Jaya Selidiki Laporan Dugaan Penghinaan terhadap Wartawan oleh Hotman Paris
• 22 jam lalu
0
thumb
Kejagung Tangani Kasus Febrie Adriansyah Secara Transparan, Dukungan Publik Jadi Kunci!
• 18 jam lalu
0
Berhasil disimpan.